Mabur.co – Yogyakarta selama ini dikenal sebagai Kota Gudeg. Hampir semua wisatawan asal luar daerah selalu datang ke Yogya untuk menikmati kuliner tradisional gudeg.
Namun bagaimana jika suatu saat nanti gudeg ala Yogya ternyata tak lagi menggunakan nangka muda sebagai bahan utamanya dan diganti manggar atau bunga kelapa atau bahkan gedebok/batang pisang?
Hal itu mungkin terdengar mustahil. Namun tak banyak yang tahu jika saat ini nangka muda yang merupakan bahan utama gudeg sudah mulai menjadi barang langka di Yogyakarta.
Kelangkaan itu terjadi akibat tingginya kebutuhan nangka muda atau biasa disebut gori untuk memenuhi permintaan bahan baku kuliner gudeg. Namun tidak diimbangi ketersediaan stok di pasaran.
Didatangkan dari Luar Yogyakarta
Akibatnya sebagian besar kebutuhan nangka muda untuk pembuatan gudeg kini harus didatangkan dari luar wilayah Yogyakarta.
Dikutip dari Harian Jogja, Rabu (7/10/2026), kebutuhan harian gori atau nangka muda di Yogyakarta mencapai 9 ton. Sementara ketersediaan di tingkat lokal hanya mencapai 2 ton saja.
Putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara bahkan menyebut, akibat kelangkaan pohon nangka di Yogyakarta ini, tak sedikit masyarakat mencari alternatif bahan pengganti nangka muda dengan bahan lain seperti gedebok atau batang pisang untuk membuat gudeg.
Persoalan minimnya ketersediaan bahan baku gudeg di Yogyakarta ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah lama terjadi.
Alih Fungsi Kebun
Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Mohammad Na’iem, mengatakan, salah satu penyebab kelangkaan gori ini terjadi akibat alih fungsi kebun nangka menjadi permukiman.
Hal itu membuat tanaman nangka semakin langka dan sulit ditemukan. Berganti dengan perumahan, ruko, hotel, atau pun tanaman lain yang berfungsi sebagai hiasan taman.
Karena itu, pengembangan kembali kebun nangka menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan gudeg yang sudah menjadi identitas Yogyakarta.
Sejumlah pihak sebenarnya sudah mulai melakukan upaya ini dengan membuka beberapa lokasi kebun budidaya nangka di sejumlah tempat seperti Gunungkidul.
Lumbung Mataraman Berbasis Danais
Upaya yang juga masih dapat dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan program Lumbung Mataraman yang mendapat dukungan Dana Keistimewaan (Danais) DIY.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, menyebut hingga tahun 2026, Lumbung Mataraman telah menyebar di 23 kalurahan, dan 300 gabungan kelompok tani di DIY.
Jumlah yang sangat besar tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan nangka sebagai komoditas prioritas di wilayah yang sesuai.
Pemerintah dapat membantu penyediaan bibit, pendampingan budidaya hingga pengembangan kebun, sementara pelaku usaha gudeg menjadi tujuan pemasaran hasil panen.
Terlebih, program penguatan ekonomi produktif Lumbung Mataraman ini memiliki kemampuan untuk menyalurkan dana permodalan bergulir mencapai Rp500 juta per kalurahan.
Dengan memanfaatkan program yang sudah berjalan semacam ini, pemerintah tidak perlu membuat skema baru. Lumbung Mataraman bisa sekaligus diarahkan menjadi lumbung bahan baku gudeg.
Kunci keberhasilan program ini hanya satu: titah atau arahan penguasa Yogyakarta itu sendiri: Sri Sultan. ***
