Mabur.co – Kalau kamu masuk Fort Rotterdam lewat pintu utamanya, kamu pasti menunduk. Bukan karena kamu sopan, tapi karena pintunya memang dibuat setinggi pinggang.
“Salah satu lokasi yang menarik perhatian adalah tempat pengasingan Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro berasal dari Yogyakarta. Beliau diasingkan Belanda selama 25 tahun. Ruangan ini merupakan tempat peristirahatan beliau sambil menulis buku,” jelas Jamal, salah seorang pemandu, dilansir dari Cybertokoh.com.
Pemandu lain menambahkan, “Pintu masuk kamar itu memang dibuat rendah. Tujuannya, siapa pun yang masuk harus menunduk sebagai tanda tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa.”
Arsitektur Adopsi Gaya Portugis
Itulah inti Fort Rotterdam: bangunan yang memaksa orang tunduk. Awalnya ini bukan benteng Belanda. Ini adalah Benteng Ujung Pandang, dibangun 1545 oleh Raja Gowa ke-9.
“Benteng ini mulai dibangun pada 1545 semasa Raja Gowa IX. Arsitekturnya mengadopsi gaya Portugis: berbentuk segi empat dan berbahan dasar campuran batu dan bata,” catat situs IndonesiaKaya.
Bentuknya dari atas seperti penyu yang merangkak ke laut. Filosofinya jelas: Gowa jaya di darat dan di laut. Makanya orang Gowa asli menyebutnya Benteng Panyyua, benteng penyu.
Tapi 1667, setelah Perjanjian Bongaya, benteng ini satu-satunya yang tidak dihancurkan Belanda. Cornelis Speelman membangun ulang dengan gaya Belanda, mengganti batunya dengan batu padas hitam dari Maros, dan mengganti namanya jadi Fort Rotterdam sesuai kampung halamannya.
Dindingnya tebal 2 meter, tinggi 7 meter, dengan 5 bastion: Bone, Boeton, Bacan, Mandar Syah, Ambon. Dikelilingi parit. Luasnya 3 hektare. Yang menarik, fungsi benteng terus berubah seperti bunglon.
“Fort Rotterdam menjadi satu-satunya benteng yang dibangun di Makassar pada abad 17-18 dan menjadi simbol hegemoni VOC di wilayah Sulawesi Selatan,” catat Djoko Marihandono dalam Wacana 2008.
Di dalamnya Belanda simpan pala. Jepang simpan tahanan perang dan jadi lab bahasa. TNI 1950-an jadi asrama tentara. Baru 1970 dipugar jadi pusat kebudayaan. Hari ini ia hidup karena anak sekolah.
Dikunjungi Pelajar
“Anak-anak sekolah selalu mengunjungi benteng ini untuk kembali belajar sejarah, memasuki benteng berarti mereka belajar sejarah secara umum. Di benteng ini mereka dapat belajar sejarah tentang kerajaan Gowa, sejarah berdirinya benteng ini,” ujar Jordan, staf pengelola kepada peneliti Unhas.
Pengunjung siswa, Faizal, yang diajak Jamal bilang, “Kami jadi tahu sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Dulu hanya tahu cerita dari buku. Sekarang tahu tempat peristirahatan beliau.”
Di sel Diponegoro, pangeran dari Yogyakarta itu menulis Babad Diponegoro dan kisah Ratu Kidul dengan aksara pegon, sambil membelakangi penjaga Belanda sebagai protes.
Penyu itu akhirnya tidak berenang ke laut, tapi mengurung sejarah di perutnya. ***
