Uniknya Benteng Somba Opu, Dibangun di Delta yang Menghadap Sungai

4 Min Read
Two-story building with a brown roof behind tall palm trees, and a large red sign in front reading 'Benteng Somba Opu'
Kawasan Benteng Somba Opu Makassar. (Foto: Autorium)

Mabur.co – Kalau Fort Rotterdam adalah wajah kolonial yang menghadap laut, Benteng Somba Opu adalah punggung kerajaan yang menghadap sungai. Ia tidak dibangun di tebing tinggi. Ia sengaja ditaruh di tempat paling rawan: delta.

Benteng Somba Opu merupakan salah satu cagar budaya yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya di Kabupaten Gowa, Kelurahan Benteng Somba Opu.

Benteng Kerajaan

Benteng Somba Opu Makassar adalah benteng kerajaan yang dibangun oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, pada 1525.

Kenapa harus di Je’neberang? Jawabannya ada di dua kata: air dan pelaut. Pertama, air adalah benteng.

“Benteng dengan luas 113.590 meter persegi ini diapit di antara dua sungai, yaitu Sungai Balang Baru dan Sungai Jene’berang. Pada masanya tempat ini juga pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan pelabuhan,” catat situs Direktoripariwisata.id, dikutip mabur.co, Sabtu (10/10/2026).

Je’neberang yang berarti air yang besar itu adalah parit alami selebar 200 meter. Musuh dari pedalaman tak bisa masuk tanpa perahu, kapal asing tak bisa naik tanpa izin.

Kedua, ia adalah pintu masuk dunia.

“Kantor-kantor tersebut berlokasi di dekat benteng dan memiliki beberapa tempat yang berfungsi sebagai pasar dan pusat keramaian yang berlokasi di muara Sungai Je’neberang di mana kapal-kapal biasa berlabuh,” tulis jurnal arkeologi Unhas.

22 Kapal Portugis per Tahun Berlabuh

Di sinilah dulu 22 kapal Portugis per tahun berlabuh, Inggris bikin loji 1613, Denmark 1618.

Di luar tembok utara, ada kampung Melayu, kampung Portugis, kampung India. Makassar jadi New York abad 16 karena sungainya. Kisah runtuhnya pun terkait sungai.

Pada 24 Juni 1669 benteng ini jatuh dan “dibumiratakan dengan tanah” oleh VOC dan Bone. Setelah itu ombak pasang dan sedimentasi Je’neberang menenggelamkannya.

“Pada 1980-an benteng ini ditemukan kembali oleh beberapa ilmuwan yang datang ke wilayah itu. Di tahun 1990 benteng ini dipugar,” kata catatan Kemdikbud.

Miniatur Sulsel dengan 24 Rumah Adat

Staf UPTD Pengelola Benteng Somba Opu, Yusuf Husain, pernah bercerita: pengembangan dan revitalisasi digagas di era Gubernur Ahmad Amiruddin 1983-1993. Ia membagi Makassar jadi tiga kawasan budaya.

Somba Opu dipilih jadi miniatur Sulsel dengan 24 rumah adat. Tapi revitalisasi itu punya luka. Warga asli yang tinggal di dalam benteng dipindah.

Menurut wawancara dengan Daeng Beta, 70 tahun, “Saat proses relokasi tidak ada masyarakat yang dikabarkan menolak, semua ikut dengan keputusan pemerintah. Setiap kepala rumah tangga akan diberikan tanah dan bangunan sama rata di 3 titik yang ditentukan. Setiap kepala rumah tangga akan diberi biaya uang sebesar Rp200.000.”

Kini Somba Opu adalah benteng yang aneh, dinding aslinya tinggal 20 persen, sisanya rekonstruksi, tapi meriamnya asli.

Meriam Anak Makassar, panjang 6 meter, berat 9,5 ton. Mitosnya, “Konon dapat diletuskan hanya dengan mantra khusus dan keyakinan,” kata juru kunci makam Karaeng Maccini Sombala di dalam kompleks.

Setiap Agustus, warga asli masih ziarah ke makam itu.

“Banyak barakka’na kalau ikut berziarah,” ujar Daeng Nyarrang.

Pada Desember 2024 lalu, Pj Gubernur Sulsel, Prof. Zudan, datang dan bilang, “Mari kita bersama-sama menjaga cagar budaya Benteng Somba Opu ini. Kawasan ini adalah simbol keberagaman budaya Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan.”

Somba Opu harus dekat Je’neberang karena kerajaan maritim tidak butuh puncak gunung, ia butuh muara. Tempat di mana air tawar bertemu air asin, di mana beras bertemu pala, dan di mana Gowa bisa melihat dunia datang lewat sungai.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar