Bahasa Walikan Khas Malang Ternyata Kode Rahasia Para Pejuang Kemerdekaan

5 Min Read
Public outdoor art installation: a blue cube covered in white binary digits balanced on its edge, resting above a blue pedestal with bold white typography, in a plaza with trees and buildings in the background.
Sebuah landmark di Kota Malang yang menggunakan bahasa walikan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Bagi orang luar Malang, mendengar percakapan warga setempat terkadang bisa membuat bingung. Kata-kata seperti “ojir”, “kadit”, atau “tahes”, terdengar asing.

Tetapi bagi warga Malang istilah tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang digunakan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Bahasa tersebut dikenal sebagai bahasa walikan atau oleh masyarakat setempat disebut “Lawikan Kera Ngalam”. 

Identitas Budaya Lintas Generasi

Bahasa khas  Malang ini bukan sekadar permainan membalik susunan huruf, melainkan menjadi identitas budaya yang terus dipertahankan lintas generasi.

Baru-baru ini bahkan muncul gerakan untuk mendorong bahasa walikan ini masuk dalam pelajaran Muatan Lokal untuk sekolah di Malang.

Tujuannya agar bahasa walikan ini tetap dikenal dan digunakan generasi muda sehingga tetap lestari. Lalu seperti apa bahasa walikan itu? Bagaimana pula bahasa ini bisa muncul?

Dalam jurnal Lawikan Kera Ngalam di Tengah Arus Globalisasi karya Iin Rachmawaty dari Universitas Airlangga, dikutip mabur.co, Jumat (2/10/2026), disebutkan bahwa bahasa walikan menjadi salah satu ciri khas budaya Malang yang masih bertahan di tengah masuknya berbagai pengaruh budaya luar.

Bahasa ini bahkan menjadi penanda identitas bagi masyarakat asli Malang. Ketika Arek Malang bertemu di berbagai daerah, penggunaan bahasa walikan sering menjadi cara untuk mengenali sesama warga Malang sekaligus membangun kedekatan.

Berawal dari Masa Perjuangan Kemerdekaan

Kemunculan bahasa walikan sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa perang gerilya setelah Proklamasi Kemerdekaan, bahasa walikan digunakan oleh para pejuang di Malang sebagai alat komunikasi rahasia agar pesan-pesan penting tidak mudah dipahami oleh pihak penjajah.

Saat itu banyak mata-mata Belanda yang juga memahami bahasa Jawa. Karena itu, para pejuang membutuhkan cara komunikasi yang berbeda agar strategi perjuangan tidak mudah diketahui lawan.

Saat itu bahasa walikan digunakan sebagai media untuk membedakan antara kawan dan lawan. Meski  begitu dalam perkembangannya bahasa ini terus berkembang dan memiliki banyak kosakata baru.

Seiring waktu, bahasa tersebut tidak hanya digunakan dalam situasi perjuangan, tetapi berkembang menjadi bahasa pergaulan masyarakat Malang.

Tidak Sekadar Membalik Kata

Salah satu hal yang membuat bahasa walikan unik adalah anggapan bahwa semua katanya hanya dibentuk dengan membalik huruf. 

Padahal, menurut penelitian Iin, bahasa walikan memiliki aturan sosial dan perkembangan kosakata tersendiri.

Misalnya kata “Malang” dibalik menjadi “ngalam”, sedangkan “Arek Malang” menjadi “kera ngalam”. Namun tidak semua kata mengikuti pola pembalikan sederhana.

Contohnya kata “saudara”. Jika hanya dibalik, kata tersebut seharusnya menjadi “araduas”. Namun masyarakat Malang tidak menggunakan istilah itu. Mereka menggunakan kata “arades”.

Begitu juga kata “wanita cantik”. Jika hanya menggunakan pola balik kata, seharusnya menjadi “kodew uya”. Namun dalam bahasa Malangan dikenal istilah “kodew sarik”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa walikan bukan sekadar teknik membalik kata, tetapi merupakan bahasa pergaulan yang terbentuk melalui kesepakatan sosial masyarakat Malang.

Kosakata Unik dalam Bahasa Walikan

Sejumlah kosakata bahasa walikan hingga kini masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Kata “tahes” berarti sehat, “kadit” berarti tidak, “ojir” berarti uang, sedangkan “ebes” digunakan untuk menyebut ayah.

Istilah “kera ngalam” yang berarti Arek Malang adalah istilah yang paling populer dan semakin dikenal luas serta menjadi identitas maupun kebanggaan bagi masyarakat Malang.

Namun, penggunaan kata ternyata juga memiliki konteks tertentu. Misalnya kata “ebes” dapat digunakan untuk menyebut ayah kandung atau orang yang dituakan dan dianggap dekat.

Sementara untuk menyebut orang tua yang belum dikenal, masyarakat Malang menggunakan istilah “genaro kewut”.

Perbedaan penggunaan tersebut menunjukkan bahwa bahasa walikan tidak hanya memiliki kosakata unik, tetapi juga memiliki aturan dalam konteks sosial.

Meski berasal dari masa perjuangan, bahasa walikan tetap bertahan hingga sekarang. Generasi muda Malang masih menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan sehari-hari bersama teman sebaya.

Bahasa ini juga menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat Malang. Banyak warga tetap menggunakan bahasa walikan meskipun berada di luar daerah sebagai penanda asal-usul mereka. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar