Di Antara Pohon Rindang Nan Sejuk, Festival Budaya Nusantara Kebun Raya Bogor Dihelat

3 Min Read
Outdoor cultural performance on a raised stage with dancers in yellow-green outfits, audience seated on brown couches to the left.
Para penari dalam perhelatan Festival Budaya Nusantara di Kebun Raya Bogor (Foto Istimewa)

Mabur.co – “Alam adalah guru pertama kebudayaan,” tulis Pramoedya Ananta Toer. Sabtu pagi, guru itu ada di Taman Reinwardt, Kebun Raya Bogor.

Di bawah pohon jubileum berusia 200 tahun, Kementerian Kebudayaan menggelar Pagelaran Budaya Nusantara. Bukan di gedung ber-AC, tapi di taman botani tertua di Asia Tenggara, didirikan Thomas Stamford Raffles pada 1817. Di sinilah akar beringin dan akar budaya Nusantara bertemu.

Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan agenda Pagelaran Budaya Nusantara berlokasi di Taman Reinwardt, kawasan Kebun Raya Bogor.

Pementasan akbar tersebut digelar guna mengapresiasi kekayaan adat istiadat Indonesia sebagai daya pengikat persatuan masyarakat, tulis berita898.com, dikutip mabur.co, Senin (19/10/2026).

Harmoni Nusantara

Acara ini bagian utama rangkaian Festival Budaya Nasional 2026 yang mengusung tajuk resmi Indonesia Budaya yang Terus Hidup, tema yang dipilih untuk Hari Kebudayaan Nasional pertama 17 Oktober.

Acara akbar ini dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, didampingi Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, dengan simbolis menabuh alat musik tradisional Lombok, tulis sinergiupdate.com. Bukan gong, tapi gendang Beleq Lombok yang ditabuh bersama.

Ribuan warga yang hadir sejak pagi menyaksikan suguhan penampilan dari Aceh sampai Papua: Tari Saman, kolosal Majapahit, hingga Harmoni Nusantara.

Dalam orasinya yang bertajuk Refleksi Kebudayaan, Fadli Zon menekankan mega diversity Indonesia: 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah.

Ia bilang, pelindungan saja tidak cukup. “Dengan hadirnya Kementerian Kebudayaan, kita harus semakin fokus dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan juga pembinaan kebudayaan,” ujar Fadli melalui keterangan resminya dikutip berita898.com.

Ia menambahkan, dan ini jadi kutipan paling sering diulang media: “Prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu atau unity in diversity tersebut mencerminkan salah satu pencapaian penting kebudayaan Indonesia, yakni menjadikan keberagaman sebagai kekuatan pemersatu bangsa,” jelas Fadli.

Konsep Living Heritage

Kenapa di Kebun Raya? Karena konsep living heritage. Budaya yang terus hidup, bukan dead monument. Kebun Raya Bogor sendiri adalah simbol itu.

Dulu pusat penelitian kina untuk obat malaria kolonial, tempat Wallace mengumpulkan spesimen, sekarang jadi ruang publik tempat silat, musik bambu, dan tari topeng tumbuh.

Ada cerita menarik: Taman Reinwardt dinamai Caspar Georg Carl Reinwardt, botanis Jerman pendiri kebun. Di sebelahnya ada pohon kenari raksasa yang ditanam 1857, yang oleh warga dulu dianggap keramat, tempat ngalap berkah sebelum upacara Seren Taun Sunda.

Festival ditutup dengan tabuh drum bersama 100 penabuh dari komunitas Sunda, Jawa, Maluku. Suaranya memantul di antara palem-paleman.

Bukan sekadar tontonan. Di Bogor, budaya memang tidak dipajang di etalase. Ia dibiarkan hidup, tumbuh liar seperti anggrek di dahan. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar