Cupu Kyai Panjala, Benda Magis Warisan Nenek Moyang yang Dijaga Warga Girisekar

4 Min Read
Group of men in traditional attire sit along a green rectangular barrier in a bright yellow room, with a camera on a tripod to the left.
Suasana ritual Cupu Kyai Panjala yang merupakan sebuah benda magis berbentuk cawan kecil terdiri dari tiga macam cupu. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Salah satu kebudayaan di Indonesia yang diwariskan nenek moyang adalah Cupu Kyai Panjala yang terletak di Dusun Mendak, Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Cupu Kyai Panjala merupakan sebuah benda magis berbentuk cawan kecil yang terdiri tiga macam cupu, yaitu Semar Tinandhu (cupu yang paling besar), Kalang Kinantang (cupu berukuran sedang), dan Kenthiwiri (cupu yang paling kecil).

Cupu tersebut disimpan dalam peti kecil, kemudian dibalut ratusan lembar kain mori, lalu disimpan dalam senthong tertutup yang diyakini sebagai benda berpetuah.

Kebudayaan yang menjadi identitas sosial masyarakat Desa Girisekar tersebut, masih diyakini dan dilestarikan hingga saat ini.

Ritual Membuka Lapis Kain

Setiap tahun, terdapat ritual untuk membuka lapis demi lapis kain yang membalut Cupu Kyai Panjala yang dilaksanakan pada hari Senin Wage malam Selasa Kliwon mangsa Kapapat bulan Jawa Dulkangidah, menjelang musim labuh atau musim bercocok tanam.

Pada lembar kain mori tersebut ditemukan benda atau gambar yang akan dinarasikan oleh sang juru kunci dan dipercayai sebagai ramalan mengenai peristiwa yang akan terjadi satu tahun ke depan.

Adanya kepercayaan terhadap kekuatan magis yang melekat pada Cupu Kyai Panjala menyebabkan banyak masyarakat yang meminta pertolongan, sehingga berdampak pada berkembangnya mitos di kalangan masyarakat.

Lurah Girisekar, Sutarpan, mengatakan, rangkaian upacara tradisi telah dimulai sejak siang hari dengan ziarah ke makam Kyai Seyek Panjala yang diikuti sanak keluarga, keturunan atau trah Kyai Panjala, serta masyarakat sekitar.

“Tradisi ini selalu menjadi perhatian banyak orang, tahun ini berjalan cukup lancar. Semua pengunjung tetap aman, nyaman, dan terkendali,” katanya, dilansir Antaranews.com, Rabu (21/10/2026).

Sutarpan menjelaskan, tradisi pembukaan Singkep Cupu Kyai Panjala diperkirakan telah berlangsung lebih dari 500 tahun dan terus dijaga secara turun-temurun oleh trah Kyai Panjala.

“Tradisi ini sudah berjalan dari 500 tahun yang lalu. Kalau juru kuncinya ini sudah turun-temurun,” ujarnya.

Tiga Cupu Berbentuk Cawan atau Guci Kecil

Menurut Sutarpan, terdapat tiga cupu berbentuk seperti cawan atau guci kecil yang disimpan di dalam peti kayu dan dibungkus dengan berlapis-lapis kain kafan yang disebut singkep.

“Cupu paling besar namanya Semar Tinandhu, lalu ada Kalang Kinantang, dan paling kecil Kenthiwiri,” katanya lagi.

Sutarpan menjelaskan, ketiga cupu tersebut disimpan di tempat khusus dan dibuka setahun sekali pada malam Selasa Kliwon melalui prosesi pembukaan lapisan singkep satu per satu.

Dari lapisan-lapisan kain tersebut, muncul beragam bentuk gambar, simbol, atau torehan yang kemudian dibacakan oleh salah satu keturunan Kyai Seyek Panjala.

“Kami sebagai trah hanya membacakan apa yang ada di dalam kain. Baik itu gambar maupun tulisan, kami tidak bisa mengartikan,” ujarnya.

Sutarpan mengatakan, terdapat lebih dari 28 bentuk, gambar, benda, maupun tulisan yang dibacakan dalam prosesi pembukaan Singkep Cupu Kyai Panjala pada 2026, salah satunya berupa benih tanaman cabai.

“Kami menemukan benda seperti benih biji lombok. Itu memang dua kali muncul, itu benar-benar biji lombok dan kami enggak tahu itu dari mana dan sebagainya karena terbungkus dengan mori (kafan),” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar