Mengenal Pasa Hwal, Olahraga Tradisional Suku Dayak Kalimantan ala Sumo

4 Min Read
Two shirtless wrestlers grapple in a grassy outdoor festival as a crowd watches, some in traditional attire and costumes in the background.
Pasa hwal olahraga gulat atau sumo khas Suku Dayak Sa'ban, Kalimantan. (Foto: YouTube Evindrawanto)

Mabur.co – Selama ini olahraga sumo identik dengan budaya Jepang. Padahal sebenarnya Indonesia juga memiliki olahraga tradisional sejenis yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Olahraga tradisional itu disebut pasa hwal. Olahraga tradisional sejenis sumo atau gulat ini biasa dilakukan masyarakat Suku Dayak Sa’ban di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Seperti halnya sumo, pasa hwal akan mempertemukan dua orang laki-laki untuk bertanding gulat satu lawan satu. Mereka harus saling beradu kekuatan untuk menjatuhkan lawan. Lawan yang terakhir berdiri dianggap sebagai pemenang.

Bagi masyarakat Suku Dayak Sa’ban, pasa hwal bukan sekadar olahraga tradisional biasa. Kompetisi ini telah menjadi bagian tradisi budaya leluhur mereka yang diwariskan secara turun-temurun. 

Berawal dari Penentuan Panglima Perang

Dilansir mabur.co dari Tribun Kaltara, Kamis (15/10/2026), sejarah awal mula pasa hwal tak bisa dilepaskan dari kehidupan tradisional masyarakat Suku Dayak di masa lampau. 

Di masa itu, kehidupan antar-suku masih harus dijalankan dengan cara berperang. Sehingga untuk memilih seorang panglima perang, Suku Dayak Sa’ban biasa menggelar kompetisi gulat untuk menemukan laki-laki terkuat sekaligus pemimpin mereka.

Kompetisi gulat itulah yang kemudian disebut dengan pasa hwal. Setiap pemenang dalam kompetisi ini akan memperoleh gelar beleng lemdin, dan berhak menjadi panglima perang Suku Dayak Sa’ban.

Group of shirtless men in traditional loincloths watching a ceremonial wrestling match outdoors; two competitors grapple on a grassy field while spectators, including a man in ornate ceremonial attire, stand nearby under a bright blue sky.
Pasa hwal olahraga gulat atau sumo khas Suku Dayak Sa’ban Kalimantan. (Foto: YouTube Evindrawanto)

Salah seorang kepala adat Suku Sayak Sa’ban Malinau, Pdt. Johnson Pawang, sebagaimana dikutip Tribun Kaltara menyebut, di masa lalu, pertandingan pasa hwal biasa berlangsung di sungai. Arena dipilih di bagian sungai dengan ketinggian air sekitar dada orang dewasa dan arus yang tidak terlalu deras.

Dalam pertandingan tradisional ini, peserta bertarung secara bergiliran dengan sistem satu lawan satu. Pemenang setiap pertandingan akan melaju ke babak berikutnya hingga diperoleh seorang juara.

Seperti halnya olahraga sumo di Jepang setiap peserta yang mengikuti pasa hwal juga hanya mengenakan pakaian minim berupa cawat. Ketentuan tersebut bertujuan mencegah lawan memanfaatkan pakaian untuk menarik atau menjatuhkan peserta.

Setiap pertandingan umumnya terdiri atas dua babak. Peserta yang berhasil menjatuhkan lawan dua kali dinyatakan sebagai pemenang. Apabila hasilnya imbang, pertandingan dilanjutkan ke babak ketiga untuk menentukan juara.

Pada masa lalu, pertandingan di sungai juga memungkinkan pengadil mengamati gerakan tangan kedua peserta. Karena itu kedalaman air dipilih agar tangan mereka tetap terlihat selama bertanding.

Menjadi Olahraga Tradisional

Seiring perubahan zaman dan berakhirnya masa perang antarkelompok, fungsi pasa hwal ikut mengalami perubahan. Pasa hwal kini berkembang sebagai olahraga tradisional sekaligus bagian dari tradisi budaya Suku Dayak Sa’ban.

Jika dahulu pertandingan banyak dilakukan di sungai, sekarang pasa hwal lebih sering digelar di lapangan berukuran sekitar 20 x 20 meter. Penonton yang mengelilingi arena menjadi batas area pertandingan.

Aturan dasarnya tetap dipertahankan, tetapi pelaksanaannya menyesuaikan perkembangan zaman. Ukuran dan bobot tubuh peserta juga menjadi pertimbangan agar pertandingan berlangsung lebih seimbang.

Hwal kini tidak hanya dimainkan orang dewasa, namun juga berbagai usia termasuk anak-anak. Olahraga ini juga kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat dan festival kebudayaan seperti Pesta Budaya Irau Malinau. 

Melalui pasa hwal masyarakat Suku Dayak Sa’ban tak hanya sekadar melatih kekuatan fisik dan keterampilan olahraga bergulat saja.

Lebih dari itu mereka juga sekaligus melestarikan tradisi warisan leluhur agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar