Kirab Pusaka dan Ruwatan Bumi, Hadirkan Sembilan Keris Bersejarah dari Berbagai Kerajaan di Indonesia

3 Min Read
Prosesi kirab pusaka dan ruwatan keris yang meriah dan khidmat. Foto: Kemenkebud

Mabur.co – Sembilan pusaka bersejarah dari kerajaan dan kesultanan di berbagai wilayah Indonesia dihadirkan dalam upacara Kirab Pusaka dan Ruwatan Bumi yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebudayaan 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/10/2026), malam.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, disebutkan, acara ini diikuti ratusan peserta, Kirab Pusaka diawali dengan penyerahan keris pusaka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, kepada Juru Pusaka di Museum Keris Indonesia.

Prosesi dimulai dengan Juru Jejampang dan Tari Loro Blonyo sebagai barisan pembuka, diikuti Kalowijan, para sesepuh, muda-mudi berprestasi, dan pembawa pusaka.

Barisan selanjutnya diisi oleh jajaran pimpinan, Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon, serta pusaka, dan masyarakat umum.

Prosesi ini menempuh rute dari Museum Keris Indonesia menuju Danau Archipelago, sebelum kembali ke Museum Keris Indonesia sebagai titik akhir.

Sembilan Pusaka Bersejarah

Kirab Pusaka ini menjadi rangkaian tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Kirab Pusaka menghadirkan sembilan pusaka bersejarah, di antaranya Keris Ki Aliawang dari Kesultanan Banjarmasin, Keris Jaka Piturun dari Kesultanan Bangkalan, Piso Gaja Dompak milik Sisingamangaraja XII, Keris Riau-Lingga, Keris Singapraga dari Kerajaan Badung, Keris Kesultanan Gowa, Keris Merak Manyura dari Kesultanan Palembang, Tombak Kiai Rondhan yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro, serta Keris Kesultanan Banten.

Keberadaan pusaka-pusaka tersebut memperlihatkan keragaman warisan budaya Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah, tradisi kepemimpinan, dan perjuangan masyarakat di berbagai daerah.

Melalui pengenalan pusaka kepada masyarakat, kegiatan ini turut memperluas apresiasi terhadap kekayaan sejarah dan budaya Nusantara.

Setelah Kirab Pusaka berakhir, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Ruwatan Bumi. Prosesi ini diawali dengan wilujengan atau doa, disertai sajian tumpeng, ingkung ayam, dan pisang raja setangkep.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi ngala/ngalap berkah yang menghadirkan Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon.

Dalam rangkaian tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, turut melakukan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung dara.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama. Melalui rangkaian Kirab Pusaka dan Ruwatan Bumi, Kementerian Kebudayaan menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi kekayaan tradisi Nusantara sekaligus memperkuat komitmen terhadap pelindungan dan pemajuan kebudayaan Indonesia. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar