Mabur.co – TNI secara resmi memiliki seragam pakaian dinas upacara (PDU) baru. Hal itu terlihat saat pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
Sejumlah perwira tinggi TNI nampak mengenakan PDU model terbaru saat mengikuti upacara. Model ini sepintas mirip dengan pakaian resmi yang biasa dikenakan sebelumnya. Namun perbedaan paling mencolok terlihat pada bagian kerahnya.
Jika pada PDU sebelumnya bagian kerah baju memiliki lipatan serupa kerah jas, maka dalam desain baru ini bagian kerah dibuat tegak tanpa lipatan.
Selain itu corak warna pada kerah juga berubah dari sebelumnya polos senada dengan warna seragam, diganti tambahan corak warna merah dengan garis emas di bagian tengahnya.
Jika dilihat secara seksama, model kerah ini mirip dengan pakaian tradisional khas masyarakat Jawa yakni beskap.
Perbedaan lain juga terlihat pada bagian ujung lengan baju. Di bagian tersebut nampak terdapat lis melingkar berwarna keemasan, yang terdiri atas garis tipis di bagian atas dan garis tebal di bagian bawah.
Sementara untuk warna dasar seragam masing-masing matra tidak berubah. TNI Angkatan Darat tetap menggunakan hijau tua, TNI Angkatan Laut putih, sedangkan TNI Angkatan Udara biru gelap.
TNI Akui Adopsi Beskap
Dikutip Antara, Sabtu (10/10/2026), pihak TNI mengakui model PDU terbaru ini memang mengadopsi beskap, busana pria yang lekat dengan tradisi Jawa.
Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, mengatakan, desain tersebut sengaja dipilih untuk mengangkat unsur kearifan lokal sekaligus memberikan ciri khas budaya pada pakaian resmi prajurit TNI.
“Ini kan beskap ya, kearifan lokal supaya kita bisa mandirilah secara pakaian. Punya ciri khas bahwa pakaian yang digunakan oleh TNI memiliki unsur budaya,” kata Agus.
Sebagaimana diketahui, beskap sendiri selama ini identik dengan busana tradisional adat Jawa yang biasa digunakan kaum pria dalam berbagai acara resmi maupun upacara adat.
Hingga saat ini, pemakaian beskap masih sering terlihat di lingkungan wilayah Kesultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta. Busana ini memiliki bentuk menyerupai jas, tetapi dengan potongan dan detail yang khas.
Meski lekat dengan budaya Jawa, sejarah beskap sendiri ternyata tetap dipengaruhi budaya Eropa yang masuk ke Nusantara saat masa kolonial.
Artikel “Sejarah Kata, Konsep, dan Motif Munculnya Kata Beskap” karya Jan Wohlgemuth dan Tessa Yuditha, sebagaimana dikutip Kumparan, bahkan mengaitkan istilah beskap dengan kata Belanda beschaafd, yang bermakna sopan atau beradab.
Pengaruh busana Barat kemudian berbaur dengan tradisi berpakaian masyarakat Jawa, sehingga pada akhirnya beskap digunakan sebagai pakaian resmi pria untuk berbagai kepentingan adat dan seremonial di lingkungan keraton. ***
