Mabur.co – Sebanyak 18 kelompok bregada rakyat dari berbagai wilayah di DIY memeriahkan Festival Bregada Rakyat DIY 2026 di Youth Centre Yogyakarta, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Senin (19/10/2026).
Festival ini memasuki tahun ke-15 menghadirkan kelompok-kelompok yang pernah meraih gelar juara, sehingga persaingan antarpeserta berlangsung ketat.
Penghayatan Seni Keprajuritan Tradisional
Mengusung tema “Gumregah Gumregut Tanpa Surut”, festival ini menjadi ruang bagi kelompok bregada rakyat untuk menunjukkan keterampilan baris-berbaris, keunikan busana, iringan musik, serta penghayatan terhadap seni keprajuritan tradisional.
Pembina Bregada Rakyat DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan, FBR merupakan kegiatan rutin tahunan Sekber Keistimewaan DIY yang didukung Dinas Kebudayaan DIY.
“Tahun ini sudah memasuki penyelenggaraan tahun ke-15. Lokasi pelaksanaannya dibuat berpindah keliling DIY. Tahun 2025 lalu digelar di kompleks gua Selarong Bantul bertepatan momentum 200 tahun Perang Jawa. FBR menjadi salah satu upaya penguatan ekosistem seni keprajuritan yang tumbuh di basis kampung, padukuhan atau desa-desa di DIY bahkan juga di sejumlah sekolah menengah atas,” ucapnya.
Widihasto Wasana Putra mengatakan, keberadaan seni keprajuritan rakyat atau dikenal dengan bregada rakyat ini hanya ada di DIY.
Keberadaannya tidak ada di daerah lain. Sehingga dapat dikatakan bregada rakyat menjadi salah satu penanda keistimewaan DIY.
“Bregada ini menjadi ajang konsolidasi masyarakat sipil menjaga kebersamaan, persatuan sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya,” terangnya.
Mendorong Perekonomian Perajin Busana Adat
Eksistensi bregada rakyat, imbuh Widihasto, juga ikut mendorong pertumbuhan perekonomian perajin busana adat.
Mulai dari blangkon, topi bregada, surjan, beskap, kebaya, kain batik, keris, tombak hingga peralatan musik mulai tambur, suling, kendang, dan asesoris lainnya.
“Coba kita buat simulasi sederhana, satu orang personel bregada taruhlah memerlukan kelengkapan busana senilai 1 juta rupiah. Satu kelompok ada 30 orang. Sudah 30 juta. Tinggal dikalikan jumlah bregada di DIY yang jumlahnya ada ratusan kelompok. Jadi sedikit banyak teman-teman pegiat bregada ini turut menggairahkan geliat ekonomi perajin busana adat,” pungkasnya. ***
