Mabur.co – Beberapa waktu belakangan, lini media sosial selalu dipenuhi bait lagu dengan lirik yang terdengar seperti “jen ajen ajen” atau “jena jena”.
Bait tersebut merupakan bagian lagu Sunda berjudul Oncom Gondrong yang dipopulerkan grup musik Bungsu Bandung dan dirilis pada 1987.
Liriknya yang unik dengan bahasa Sunda yang khas membuat banyak masyarakat tertarik dan berbondong-bondong menggunakannya.
Kembali populernya lagu berbahasa Sunda tersebut mengingatkan pada tradisi pantun Sunda yang pernah berjaya di masa lalu namun kini semakin hilang dan jarang terdengar.
Pantun Sunda yang merupakan seni tutur tradisional ini memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat tatar Pasundan.
Berbeda dari pantun Melayu yang dikenal sebagai puisi dengan empat baris dan pola rima tertentu, pantun Sunda merupakan seni bercerita yang memadukan sastra lisan, nyanyian, dan petikan kecapi.
Pertunjukan tradisi seni tutur ini biasanya akan dibawakan oleh seorang juru pantun yang menuturkan cerita sambil memainkan kecapi.
Pada masa lalu, pantun Sunda bukan sekadar hiburan. Kesenian ini juga berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Sunda lama, terutama kehidupan agraris dan tradisi pertanian.
Tercatat Sejak Abad ke-16
Dilansir dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, Rabu (21/10/2026), keberadaan pantun Sunda telah dikenal lama masyarakat Sunda sejak abad ke-16.
Hal itu tercatat dalam naskah Sunda kuno Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada 1518 Masehi dan merupakan manuskrip tertua asal Sunda yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
Cerita dalam pantun Sunda sendiri umumnya berkaitan dengan mitologi, kisah kepahlawanan leluhur, serta kerajaan-kerajaan Sunda lama, terutama Galuh dan Pajajaran. Kisah-kisah itu diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi.
Pantun Sunda dikenal memiliki bahasa yang khas. Yakni dengan memadukan kalimat berbentuk prosa dengan bagian-bagian puitis yang kaya akan permainan bunyi atau purwakanti.
Pantun Sunda tidak hanya menyampaikan alur cerita, tetapi juga menyanyikan bagian tertentu dan menggambarkan suasana melalui suara serta petikan kecapi.
Bukan Pertunjukan Sembarangan
Dalam tradisi masyarakat lama, pantun Sunda memiliki kedudukan yang sakral. Pertunjukannya hanya dilakukan di momen-momen dan ritual adat tertentu. Seperti upacara kelahiran, khitanan, ruwatan, atau pemenuhan nazar.
Dalam setiap pertunjukan, pantun Sunda bahkan harus disertai sesaji. Di antaranya tujuh macam bunga, kopi pahit, ayam bakar, kelapa muda, hingga gula aren, dan kemenyan.
Biasanya pertunjukan akan diawali dengan Rajah Pamunah, yakni bagian pembuka yang berisi permohonan, permintaan maaf, serta harapan agar pertunjukan terhindar dari gangguan. Setelah itu, juru pantun membawakan cerita utama.
Pertunjukan dapat berlangsung sejak malam, sekitar pukul 21.00, hingga menjelang pagi. Setelah cerita selesai, rangkaian kemudian ditutup dengan Rajah Pamungkas yang berisi permohonan maaf dan doa keselamatan.
Selalu Diiringi Kecapi
Dalam pementasannya, pantun Sunda akan selalu diiringi musik kecapi. Bunyi khas petikan kecapi tidak hanya sekadar menjadi pelengkap, namun menjadi bagian penting yang membangun suasana sekaligus mengiringi perubahan adegan dalam cerita.
Melodi yang dimainkan biasanya akan berubah mengikuti suasana yang hendak disampaikan. Laras slendro digunakan untuk menggambarkan kemarahan atau kegembiraan, sedangkan pelog menghadirkan suasana tenang atau kebingungan. Sementara nyorok atau madenda digunakan untuk mengungkapkan kesedihan.
Dalam beberapa pertunjukan, juru pantun juga kerap menggunakan alat musik rebab berukuran kecil yang disebut tarawangsa sebagai pengiring.
Perpaduan cerita, suara, dan musik tersebut membuat pantun Sunda memiliki bentuk pertunjukan tersendiri.
Sang Juru pantun tidak hanya dituntut mampu menguasai cerita saja, namun juga kemampuan untuk bertutur dan bernyanyi agar kisah yang diwariskan dapat disampaikan kepada pendengar.
Semakin Langka dan Sulit Ditemukan
Meski pernah mengalami masa kejayaan, sayangnya keberadaan kesenian pantun Sunda mulai mengalami kemunduran sejak awal 1970-an. Kondisinya semakin memburuk sejak awal 1990-an.
Semakin berkurangnya pertunjukan dan tidak adanya regenerasi Juru Pantun menjadi faktor penyebabnya. Hal itu juga tak terlepas dari adanya pembatasan pewarisan keahlian dari kalangan guru atau juru pantun itu sendiri.
Dimana mereka kerap membatasi calon penerus hanya kepada orang-orang yang dinilai memenuhi syarat. Sehingga tak jarang hanya satu orang saja yang diajari, bahkan tidak ada calon yang dipilih.
Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pantun Sunda semakin rentan. Padahal, kesenian ini tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga merekam pengetahuan, kepercayaan, dan pandangan hidup masyarakat Sunda pada masa lalu. ***
