Mabur.co – Orang Palembang tidak pernah bilang menyeberang sungai. Mereka bilang menyeberang Musi. Seolah sungai itu sendiri adalah kota. 750 kilometer panjangnya, sungai kedua terpanjang di Sumatra setelah Batanghari. Dari mata air Kepahiang Bengkulu, membelah Palembang jadi Ulu dan Ilir, lalu bermuara di Selat Bangka selebar 2,1 kilometer.
Di situlah semua dimulai.
“Menurut Prasasti Kedukan Bukit, yang bertarikh 605 Saka (683 M), Kerajaan Sriwijaya kali pertama didirikan di sekitar Palembang, di tepian Sungai Musi,” tulis Espos.id mengutip teori Coedes dan Pierre-Yves Manguin.
1993 Manguin melihat foto udara 1984, di situs Karanganyar, Gandus, ada jaringan kanal, parit, kolam, pulau buatan 20 hektare.
Itu Venesia abad ke-7. Bukan kebetulan. I-Tsing 671 M singgah di sini belajar Sanskerta sebelum ke India. Ia bilang ribuan biksu tinggal di tepian Musi. Kapur barus, gaharu, pala, semua keluar dari sini.
Nama Musi dari Perompak Tiongkok: Mu Ci
Sriwijaya adalah thalassokrasi, negara yang lahir karena sungai memungkinkan kapal besar masuk 80 km ke pedalaman.
Nama Musi sendiri bukan dari bahasa Melayu. Dari perompak Tiongkok.
“Mereka melihat muara sebuah sungai yang lebar dan ternyata belum ada namanya di dalam peta, pemimpin kelompok ini menamai sungai ini dengan Mu Ci yang berarti ayam betina. Ayam betina dipilih karena sebagai makhluk yang memberikan keuntungan bagi manusia dengan telurnya yang banyak,” tulis Otonity tentang asal-usul Musi.
Ayam betina yang mengerami emas. Masuk akal, 2021 nelayan penyelam menemukan 120.000 artefak di dasar Musi antara Bukit Siguntang dan Pulau Kemaro, keramik Tang-Song, kaca Persia, patung Buddha emas abad ke-8.
“Sungai Musi di Palembang disebut-sebut sebagai ladang harta karun peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Benda yang ditemukan antara lain koin, permata raja, hingga patung Buddha,” tulis Espos.
Orang Palembang bilang, itu bukan tenggelam, itu sengaja dibuang. Rumah rakit, istana kayu, semua hanyut saat Sriwijaya runtuh.
Mitos paling hidup ada di tengah sungai; Pulau Kemaro. Tan Bun Ann, saudagar Tionghoa, jatuh cinta pada Siti Fatimah, putri Sultan Palembang.
Mereka kawin lari, naik perahu, bawa emas tujuh guci. Di tengah Musi, Fatimah lihat guci terakhir, isinya asinan, ia buang marah.
Tan Bun Ann loncat ambil. Keduanya tenggelam. Pulau Kemaro adalah gundukan guci itu. Tiap Cap Go Meh, ribuan orang ziarah, lempar jeruk ke Musi minta jodoh.
Musi Batuk
Tapi Musi hari ini batuk.
“Sungai Musi Tercemar Sampah, Lemahnya Pengawasan Pemkot Disorot Warga. Sampah rumah tangga masih banyak dibuang sembarangan ke Sungai Musi oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab,” tulis CatatanJurnalist.com, 8 Januari 2026, mengutip warga DA: “Sedih aku melihatnyo, sampahnyo banyak nian. Sungai Musi itu cantik, tapi sekarang jadi kotor.”
Wali Kota Ratu Dewa menjawab dengan program RTLH dan tebar benih: “Di bantaran Sungai Musi masih banyak warga dengan rumah tidak layak huni,” katanya, dan wakilnya Prima Salam tebar benih: “Sungai Musi bukan hanya ikon kebanggaan kota, melainkan juga tumpuan hidup banyak warga.”
Dari kapal Tang sampai tongkang batu bara, dari biksu I-Tsing sampai DA yang sedih, Musi tetap sama. Ia tidak butuh Palembang. Palembang yang butuh dia. Seperti kata penyair Palembang, Zen Hae: “Musi mengalir, kita yang tenggelam dalam ceritanya.” ***
