Perubahan Iklim Global, Ancaman Nyata bagi Keberlangsungan Hidup Petani

5 Min Read
People wearing hats and jackets inspect dense green crops in a field, as onlookers photograph the scene and a signboard stands nearby
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (jaket hitam) saat kunjungan ke pusat pengembangan benih di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Sektor pertanian Indonesia kembali diuji oleh tantangan alam yang kian sulit diprediksi dari tahun ke tahun.

Perubahan iklim global telah memicu fenomena anomali cuaca yang membuat batas antara musim hujan dan musim kemarau menjadi makin kabur.

Bagi para petani di berbagai pelosok daerah, ketidakpastian iklim ini bukan sekadar persoalan perubahan suhu udara semata, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup dan masa depan perekonomian keluarga mereka.

Ketika musim kemarau datang lebih panjang atau disertai gelombang panas ekstrem, jeritan dan keluhan petani menjadi nyaring terdengar di tengah sawah-sawah mereka yang mulai meretak.

Krisis Air

Salah satu dampak paling nyata dari anomali musim kemarau ini adalah krisis air yang meluas di lahan-lahan pertanian warga.

Debit air di bendungan, sungai, maupun saluran irigasi desa menyusut drastis dalam waktu singkat, sehingga tidak mampu mengaliri sawah yang membutuhkan pasokan air konsisten.

Petani yang mengandalkan sistem tadah hujan menjadi kelompok yang paling awal merasakan imbas pahit dari fenomena ini.

Tanpa pasokan air yang cukup, tanah pertanian mengering dan memicu terjadinya gagal tanam, di mana benih tanaman mati sebelum sempat tumbuh berkembang menjadi tanaman dewasa.

Group of men wearing traditional conical straw hats at an outdoor daytime gathering, with blue sky in the background and one man in a black jacket in the foreground.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Penanganan Kekeringan dan Ketersediaan Beras

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyoroti dua hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi kemarau, yakni penanganan dampak kekeringan pada lahan pertanian dan upaya menjaga ketersediaan beras nasional.

Besarnya cadangan beras menjadi salah satu penopang pasokan, sementara keberlanjutan produksi tetap membutuhkan penanganan di tingkat lahan.

“Kementerian Pertanian mengandalkan sejumlah intervensi teknis untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke pusat pengembangan benih di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10/2026).

Amran menjelaskan juga, langkah yang dilakukan meliputi pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, optimalisasi lahan pertanian, serta penggunaan benih yang tahan terhadap kondisi kering.

Pompanisasi menjadi salah satu upaya untuk menyediakan air bagi lahan pertanian ketika curah hujan tidak mencukupi.

“Pemanfaatan pompa memungkinkan air dari sumber yang tersedia dialirkan ke lahan sesuai kondisi dan kebutuhan tanaman. Selain itu, perbaikan jaringan irigasi ditujukan untuk mendukung distribusi air ke lahan pertanian. Ketersediaan infrastruktur pengairan menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan air ketika petani menghadapi risiko kekeringan,” katanya.

Pemerintah juga mendorong optimalisasi lahan untuk meningkatkan pemanfaatan area pertanian. Langkah tersebut disertai penggunaan benih tahan kering sebagai bagian dari strategi mitigasi.

Berbagai upaya itu diarahkan untuk mempertahankan kemampuan produksi pertanian di tengah kondisi cuaca yang berisiko mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan lahan dan ketersediaan sumber air di wilayah terdampak.

Selain memperkuat pengairan, Amran menyebut pemerintah mendorong peningkatan produktivitas melalui metode yang disebutnya sebagai AAS.

Menurut dia, metode tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat.

“Produktivitas kita tingkatkan dengan metode AAS, itu bisa naik dua kali lipat. Nah, langkah-langkah ini untuk memitigasi risiko kekeringan,” ujarnya.

Meski demikian, keterangan yang tersedia belum menjelaskan kepanjangan AAS, komoditas yang menjadi sasaran, maupun kondisi penerapan metode tersebut.

Karena itu, klaim peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat perlu dipahami sebagai pernyataan Menteri Pertanian, bukan sebagai hasil yang dipastikan berlaku pada seluruh lahan pertanian.

“Hasil penerapan langkah mitigasi juga perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing wilayah,” ucapnya.

Ketersediaan sumber air, kondisi jaringan irigasi, karakteristik lahan, dan tingkat kekeringan merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan penanganan di lapangan.

Cadangan beras menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Namun, stok yang besar tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan kekeringan pada lahan pertanian. Upaya menjaga pasokan tetap perlu disertai penanganan terhadap risiko penurunan produksi.

Menurut Amran, pembaruan data mengenai luas lahan terdampak, kondisi tanaman, dan kebutuhan air diperlukan untuk membantu menentukan prioritas penanganan.

Skala Dampak Kemarau

Informasi tersebut juga dibutuhkan untuk memperjelas skala dampak kemarau terhadap kegiatan pertanian.

Keberlanjutan produksi juga bergantung pada pelaksanaan langkah penanganan yang sesuai dengan kebutuhan petani dan kondisi lahan.

“Saya optimistis terhadap keberlanjutan swasembada beras. Namun, penilaian lebih terperinci mengenai dampak kekeringan dan efektivitas program mitigasi memerlukan data yang jelas tentang luas lahan terdampak serta hasil pelaksanaan intervensi di lapangan,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar