Ratu Kalinyamat, Ratu Laut yang Mendidik Jepara dengan Kapal

4 Min Read
Composite image of a regal Indian woman in traditional red attire and jewelry, overlaid with a smoky seascape and an old sailing ship in the background.
Gambar Sketsa Ratu Kalinyamat. (Foto: Jernih.id)

Mabur.co – Kalau Ratu Shima mengajar dengan hukum, Ratu Kalinyamat mengajar dengan laut. Nama aslinya Retna Kencana, putri Sultan Trenggana Demak.

Ia lahir di istana yang baru saja mengislamkan Jawa, dan itu modal pendidikannya.

“Ratu Kalinyamat, yang memiliki nama asli Retna Kencana, merupakan salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.

Ia lahir dari keluarga bangsawan Kesultanan Demak dan merupakan putri Sultan Trenggana. Sebagai seorang putri kerajaan, Retna Kencana menerima pendidikan yang luas dalam bidang pemerintahan, strategi militer, dan agama Islam, yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan,” tulis IKPNI merujuk Keppres Pahlawan Nasional No 115/TK/2023.

Diplomat Ulung di Usia Masih Belia

Pada usia remaja, 1544, ayahnya sudah mengutusnya ke Banten sebagai duta besar. Bayangkan, perempuan 16 tahun jadi diplomat untuk menghadapi Portugis di Selat Malaka.

Itu sekolah pertamanya. Tragedi mengubahnya jadi guru perlawanan. 1549, suaminya Sultan Hadlirin dan kakaknya Sunan Prawoto dibunuh suruhan Arya Penangsang.

Ia pulang membawa jenazah suaminya dari Demak ke Jepara dengan jalan kaki yang berdarah. Desa-desa yang dilewati masih ingat: Prambatan (merambat), Kaliwungu (kali jadi ungu oleh darah), Mayong (mayong-mayong sempoyongan).

Di Gunung Danaraja ia bertapa.

“Menurut Ali Syafii selaku juru kunci di Masjid Mantingan dan Makam Kalinyamat di Jepara, menyebutkan bahwa Ratu Kalinyamat merasa kecewa atas tindakan Arya Penangsang tersebut. Ratu Kalinyamat berdoa 500 kali kepada Gusti Allah, namun belum berhasil,” tulis naskah sejarah.

Tapa Wudha Sinjang Rambut

Tapanya disebut Tapa Wuda Sinjang Rambut, bertapa telanjang tapi ditutup rambut, makna simbolik melepas dunia.

Keluar dari tapa, ia bukan jadi pendendam, tapi jadi rektor maritim.

“30 tahun memerintah di abad 16. Ketika beliau memerintah, Ratu Kalinyamat memaksimalkan potensi maritim Jepara. Bahkan saat itu beliau memajukan perdagangan di Jepara melalui jalur pelabuhan, melalui jalur laut,” kata Nyai Hj Hindun Anisah, pengasuh Ponpes Hasyim Asy’ari Bangsri, saat pembukaan KUPI II di Jepara, dikutip NU Online.

Selama 1549-1579, ia dua kali mengirim armada 40 kapal perang ke Malaka untuk mengusir Portugis, 1550 dan 1574.

Portugis mencatatnya sebagai “Rainha de Japara, senhora poderosa e rica”, Ratu Jepara yang berkuasa dan kaya, De Kranige Dame, perempuan pemberani.

Sekolah kedua yang ia buat adalah ukir.

“Di bawah kepemimpinannya, seni ukir Jepara mencapai puncak kejayaannya. Ia mendukung para seniman dan perajin lokal,” catat sejarawan Jepara.

Juru kunci Petilasan Danaraja, Muchlisin, 40 tahun, generasi keempat, menceritakan sampai sekarang banyak orang datang bukan untuk minta kaya, tapi minta lulus: “Lha iya pengunjung yang ke sini ya untuk berziarah, untuk bertawasul, bertabarruk, meminta kepada Allah. Di tempat ini di mana dulu Ratu Kalinyamat ketika punya hajat beliau meminta sesuatu kepada Allah di sini, dikabulkan Allah.”

Juru kunci Makam Mantingan, KH. Ali Syafii, 76 tahun, bahkan pernah menolak banyak wanita yang ngaku kesurupan Ratu Kalinyamat untuk mengelabui peziarah.

Kalinyamat akhirnya baru diakui Pahlawan Nasional 10 November 2023, terlambat 444 tahun. Shima mendidik dengan palu keadilan, Kalinyamat mendidik dengan kompas kapal: perempuan bisa jadi laksamana, asal diberi panggung laut. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar