Mabur.co – Tiga belas abad sebelum Kartini menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang”, di pesisir Jepara sudah ada perempuan yang memerintah dengan panah di tangan.
Namun jika kita tarik kembali kepada puluhan tahun silam, ia memiliki circle yang bisa menemani dalam proses belajar, adalah satu hal yang sangat langka dan tidak bisa sembarang orang menikmati.
Ratu Shima adalah pengecualian itu.
“However, in Jepara, where Kartini was born, currently there are statues of three female heroes decorating the city, they are Kartini, queen Kalinyamat, and queen Shima,” tulis jurnal Diksi UNY.
Shima Dididik Seperti Laki-laki
Siapa Shima? Catatan Dinasti Tang menyebut 674 M, di Jawa Tengah ada Kerajaan Kalingga atau Ho-ling yang dipimpin raja perempuan bernama Simo.
Bedanya dengan ratu-ratu lain, Shima dididik seperti laki-laki. Sejak kecil Nongga (nama kecil Shima) menerima pendidikan militer yang setara dengan anak laki-laki dari ibu angkatnya dan Pandita Janabadra.
Ia juga belajar agama Buddha sebagai bhiksuni dan hidup di Vihara Sutha, tempat belajar para pangeran dan putri Kalingga.
Hasilnya, “Since childhood, Nonggaranya has received lessons in archery from her foster mother, who is an archery instructor for children of the nobility in Kalingga Kingdom,” tulis jurnal UNY yang mengkaji novel Putri Kalingga.
Ia naik takhta bukan karena dinasti, tapi karena kemampuan. Suaminya Prabu Kartikeyasingha wafat 674 M, ia ambil alih.
“Pemerintahan Ratu Shima sangat keras namun adil dan bijaksana. Kepada setiap pelanggar, Ratu Sima selalu memberikan sanksi yang tegas,” tulis naskah Carita Parahyangan. Kisah emas di persimpangan adalah ujian pendidikannya yang paling terkenal.
Shima Menghukum Anak Sendiri
Raja asing dari Timur Tengah menaruh kantong emas di alun-alun Kalingga. Tiga tahun tak ada yang ambil. Hingga putranya sendiri, Pangeran Narayana, menyentuhnya dengan kaki.
Ratu Shima semula ingin menghukum mati, lalu dipotong kakinya. Bukan kejam, tapi kurikulum kejujuran. Berkat kondisi itu, rakyat Ho-ling sangat memperhatikan pendidikan.
“Buktinya rakyat Ho-ling sudah mengenal tulisan, selain tulisan masyarakat Ho-ling juga telah mengenal ilmu perbintangan,” tulis naskah sejarah Kalingga.
Kalingga Pusat Pendidikan Buddha
Inilah kaitan dengan pendidikan: di bawah Shima, Kalingga jadi pusat pendidikan Buddha. Seorang pendeta Tiongkok Hou-Ning datang ke Ho-ling pada 664 untuk menerjemahkan Kitab Hinayana dari Sanskerta ke Cina dengan bantuan pendeta Janabadra, gurunya Shima.
Bambang Sulistyanto dari Puslit Arkenas menulis, “Raden Ajeng Kartini bukan satu-satunya pejuang wanita Jepara. Jauh sebelumnya di kota ukir ini telah lahir sosok wanita-wanita tangguh yang mampu membawa nama Jepara harum di Indonesia karena tercatat dalam sejarah. Kedua wanita itu adalah Ratu Shima yang membawa kejayaan Kerajaan Kalingga.”
Bedanya Kartini belajar dari surat, Shima belajar dari panah. Keduanya mengajarkan hal sama: perempuan bisa memerintah, asal diberi sekolah.
Di Jepara sekarang, patungnya berdiri bersama Kartini dan Kalinyamat. Tiga kurikulum perempuan: Shima dengan hukum, Kalinyamat dengan laut, Kartini dengan huruf.
