Mabur.co – Tokoh perempuan yang satu ini agak berbeda. Sebab masa perjuangannnya di masa revolusi fisik. Emmy Saelan mengajar dengan granat.
Saat itu, usianya baru 22 tahun. Lahir 15 Oktober 1924 di Malangke dengan nama lengkap Salmah Soehartini Saelan. Anak pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya Amin Saelan bukan orang sembarang.
“Emmy Saelan berasal dari keluarga pendidik dan pejuang di Makassar. Amin adalah tokoh Perguruan Taman Siswa di Makassar,” tulis buku Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Emmy Saelan Perempuan di Palagan”.
Taman Siswa adalah sekolah nasionalisme. Dari situ Emmy belajar ajaran Ki Hajar Dewantara: ing ngarsa sung tuladha.
Sekolahnya sendiri Eerste Europeesche Lagere School, lalu Hoge Burger School sampai 1942, lalu Cu Gakko sekolah Jepang. Tapi ia tidak mau jadi murid NICA.
Sejak SMP Sudah Memberontak
Ketika SMP Nasional yang didirikan Sam Ratulangi ditutup Belanda karena dianggap sarang republik, Emmy mogok. Aksinya di Stella Maris jadi terkenal, mogok sebagai protes terhadap penangkapan Dr. Sam Ratulangi.
“Emmy Saelan sosok perawat dan pejuang yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Pejuang muda alumni SMP Nasional Makassar sejak muda memperlihatkan sikap anti terhadap penjajah,” tulis Jurnal Al-Qalam, dikutip mabur.co, Senin (12/10/2026).
Angle pendidikannya dimulai dari sini. Ia memilih jadi perawat, bukan guru. Tapi perawat yang mengajar keberanian.
1945 ia masuk kursus perawat Palang Merah di Stella Maris. Ilmunya dipakai untuk membebaskan tahanan pejuang di rumah sakit Belanda. Ia selundupkan mereka lewat pintu belakang. Juli 1946 ia bergabung LAPRIS, Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi di bawah Ranggong Daeng Romo.
Pada 1946 akhir ia bergabung Laskar Harimau Indonesia pimpinan Wolter Monginsidi. Tugas resminya Kepala Bagian Palang Merah dan pimpinan Laskar Perempuan.
Tugas tidak resminya: mata-mata. Kampung Tidung, 21 Januari 1947 malam, Emmy sakit usus buntu, makan bersama Syarifah alias Zus Ipa.
Dialog terakhirnya ditulis Badan Bahasa: “Zus Ipa, mengapa hanya kita bertiga yang ikut bertempur?”
“Tidak apa-apa, memang cuma kita bertiga.”
“Kapan kita merdeka betul?”
“Jika Merah Putih sudah berkibar di mana-mana.”
Mereka jabat tangan: “Jika belum berkibar, jangan kita bertemu.”
Besoknya Belanda menyerang Tidung dengan tank. Wolter perintahkan Emmy mundur bawa luka-luka ke Kassi-Kassi.
Di Kassi-Kassi, sekarang Hertasning Makassar, ia terkepung. Pasukannya hanya 40 orang, hanya satu regu punya senjata api, sisanya parang.
Ia pakai celana panjang, bukan rok, julukannya Daeng Kebo karena putih dan berani. Belanda teriak menyerah. Emmy menolak.
“Ia melempar granat tangan sebelum tembakan musuh mengenai tubuhnya. Granat meledak tepat di tengah pasukan musuh. Delapan tentara KNIL tewas, begitu juga Emmy,” tulis monografi Badan Bahasa.
Pada 23 Januari 1947 diumumkan jadi hari berkabung Operasi III. Jenazahnya dikenali dari konde dan gigi yang cacat serta celana lusuhnya.
Martir Pertama Perempuan Republik
“Emmy Saelan merupakan martir pertama perempuan republik. Tidak seperti kebanyakan perempuan pada masa itu yang mengenakan gaun, Emmy lebih memilih memakai celana panjang. Ia organisatoris, ahli strategi, dan perawat. Ia adalah orang yang berpendidikan,” tutup buku Badan Bahasa.
Emmy memang telah berpulang, tapi setidaknya ia telah mengajarkan kita cara mati yang bermartabat, agar murid-murid Taman Siswa tahu Merah Putih tidak dikibarkan dengan kapur tulis, tapi dengan granat. ***
