Kali Opak, Saudara Timur Keraton Yogyakarta yang Dikawinkan

3 Min Read
Aerial view of a winding river dividing a town on the left from farmland on the right, with a north arrow overlay.
Lanskap udara Kali Opak. (Foto: hijauorid)

Mabur.co – Jika Progo adalah pagar barat keraton, Opak adalah pagar timur. Ia tidak sejauh Progo, tidak segarang Code.

Ia 65 kilometer saja, dari Merapi ke Samas. Tapi ia yang menentukan nasib.

“Keraton Yogyakarta dianggap suci karena diapit enam sungai secara simetris yaitu Sungai Code, Gajah Wong, Opak Winongo, Bedhog dan Sungai Progo,” tulis Tribunnews dikutip Kaskus.

Opak paling timur, menjadi batas alami dengan Surakarta dulu. Tahun 1755, setelah Perjanjian Giyanti, Opak jadi garis gencatan senjata: barat Opak Yogyakarta, timur Opak Surakarta.

Candi Prambanan berdiri di sisi baratnya, bukan kebetulan, di tepi Yogyakarta. Tapi cerita paling keraton tentang Opak bukan tentang batas, tapi tentang kawin.

“Selokan Mataram merupakan salah satu landmark Kota Yogyakarta. Selokan ini mengalir membujur dari Sungai Progo di Kabupaten Kulon Progo sampai Sungai Opak di Kabupaten Sleman yang dibangun atas perintah Sultan Hamengku Buwono IX pada masa penjajahan Jepang,” tulis jurnal UGM.

Sungai Progo ‘Dikawinkan’ dengan Sungai Opak

Tahun 1944, Jepang minta romusha. HB IX tidak mau rakyatnya dikirim. Ia usul, bikin selokan irigasi 52 km menghubungkan Progo ke Opak.

Alasannya cerdik: “berdasarkan kepercayaan masyarakat bahwa jika Sungai Progo ‘dikawinkan’ dengan Sungai Opak maka akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Yogyakarta,” tulis jurnal itu.

Jepang setuju. Namanya Kanal Yoshiro. 15.734 hektare sawah hidup sampai sekarang karena perkawinan dua sungai itu.

Opak bukan sungai ramah. USGS 27 Mei 2006 mencatat episentrum gempa Jogja ada di muara Opak, 8,007 LS – 110,286 BT. Pantai Samas. Lahar Merapi tidak pernah masuk Opak, tapi pemerintah bangun 11 dam untuk antisipasi.

Warga Bantul tahu wataknya.

“Menurut keterangan Humas Basarnas Yogyakarta, Pipit Eriyanto, laporan kejadian diterima pada pukul 13.45 WIB dari anggota Search and Rescue Unit terkait penemuan objek yang dicurigai sebagai korban selamat dengan posisi terapung sekitar 20 meter ke arah selatan dari lokasi kejadian,” tulis BitvOnline tentang pemancing Rohadi, 40, warga Pundong yang tenggelam di Opak, Agustus 2024.

“Korban berhasil dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia,” kata Kasi Humas Polres Bantul, AKP I Nengah Jeffry.

Karena Opak yang Mengantar Sesaji ke Kidul

Kepala Basarnas Kamal Riswandi: “Kami berduka cita atas kejadian ini dan mengimbau kepada masyarakat, terutama para pemancing, untuk selalu waspada.”

Mitosnya: di Opak ada Kiai Opak, buaya putih penjaga. Setiap Labuhan Keraton ke Parangkusumo, abdi dalem singgah di Kretek melempar uba rampe ke Opak juga.

Karena Opak yang mengantar sesaji ke kidul. Dan di Pleret, ibu-ibu masih bilang: kalau anak rewel, bawa ke Opak sore hari, cuci kaki, bisikkan: “Mbah Opak, titip”.

Keraton tidak pernah mengajarkan itu. Tapi keraton juga tidak pernah melarang. Opak mengalir pelan, coklat, tidak cantik.

Tapi seperti baris Pramoedya di novel Bumi Manusia: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Kali Opak melawan dengan cara diam. Menjadi batas, menjadi jodoh Progo, menjadi tempat pulang uba rampe keraton. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar