Telusuri Jejak Mataram Kuno, Disbud Sleman Ajak Komunitas Sejarah Kunjungi Empat Situs Cagar Budaya

4 Min Read
Tour group in green shirts ascending stone steps toward a large ancient temple gate under a blue sky
Suasana kegiatan Internalisasi Nilai-nilai Sejarah yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman mengajak sejumlah komunitas hingga para guru maupun siswa sekolah untuk menelusuri sejumlah situs bersejarah Kerajaan Mataram Kuno di Kabupaten Sleman.

Kegiatan bertajuk “Internalisasi Nilai-nilai Sejarah” ini digelar sebagai upaya mengenalkan potensi sejarah di Kabupaten Sleman melalui pengamatan langsung terhadap bangunan dan kawasan cagar budaya. 

Tak hanya itu, kegiatan ini juga bertujuan mengajak masyarakat untuk lebih mempelajari dan memahami berbagai peninggalan sejarah yang ada di sekitar tempat tinggalnya sendiri. 

Situs Cagar Budaya yang Dikunjungi

Digelar Rabu (14/10/2026) sebanyak 40-an peserta diajak berkeliling ke sejumlah candi di antaranya Candi Banyunibo, kompleks Keraton Ratu Boko, Candi Barong, serta Candi Ijo.

Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman, Joko Dwi Haryadi, didampingi Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman, Mei Hartini, mengatakan kegiatan ini bertujuan mendekatkan komunitas dengan warisan sejarah daerah.

“Kegiatan ini itu kegiatan internalisasi nilai-nilai sejarah. Jadi kita mencoba untuk mendekatkan diri kepada komunitas untuk mengajak komunitas mengenal potensi sejarah yang ada di Kabupaten Sleman,” kata Joko.

Dalam kegiatan ini, peserta diajak mempelajari sejarah, fungsi, arsitektur, serta nilai penting setiap situs dalam perkembangan peradaban Mataram Kuno.

Mengenal Perkembangan Agama Buddha

Di Candi Banyunibo, peserta diajak mengenal perkembangan agama Buddha pada abad IX Masehi, termasuk latar belakang pembangunan candi dan fungsinya sebagai tempat pemujaan umat Buddha. Peserta juga mempelajari keterkaitan candi tersebut dengan kompleks percandian di kawasan Prambanan.

Perjalanan berlanjut ke Keraton Ratu Boko. Di kawasan ini, peserta mempelajari sejarah kompleks yang berkaitan dengan aktivitas elite, pemerintahan, kehidupan bangsawan, serta kegiatan keagamaan pada masa lalu.

Tour group in matching green T-shirts descending ancient stone temple stairs under a clear blue sky.
Sejumlah peserta saat mengunjungi kompleks Keraton Ratu Boko. (Foto: JH Kusmargana)

Sementara itu, kunjungan ke Candi Barong dan Candi Dawangsari memperkenalkan peserta pada peninggalan arkeologi di kawasan perbukitan Prambanan. Materi yang dipelajari mencakup karakteristik arsitektur, tata ruang, dan perkembangan candi bercorak Hindu.

Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Candi Ijo. Berada di kawasan perbukitan, kompleks ini menjadi sarana untuk mempelajari pemilihan lokasi bangunan suci, konsep ruang sakral, serta pentingnya pelestarian warisan budaya.

Melalui penelusuran tersebut, peserta diharapkan dapat memahami bahwa situs-situs cagar budaya menyimpan jejak perkembangan politik, sosial, budaya, dan keagamaan pada masa Mataram Kuno.

Libatkan Forum Guru Sejarah

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan komunitas sejarah, tetapi juga para pendidik yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS dan forum guru sejarah di Kabupaten Sleman.

Dinas Kebudayaan Sleman berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kunjungan dapat diteruskan kepada siswa di sekolah masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran sejarah tidak hanya mengandalkan buku, tetapi juga pengalaman melihat langsung peninggalan masa lalu.

Siswa Dapat Pengalaman Baru

Salah satu peserta, Vidi Malik, siswa kelas XII SMK Muhammadiyah Prambanan, mengaku mendapat pengalaman baru melalui kunjungan tersebut.

Menurutnya, materi sejarah yang selama ini dipelajari di sekolah terasa lebih nyata setelah melihat langsung situs-situs peninggalan masa lalu.

“Pertama kali, saya tidak menyangka. Di sekolah memang diajarkan, tetapi setelah berkunjung langsung, jadi tahu seperti apa. Ternyata luar biasa, bisa mempelajari sejarah masa lalu,” kata Vidi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ke situs bersejarah dapat menjadi cara untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya di daerahnya.

Dinas Kebudayaan Sleman sendiri rutin menyelenggarakan program internalisasi nilai-nilai sejarah setiap tahun.

Ke depan, kegiatan serupa direncanakan melibatkan siswa sekolah agar mereka semakin mengenal sejarah daerah melalui kunjungan langsung ke situs dan bangunan bersejarah di Kabupaten Sleman. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar