Ketika 1.500 Ukulele Berbunyi Bersamaan di Biak

3 Min Read
Ketika ribuan anak di Biak bermain ukulele. (Foto: CeposOL)

Mabur.co – “Kalau ingin lihat Papua, ingin lihat ras Melanesia, jangan datang jauh-jauh. Datang saja ke Biak,” kata Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa.

Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, kalimat itu terbukti di Lapangan Cendrawasih.

Pembukaan Festival Budaya Biak Melanesia (FBBM) 2026 berlangsung spektakuler.

Sebanyak 2.026 siswa dari SD sampai SMK mencetak rekor MURI dengan main jukilele-ukulele khas Papua, secara kolosal, tulis penanews.net, dikutip mabur.co, Senin (19/10/2026).

Direncanakan 1.500 Anak, Mbludak jadi 2000 Anak yang Hadir

Awalnya direncanakan 1.500 anak, bantuan 500 ukulele dari Gubernur Papua, tapi di lapangan mbludak jadi lebih dari 2 ribu.

Dukungan terhadap pelaksanaan Festival Budaya Biak Melanesia 2026 datang dari Pemerintah Provinsi Papua.

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri memberikan bantuan 500 alat musik ukulele yang akan digunakan dalam rangkaian pembukaan festival di Kabupaten Biak Numfor, tulis jayapurapost.com.

Festival yang mengusung tema Elok Alamku, Pesona Budayaku tersebut dijadwalkan berlangsung pada 17–21 Oktober 2026 dan akan menghadirkan keragaman budaya dari berbagai wilayah Papua Raya, sejumlah daerah di Indonesia, hingga negara-negara Pasifik, sambung jayapurapost.com.

Biak memang punya sejarah panjang sebagai persimpangan Pasifik. Dulu, 1944, jadi pangkalan udara Sekutu terbesar di Pasifik. Sekarang, jadi panggung budaya. Perubahan nama dari Festival Budaya Biak jadi Biak Melanesia tahun ini disengaja, bukan ganti stiker.

“Bukan hanya dari Biak saja. Dalam skala Papua se-Papua Raya kami hadirkan di sana. Kemudian beberapa daerah Melanesia dan beberapa negara dari Pasifik juga hadir,” kata Jimmy dikutip lapbiru.com.

Legenda Manusia Biak yang Mencari Matahari

Di panggung, anak-anak pakai cenderawasih di kepala, kalung manik, sarung Byak.

Mereka main lagu Apuse dan Sajojo dengan ukulele yang dalam bahasa lokal disebut jukilele. Bunyinya nyaring, seperti tifa kecil.

Di belakang mereka, tifa besar ditabuh, tarian Mansorandak, legenda manusia Biak yang mencari matahari, ditarikan.

Mitos Mansorandak penting: seorang Byak meninggalkan kampung mencari matahari karena desanya gelap, akhirnya menemukan cahaya setelah mengarungi lautan.

Sama seperti ukulele ini: alat dari Portugis yang dibawa misionaris, diadopsi orang Maluku dan Papua, jadi identitas baru.

Bupati Markus Octovianus Mansnembra bilang, momen ini bukti keberanian generasi muda.

“Melihat anak-anak kita berani tampil tegak di panggung internasional adalah kebahagiaan yang tidak ternilai,” ujarnya dikutip penanews.net.

Di hari yang sama, Kemenkumham Papua menyerahkan 38 Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal untuk ekspresi budaya Biak, supaya tidak diklaim pihak lain.

Ada yang menarik: ukulele kecil itu mengalahkan gemuruh mesin jet yang dulu mendominasi Biak.

Kalau kata penyair Papua, Filep Karma: “Tanah ini adalah ibu, budaya adalah air susunya.”

Dari 17 sampai 21 Oktober, Biak memang jadi ibu bagi semua Melanesia: ada stand Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, NTT, NTB, Maluku.

Semua ketemu di lapangan yang dulu tempat perang. Sekarang tempat main ukulele bersama.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar