Rongeh jleg tumiba
gagaran santosa
wartane meh teka
sikara karoda
tatage tan katon
barang-barang ngerong
saguh tanpa raga
katali katawar
dadal amekasi
tanda murang tata
Purwa Wacana
Di tengah pusaran zaman yang kian riuh, peradaban manusia tampak tengah kehilangan arah pandangnya. Sistem global yang dominan perlahan mengikis kedalaman jiwa, menjebak manusia dalam jebakan One-Dimensional Man (Manusia Satu Dimensi) seperti yang pernah diperingatkan oleh Herbert Marcuse.
Manusia hari ini tak lagi memiliki kebebasan autentik dalam menentukan pilihan hidupnya, sebab seluruh gerak dan keputusannya telah disetir oleh sistem besar yang mengepung dari segala penjuru.
Lewat gempuran media mainstream yang sarat kepalsuan dan nilai-nilai profan, ilusi diciptakan hingga dunia maya dianggap sebagai kenyataan, sementara hakikat dunia nyata justru terlempar dan terabaikan di tempat sampah peradaban.
Keprihatinan atas krisis kesadaran diri, rusaknya sistem nagari, serta carut-marutnya sistem jagad ini sejatinya telah diwanti-wanti oleh para leluhur Nusantara melalui piwulang dan piweling yang terangkum dalam “JANGKA”. Ajaran cakra manggilingan mengingatkan bahwa jagad ini bergerak dalam siklus perputaran waktu yang pasti.
Sebagaimana termaktub dalam Jangka Jayabhaya, siklus besar cakra manggilingan berlangsung selama 2.100 tahun, yang terbagi menjadi tiga siklus tengahan (masing-masing 700 tahun) serta 21 siklus kecil (per 100 tahun).
Siklus tengahan 700 tahun pertama —masa penciptaan peradaban yang dipengaruhi dominasi Sang Hyang Brahma— ditandai dengan peristiwa Murcha Ilang Kabrahmanan, hilangnya nilai-nilai luhur kearifan yang kemudian direspons oleh alam melalui letusan Gunung Merapi (929 M) hingga pusat peradaban Medang Ri Poh Pitu digeser ke Jawa Timur.
Masuk pada siklus tengahan 700 tahun kedua, seiring menguatnya Wangsa Isana, peran Dewa Wisnu menjadi dominan dalam memelihara dan menata peradaban.
Puncak pencapaian peradaban Nusantara ini ditandai dengan Kejayaan Majapahit, yang sekaligus menandai titik balik kedua dari siklus cakra manggilingan.
Siklus tengahan ketiga yang diawali sejak runtuhnya Majapahit dengan sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bhumi (1400 Saka). Pada era pungkasan ini, kerusakan telah merambah ke seluruh sendi kehidupan.
Eyang Jayabhaya memprediksi bahwa penghujung siklus besar pertama pada tahun 2100 ditandai dengan kondisi Rusak Acur Ajining Panembah—saat ketika sains, filsafat, agama, dan berbagai tata sistem kehidupan tak lagi mampu mengantarkan manusia pada kesejatian.
Dalam situasi yang carut-marut ini, peran peleburan Dewa Siwa sangat dibutuhkan untuk melebur kepalsuan dan mendaur ulang alam.
Ini adalah momentum bagi manusia untuk kembali “pulang”—sebuah proses kesadaran untuk senantiasa eling lan waspada menuju Sangkan Paraning Dumadi.
Madya Wacana
Dunia hari ini bergerak bak gabah den interi—terombang-ambing, diayak, dan diempas oleh ketidakpastian. Dalam situasi guncang seperti ini, keheningan rasa untuk sadar posisi dan sadar diri menjadi pijakan utama agar jiwa tidak hanyut dalam arus carut-marut zaman.
Arus besar peradaban modern kini didominasi oleh “Jagat Maya”, sebuah ruang yang digerakkan oleh dinamika tiga ksatria representasi cahaya—Tejamaya, Ismaya, dan Manikmaya.
Konstelasi kosmologis ini bermula saat Ndhog Jagat menetas, mempertemukan tiga daya utama dalam takdirnya masing-masing. Namun, dalam perjalanan dharmanya, eksistensi dan pengaruh saling berebut dominasi.
Hasrat untuk tampil paling unggul justru menyingkap sisi-sisi kekurangan serta kerapuhan, hingga benturan tak lagi dapat dihindarkan.
Akibat peristiwa menelan Gunung Mandhala, Ismaya dan Tejamaya harus meluruhkan keagungan cahayanya dan turun menyatu dengan alam dunia:
- Ismaya menjelma sebagai Semar, mengampu kearifan dan menguasai ruang di Dunia Timur.
- Tejamaya menjelma sebagai Togog, mendampingi dinamika dan dinamisme di Dunia Barat.
- Manikmaya (Batara Guru) bertakhta sebagai Sang Hyang Jagad Nata, menetapkan tata kelola serta menguasai marcapada dan alam kadewatan.
Kini, peran Jagat Maya seolah melampaui kekuasaan Sang Hyang Tunggal. Simulakrum dan ilusi digital mengambil alih kesadaran manusia, menggeser nilai yang sejati menjadi profan.
Manusia kerap lupa akan posisinya di hadapan alam dan Sang Pencipta, tersedot dalam pusaran perebutan pengaruh yang semu.
Waktu (Kala) dan Ruang (Kali) adalah dua entitas yang tak dapat dipisahkan dalam kosmologi Nusantara. Ketika bicara tentang waktu, kita sejatinya sedang menelusuri jejak ruang tempat waktu itu mewujud.
Di bumi Nusantara, ruang senantiasa dipahami dalam aspek feminin —sebuah rahim kosmis (yoni) yang menampung, melahirkan, sekaligus memproses setiap siklus keberadaan.
Pemahaman tentang ruang dan waktu ini terangkum indah dalam konsep Tri-Kali:
- Kali Swara: Masa ketika zaman dipenuhi oleh gema, wacana, dan kebingungan nilai.
- Kali Yoga: Masa spiritualitas dan pencarian penyelarasan diri dalam keterbatasan.
- Kali Sangara: Masa lebur dan pembersihan kosmis, di mana apa yang rapuh dan palsu dihancurkan untuk memberi jalan bagi tata peradaban baru.
Dalam spiritualitas Jawa dan Nusantara, dimensi feminin ruang ini terpersonifikasi secara mendalam melalui Dewi Kali —sakti dari Dewa Siwa (Dewi Parwati).
Berkulit hitam legam, berwajah menyeramkan dengan lidah terjulur, serta berkalungkan tengkorak. Kali bukanlah simbol kejahatan, melainkan manifestasi amarah suci (rodra) yang memusnahkan dosa, kebatilan, dan kebodohan batin (avidya).
Kali adalah Ibu Pelindung Alam Semesta yang memotong ikatan ilusi (maya) agar keseimbangan kosmik tetap terjaga.
Sementara itu, Kala adalah wujud maskulin waktu dan kematian. Sebagai personifikasi waktu yang mengarahkan segala bentukan fisik menuju ketiadaan (pralaya).
Kala mengingatkan bahwa tak ada yang abadi di marcapada. Dalam tradisi Siwaism, ia tampil sebagai Kala Bhairawa atau Kalagni Rudra —api pembersih zaman; sementara dalam Waisnawa, ia mewujud sebagai Narasinga yang merobek kesombongan tirani.
Pertemuan Kala dan Kali di masa sekarang adalah cermin dari kondisi zaman yang sedang diguncang oleh arus perubahan mendasar.
Memahami Kala dan Kali membuat manusia sadar akan batas dirinya —bahwa waktu terus berjalan dan ruang senantiasa menuntut penataan kembali (Nata Jagad).
Wasana Wacana
Di sinilah pentingnya Mantra Jagad Nata_Nata Jagad. Bukan sekadar ritual berkumpul, melainkan sebuah panggilan spiritual untuk menata kembali tata kosmos (Nata Jagad) yang diawali dari keberanian menata diri sendiri (Nata Diri).
Memahami kembali lakon Semar, Togog, dan Batara Guru (Sang Hyang Jagad Nata) membantu kita mendudukkan kembali mana yang hakiki dan mana yang sekadar bayangan.
Melalui pemaknaan mendalam akan siklus ruang dan waktu ini, Srawung Paseduluran Anggara Kasih kembali mengajak seluruh jiwa untuk mengheningkan diri dalam perhelatan spiritual Mantra Jagad Nata: Hari / Tanggal: Senin, 19 Oktober 2026 di Pantai Pelangi.
Di sudut Pantai Pelangi, tempat bertemunya daratan (ruang) dan deburan ombak yang tak berhenti berdetak (waktu), bersama-sama belajar melepaskan ego, meleburkan kepalsuan zaman, serta memohon perlindungan sang Ibu Kosmis agar dianugerahi keberanian dan kearifan dalam melangkahi setiap gelombang Kali Sangara.
Sastra Tan Telas Tinulis
AUM
