Lambang Keraton Yogyakarta Pernah Mirip Kerajaan Belanda, Ada Mahkota dan Singa!

5 Min Read
Ornate gold heraldic panel with a crown, the monogram 'HB VII', and two lion supporters on a red background.
Hiasan lambang Keraton Yogyakarta pada masa Sultan Hamengku Buwono VII. (Foto: akun X @kratonjogja)

Mabur.co – Keraton Yogyakarta yang saat ini genap berusia 270 tahun ternyata pernah menggunakan lambang kebesaran yang sangat mirip dengan sejumlah kerajaan di Eropa.

Seiring perkembangan zaman, lambang tersebut kemudian mengalami beberapa kali perubahan hingga memiliki bentuk yang dikenal saat ini atau biasa disebut Praja Cihna pada sekitar 1921.

Kesultanan Yogyakarta sendiri berdiri pada 1755 setelah adanya Perjanjian Giyanti. Dilansir dari situs blog.ullensentalu.com, Rabu (7/10/2026), pada masa ini Kesultanan Yogyakarta masih menggunakan lambang lama yang sangat dipengaruhi oleh budaya Eropa.

Pengaruh Budaya Eropa Sangat Kuat

Pada masa itu pengaruh budaya Eropa termasuk Kerajaan Belanda memang masih sangat kuat di Nusantara. Hal itu banyak memengaruhi sistem kehidupan di masyarakat tak terkecuali di lingkungan Keraton Yogyakarta. 

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII lambang kerajaan pecahan Mataram Islam ini bahkan nampak masih menggunakan gaya atau bentuk lama.

Emerald-blue background with a red shield and gold wings emblem, likely a formal Indonesian insignia
Praja Cihna lambang resmi Keraton Yogyakarta. (Foto: akun X @kraton jogja)

Hal itu terlihat pada sejumlah simbol elemen hias di lingkungan keraton yang nampak memakai huruf latin, mahkota kerajaan Eropa, serta dua figur singa di sisi kanan dan kirinya.

Bentuk tersebut memiliki kemiripan dengan lambang Kerajaan Belanda yang juga menampilkan mahkota, perisai, dan dua singa.

Pengaruh itu antara lain terlihat pada ornamen tandu Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang dibuat pada 1877.

Hiasan berupa pahatan tersebut nampak menampilkan sketsa huruf H & B VII di bagian tengah dengan lambang bergaya Eropa.

Perubahan besar terjadi pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Dilansir ullensentalu.com sekitar 1921, muncul gagasan untuk membuat lambang keraton yang lebih mencerminkan cita rasa seni dan budaya Jawa. 

Pengembangan Lambang Baru

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII kemudian melibatkan seniman serba bisa sekaligus menantu Sri Sultan Hamengku Buwono VII, KRT Yosodipuro, dalam pengembangan lambang baru.

Dari sinilah lahir bentuk Praja Cihna yang menjadi dasar lambang Keraton Yogyakarta hingga sekarang. Lambang baru ini terlihat menghilangkan unsur mahkota bergaya Eropa, huruf latin hingga gambar singa. 

Bentuk Praja Cihna tersebut terlihat pada hiasan dinding Bangsal Manis. Lambang itu sekaligus memuat sengkalan memet atau penanda tahun pembuatan.

Sengkalan tersebut berbunyi “Kaluwihaning Yaksa Salira Aji”. Kaluwihaning sendiri digambarkan dengan daun kluwih yang bernilai 1.

Yaksa berupa kemamang bernilai 5. Salira berupa binatang melata atau naga bernilai 8. Sementara Aji diwujudkan melalui lambang raja Ha-Ba yang bernilai 1.

Lambang Keraton yang Digunakan hingga Kini

Rangkaian itu menunjukkan tahun 1851 Saka atau 1921 Masehi yang menjadi penanda tahun pembuatan lambang kebesaran keraton Kesultanan Yogyakarta tersebut. 

Hingga kini lambang kebesaran Keraton Yogyakarta tersebut masih digunakan dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Yogyakarta. Dengan dipasang di berbagai tempat maupun benda seperti hiasan, cinderamata, dan sebagainya. 

Nama Praja Cihna sendiri diambil dari bahasa Sansekerta dan tidak terkait dengan negara Cina atau Tiongkok.

“Praja” berarti abdi negara, sementara “Cihna” berarti sifat sejati. Sehingga secara utuh dapat dimaknai sifat sejati seorang abdi negara.

Gilded ceremonial chair back with red velvet round emblem showing a gold crown and wings.
Hiasan Cihnaning Pribadi pada sebuah bangku atau singgasana milik Sultan. (Foto: akun X @kraton jogja)

Seperti halnya lambang negara lainnya, Praja Cihna memilik makna filosofis yang mendalam. Mahkota atau songkok melambangkan watak ksatria dan sifat seorang raja. Sumping atau perhiasan di atas telinga melambangkan perlindungan bagi keselamatan keraton.

Sorot cahaya atau praba melambangkan pribadi yang mampu menegakkan kehormatan Jawa dan Mataram.

Sayap atau lar menggambarkan cita-cita yang tinggi. Sedang tameng melambangkan keberanian yang tetap disertai kewaspadaan dalam membela kebenaran.

Sementara aksara Jawa “Ha” dan “Ba” merupakan singkatan dari Hamengku Buwono, gelar sultan yang bertakhta di Kesultanan Yogyakarta. Bunga padma atau teratai melambangkan kehidupan dunia yang menjadi dasar kehidupan akhirat.

Adapun sulur atau lajer menggambarkan kehidupan yang terus tumbuh dan berkelanjutan. Sulur yang merambat menjadi simbol harapan agar keraton dan Sultan terus berlangsung dengan penuh wibawa. Dan warna merah melambangkan keberanian, sedangkan emas melambangkan keagungan.

Tak banyak yang tahu, lambang Kesultanan Yogyakarta sendiri ternyata selama ini terbagi atas dua jenis. Selain terdapat lambang resmi Kesultanan, ada pula lambang pribadi milik raja atau Sultan yang sedang bertakhta.

Lambang khusus Sultan yang sedang berkuasa ini disebut Cihnaning Pribadi. Biasanya di bawah aksara Jawa Ha dan Ba terdapat tambahan huruf Murda di bawahnya yang menunjukkan angka urutan Sultan. 

Lambang pribadi ini biasanya akan ditemukan di berbagai benda peninggalan Sultan, mulai dari barang-barang seperti  perabot rumah tangga hingga karya seni dan sebagainya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar