Sejarah Kristiani Berinteraksi dengan Keraton Mangkunegaran Surakarta 

5 Min Read
Priests in liturgical robes standing at an altar with candles and flowers during a church ceremony.
Misa Natal di Keraton Mangkunegaran pada 24 Desember 1957. (Foto: Missienieuws der Nederlandse Jezuiten No. 66 Tahun 1958 via akun Facebook Lengkong Sanggar Ginaris)

Mabur.co – Meski merupakan salah satu pecahan Kerajaan Mataram Islam, Praja Mangkunegaran dikenal memiliki sejarah kedekatan panjang dengan umat Kristiani.

Maka tak heran bila perayaan upacara keamaan umat Nasrani seperti Misa Syukur, bisa digelar di kompleks inti Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran seperti terjadi baru-baru ini.

Sejarah mencatat, masuknya pengaruh Kristen di dalam tubuh kerajaan yang didirikan Raden Mas Said atau Mangkunegara I itu pertama kali terjadi di era awal abad ke-20. Saat itu Kadipaten Mangkunegaran dipimpin keturunan ke-3 Raden Mas Said yakni Mangkunegara VI. 

Ditandai Misa Natal

Sejak saat itulah pengaruh Kristen mulai masuk yang puncaknya ditandai dengan digelarnya Misa Natal di kompleks Pura Mangkunegaran pada 24 Desember 1957 pada masa kepemimpinan Mangkunegaran VIII.

Dilansir dari penelitianpariwisata.id, Jumat (9/10/2026), sejarah itu bermula sekitar akhir abad ke-19. Saat itu misi penyebaran agama Kristen oleh para zending di bawah Gereja Belanda semakin meluas hingga masuk ke wilayah Karesidenan Surakarta. 

Saat itu Karesidenan Surakarta memiliki 3 sosok berpengaruh yakni Paku Buwono X yang merupakan Raja Kasunanan Surakarta, Mangkunegara VI yang memimpin Kadipaten Mangkunegaran, serta Kepala Residen Belanda Willem de Vogel.

Sebagai pemimpin tertinggi kerajaan Islam, Paku Buwono X awalnya merasa keberatan dengan aktivitas para zending yang ingin menyebarkan agama Kristen di wilayah Surakarta. 

Kontroversi Penyebaran Agama

Ia lalu meminta Residen de Vogel untuk melarang misi keagamaan tersebut. Vogel pun memahami keinginan Paku Buwono X karena menganggap aktivitas zending di daerah mayoritas beragama Islam dapat membahayakan situasi pemerintah kolonial.

Atas persetujuan Gubernur Jenderal Belanda saat itu, yakni Herman van der Wijk yang berkedudukan  di Batavia, aktivitas penyebaran agama Kristen akhirnya diputuskan dilarang di wilayah Surakarta.

Meski begitu upaya zending untuk menyebarkan agama Kristen tidak berhenti. Meski tidak mengantongi izin resmi mereka tetap melakukannya secara terselubung.

Salah satunya adalah dengan mendirikan rumah sakit Kristen yang pelayanannya dibuka untuk masyarakat luas. 

Mengetahui rencana zending tersebut, Paku Buwono X secara tegas menolak. Ia tahu pendirian rumah sakit merupakan upaya halus untuk menarik minat masyarakat masuk agama Kristen. Terlebih saat itu di wilayah Surakarta juga sudah ada rumah sakit umum berdiri.

Vintage black-and-white photo of a single-story building with a central gabled entrance, flanked by stone gateposts and trees.
Rumah Sakit Zending Jebres yang dibangun pada 1912 di Surakarta. (Foto: Instagram @fotokuno)

Karena mendapat pertentangan dari Paku Buwono X, zending pun lalu berpaling kepada Mangkunegara VI. Ternyata Mangkunegara VI memiliki sikap yang lebih terbuka dan toleran sehingga mengizinkan lembaga zending ini mendirikan rumah sakit di wilayah Mangkunegara.

Rumah sakit itu kemudian dibangun di wilayah Jebres pada 1912 yang kemudian dikenal dengan nama Rumah Sakit Zending Jebres cikal bakal Rumah Sakit Dr. Moewardi saat ini.

Selain membolehkan aktivitas zending di wilayah Mangkunegaran, Mangkunegara VI juga mengizinkan keluarga atau kerabat di lingkungan Keraton Mangkunegaran memeluk agama selain Islam termasuk Kristen. 

Pelopor Toleransi dan Multikulturalisme

Dengan sikapnya yang lebih terbuka dan mau menampung semua kepercayaan itulah Mangkunegaran VI yang bertakhta antara 1896-1916 kemudian dikenal sebagai sosok raja yang mempelopori toleransi dan multikulturalisme di lingkungan keraton Mangkunegaran.

Dari situlah Kristen mulai masuk dan berkembang di lingkungan Keraton Mangkunegaran. Tak sedikit bangsawan keraton mulai memeluk agama Kristiani. Termasuk salah satunya permaisuri Mangkunegara VIII, bernama GKP Sunituti yang dikenal merupakan seorang umat Katolik yang taat.

Bahkan di masa Mangkunegaran VIII inilah sejarah tercipta ketika untuk pertama kalinya upacara keagamaan Misa Natal bagi umat Kristiani digelar besar-besaran di kompleks Pura Mangkunegaran tepatnya pada 24 Desember 1957.

Smiling couple stands together at a formal event; woman in lace top and patterned wide-leg pants, man in a light suit and tie.
Potret KGPAA Mangkunegoro VIII bersama permaisuri GKP Sunituti Mangkunegoro di Puro Mangkunegaran pada 7 September 1957. (Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia via IG @mataramroyalblood)

Dari hasil pernikahannya dengan GKP Sunituti, Mangkunegaran VIII kemudian melahirkan GPH Sujiwakusuman yang kelak bergelar Mangkunegara IX. 

Sama seperti ayahnya, Mangkunegara IX juga memiliki permaisuri beragama nasrani GKP Mangkunegara IX atau yang akrab dikenal Prisca Marina Haryogi Supardi.

Prisca merupakan anak bungsu dari Yogi Ignasius Supardi, yang berlatar belakang anggota TNI dan pernah menjadi Duta Besar RI di Jepang. 

Dari permaisuri Prisca Marina inilah, Mangkunegara IX kemudian melahirkan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Bhre yang kini menjadi penguasa Mangkunegaran dengan gelar KGPAA Mangkunegara X.

Salah satu hal yang cukup menarik adalah ketika GPH Bhre Cakrahutomo hendak ditetapkan sebagai Mangkunegara X pada 2022.

Sebelum Jumenengan Bhre Masuk Islam

Sebelum jumenengan, Bhre yang sebelumnya beragama Katolik diketahui harus berpindah keyakinan ke Islam terlebih dahulu.

Hal itu karena sesuai  ketentuan atau paugeran keraton atau aturan adat kerajaan trah Mataram, bahwa setiap raja yang berkuasa haruslah beragama Islam. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar