Mabur.co – Hj. Sitti Maemunah Djud Pantje pada mulanya mengajar dengan beduk Muhammadiyah dan bambu runcing GAPRI 531.
Lahir di Baruga, Majene, 1916. Ayahnya Muhammad Saleh, ibunya Habiba. Nama kecilnya dari pasangan yang jatuh cinta di bawah pohon rindang Baruga. Umur 6 tahun ibunya meninggal. Ia jadi ibu untuk adik-adiknya Bahria dan Nurdin, masih kecil sudah belajar menjadi guru.
“Hj. Sitti Maemunah was a leader of the GAPRI 5 3 1 based in Baruga, Majene… In Maemunah’s family, Islamic education was a key element, including non-formal education in the traditions and customs of the Mandar community. This led to Maemunah’s reputation as a pious, devout, and courageous child,” tulis profil YouTube Yayasan Baruga.
Sekolah formalnya terlambat. 1928 umur 12 tahun baru masuk 6-year elementary school di Majene. Lalu kursus guru 2 tahun di sekolah yang sama. 1937 ia lanjut CVO – Cultureel Vocational Onderwijs di Makassar.
Dedikasi Guru Muhammadiyah
Pulang, ia bukan jadi pegawai Belanda, tapi jadi guru Muhammadiyah. Baruga saat itu menjadi pusat Muhammadiyah Mandar.
Masjid Baruga jadi sekolah pertama. Maemunah mengajar mengaji anak-anak sambil menyisipkan hitung dan baca latin.
Muridnya tidak hanya anak laki-laki. Ia buka kelas khusus perempuan, 1939, yang oleh orang tua disebut “sekolah dapur”, karena selain mengaji diajarkan menenun lipa sa’be dan mengelola keuangan rumah tangga.
1945 kita merdeka, Belanda kembali. Di Baruga ia bentuk GAPRI 5 3 1 – Gabungan Pemberontak Republik Indonesia kode 5 3 1.
Markasnya di rumah panggungnya di Baruga. Anggotanya 300 orang, termasuk perempuan yang jadi kurir, perawat, dan guru darurat.
Pustakawan Rumpita Mandar M. Munir menulis bukunya pada 2024 dan dibedah September 2026 di Monumen 45 Baruga.
“Bedah Buku dan Diskusi Sejarah bertajuk ‘Maemunah Djud Pantje’ berlangsung khidmat dan penuh semangat di Monumen 45 Lingkungan Baruga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene,” tulis TargetTuntas.id, 19 September 2026.
Hadir Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Majene, Drs. H. Ahmad Djamaan, M.Si mewakili Bupati, yang berkata: “Majene tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan, namun juga merupakan pusat sejarah yang kaya bagi masyarakat Mandar.
Sosok Hj. Siti Maemunah Djud Pantje merupakan tokoh luar biasa —pahlawan kemerdekaan, pelopor pendidikan, sekaligus pahlawan wanita yang membanggakan pada zamannya.
Markas Pergerakan
Selain itu, kawasan Baruga tempat kita berkumpul ini memiliki nilai strategis sebagai markas utama pergerakan GAPRI 5.3.1.
Mitos Baruga: Belanda pernah mau bakar rumahnya 1947. Api sudah disulut. Tiba-tiba hujan deras hanya di atas Baruga, padahal musim kemarau. Orang tua bilang doa Maemunah yang masih mengajar di surau dikabulkan. Sampai sekarang orang Baruga menyebutnya ‘Puang Guru Baruga’.
Ia tidak pernah jadi bupati, tidak pernah dapat bintang nasional. Ia wafat 1995 di Baruga, dimakamkan di pekuburan keluarga dekat Monumen 45. Nisan sederhana: Hj. Sitti Maemunah Djud Pantje, Guru.
Tapi setiap 17 Agustus, anak-anak SD Baruga tidak upacara di lapangan, tapi di halaman rumahnya. Membaca Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dulu ia ajarkan dengan beduk. ***
