Hari Santri, Ini Deretan Tokoh Indonesia yang Berlatar Belakang Pesantren

5 Min Read
Group of people in white traditional outfits standing in a parade, with a colorful Hari Santri banner in the background.
Para santri ikut apel peringatan Hari Santri di halaman Balaikota Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kiprah santri dalam membangun bangsa terus berkembang seiring perubahan zaman. Tidak hanya berkiprah di bidang keagamaan, para santri juga hadir dalam dunia pendidikan, pemerintahan, kewirausahaan, kebudayaan, diplomasi, hingga berbagai sektor strategis lainnya. 

Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad 1945 yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari.

Resolusi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam membangkitkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan negara kemudian diwujudkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, meskipun bukan hari libur nasional.

Peringatan Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026, pemerintah mengajak berbagai elemen bangsa untuk menyemarakkan peringatan tersebut.

Santri sebagai Kekuatan Sosial

Tema ini menegaskan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi keilmuan Islam, melainkan juga kekuatan sosial yang memiliki tanggung jawab moral dan kebangsaan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para santri tampil di medan pertempuran untuk mempertahankan kedaulatan negara, kini pengabdian mereka mengalami transformasi.

Santri hadir dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pemerintahan, pendidikan, politik, pertahanan, kepolisian, hingga dunia usaha.

Kenyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa pendidikan pesantren hanya mempersiapkan lulusannya menjadi pemuka agama.

Tokoh Berlatar Belakang Pesantren

Sejarah kepemimpinan Indonesia memperlihatkan bahwa sejumlah tokoh nasional memiliki latar belakang pendidikan pesantren.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, presiden keempat Republik Indonesia, merupakan salah satu contoh nyata.

Pemikiran dan kepemimpinannya menunjukkan bahwa tradisi intelektual pesantren mampu berdialog dengan demokrasi, pluralisme, kebudayaan, dan kehidupan kebangsaan.

KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren, termasuk Pesantren Tebuireng, Jombang.

Demikian pula Prof. Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menteri Koordinator Bidang Politik,  Hukum, dan Keamanan, yang pernah memperoleh pendidikan di lingkungan pesantren di Madura.

Kontribusi santri terhadap pertahanan negara memiliki akar sejarah yang kuat. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dan semangat nasionalisme dapat menyatu dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Dalam perkembangan Indonesia modern, sejumlah tokoh militer juga dikenal memiliki pengalaman pendidikan pesantren.

Di antaranya Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, mantan Kepala Staf Angkatan Darat, yang diberitakan pernah menimba ilmu agama di lingkungan Pesantren Buntet, Cirebon.

Di Sulawesi Selatan, kiprah alumni Pesantren Modern IMMIM Putra Makassar juga menarik perhatian. Laksamana Pertama TNI Abdul Rivai Ras dikenal memiliki keterkaitan dengan lingkungan pendidikan pesantren tersebut.

Demikian pula Brigadir Jenderal TNI Muhammad Risal Salewangan, yang disebut sebagai alumni IMMIM angkatan 1993.

Pada jenjang perwira muda, Letnan Dua Ahmad Naufal dikenal memiliki latar belakang pendidikan di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, sebelum meniti karier pengabdian di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Kiprah mereka memperlihatkan bahwa nilai kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, dan tanggung jawab yang ditanamkan dalam pendidikan pesantren memiliki relevansi dengan pembentukan karakter prajurit.

Namun, keberhasilan karier militer tetap menuntut kompetensi profesional, pendidikan khusus, serta integritas pribadi.

Pesantren Dituntut Terus Tingkatkan Kualitas

Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman, Muhammad Mustafid, menuturkan, menghadapi perkembangan teknologi digital, kecerdasan artificial, serta perubahan ekonomi global, pesantren dituntut terus meningkatkan kualitas pendidikan tanpa kehilangan identitas dan tradisi keilmuannya.

“Penguatan kompetensi sains, teknologi, kewirausahaan, dan kepemimpinan menjadi kebutuhan penting agar santri mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa,” ucapnya, Kamis (22/10/2026).

Muhammad Mustafid, mengatakan, peringatan Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada upacara dan kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan komitmen pengabdian.

“Santri yang menjadi pejabat harus menjaga amanah, yang menjadi prajurit mempertahankan kedaulatan negara, yang menjadi polisi menegakkan keadilan, dan yang menjadi pengusaha membangun perekonomian yang jujur, produktif, serta berkeadaban,” ucapnya.

Man wearing a patterned batik shirt stands in a carved wooden entrance with gold lettering above, at a traditional Indonesian building entrance.
Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman, Muhammad Mustafid. (Foto: Dok. Pribadi)

Menurut Muhammad Mustafid, keberhasilan santri sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang diraih, seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, atau seberapa banyak kekayaan yang dikumpulkan.

Melainkan oleh sejauh mana ilmu, iman, dan akhlak memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, santri yang berhasil bukan hanya mereka yang mampu tampil di pentas nasional, melainkan mereka yang tetap membawa dan mengamalkan nilai-nilai pesantren ketika berada di pentas nasional.

“Di situlah hakikat pengabdian santri kepada agama, bangsa, dan negara. Selamat memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar