Mabur.co – Selain dikenal dengan keindahan alam yang mempesona, wilayah Maluku juga menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa.
Salah satunya adalah tradisi Wet Warat atau tradisi menangkap ikan secara tradisional saat air laut sedang surut.
Tradisi unik ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam Festival Pesona Meti Kei di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku.
Festival yang berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 ini mengangkat fenomena alam saat laut sedang surut atau biasa disebut Meti.
Mencari Hasil Laut dengan Cara Tradisional
Momen ketika air laut menyusut hingga membuka hamparan pesisir yang luas inilah yang dimanfaatkan warga untuk mencari hasil laut dengan cara tradisional.
Dilansir mabur.co dari situs resmi Pemprov Maluku, Senin (19/10/2026), tradisi Wet Warat merupakan tradisi kuno masyarakat di Kepulauan Kei yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam tradisi ini warga akan menangkap ikan dengan menggunakan janur kelapa yang dibentangkan dan ditarik bersama-sama menuju pantai.
Kegiatan ini membutuhkan kerja sama banyak orang sehingga kerap dianggap sebagai cerminan semangat gotong royong masyarakat Kepulauan Kei.
“Wer Warat bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, tanggung jawab, dan kearifan masyarakat pesisir dalam memanfaatkan hasil laut,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara, Budi Toffi, dikutip dari InfoPublik.
Identitas Budaya
Tak hanya sekadar tradisi unik mendapatkan ikan secara tradisional, Wet Warat juga menunjukkan hubungan erat masyarakat Maluku dengan laut sebagai sumber penghidupan sekaligus bagian penting dari identitas budaya mereka.
Melalui Festival Pesona Meti Kei inilah tradisi serta nilai-nilai tersebut diperkenalkan kepada wisatawan agar mereka tidak hanya menikmati keindahan pantai, tetapi juga mengenal kearifan lokal masyarakat pesisir.
Selain Wet Warat, festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari karnaval budaya, pertunjukan tari dan musik, hingga agenda Kei Bacarita dan Kei Menari.
Ada pula Tba Tamet atau Bameti Bersama, yaitu kegiatan mencari hasil laut saat air surut dengan tombak. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal lebih dekat kebiasaan masyarakat Kei dalam memanfaatkan kekayaan laut.
Sejumlah destinasi turut menjadi bagian dari promosi festival, di antaranya Pantai Ngurbloat yang terkenal dengan hamparan pasirnya yang sangat halus serta Pantai Hoar di Ohoi Danar Sare yang menjadi lokasi tradisi Wet Warat.
Kekayaan Budaya Pesisir
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik Kepulauan Kei tidak hanya terletak pada panorama alamnya. Seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir juga menjadi kekayaan budaya yang turut membentuk identitas kawasan ini.
Digelar secara rutin, Festival Pesona Meti Kei juga menjadi ajang menggerakkan perekonomian masyarakat. Di mana banyak pelaku UMKM, usaha kuliner, penyedia transportasi, hingga jasa wisata lokal turut memperoleh manfaat ekonomi dari festival ini.
Terlebih pada 2026 ini, festival Pesona Meti Kei kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), setelah berpartisipasi sejak 2021.
