Mabur.co – Sekelompok anak muda asal Kalimantan punya cara berbeda untuk menyuarakan ancaman kerusakan hutan di tanah kelahiran mereka.
Mereka tidak memilih bersuara lewat kata-kata atau gerakan aksi demontrasi di jalan, melainkan melalui sebuah karya kreatif berupa tarian.
Tarian berisi kritikan terhadap bencana kebakaran hutan maupun kerusakan lingkungan itupun viral di media sosial sejak beberapa hari belakangan.
Mereka adalah Zwageri Generation, komunitas yang aktif dalam kegiatan lingkungan dan konservasi asal Ketapang, Kalimantan Barat.
Karya kreatif terbaru mereka berjudul “Ara Jubata”. Dalam teaser yang diunggah di media sosial tarian ini menggambarkan kehancuran hutan akibat kebakaran dan keserakahan manusia.
Memakai latar bekas hutan yang baru saja terbakar dengan asap yang masih pekat, salah satu penari nampak menari-nari mengenakan pakaian adat khas Kalimantan berwarna merah dan hitam.
Terdapat pula sejumlah penari lainnya mengenakan kain merah menyala dengan tali atau selendang panjang berwarna putih.
Dari penjelasan yang ada, karya tersebut menempatkan pohon ara sebagai simbol kehidupan dan perlindungan bagi masyarakat Dayak serta berbagai makhluk yang bergantung pada hutan.
Namun, pohon yang menjadi harapan terakhir itu akhirnya tumbang akibat keserakahan manusia.
“Yaaa Jubata… ampuni kami yang tak mampu melindungi alam ini,” demikian penggalan narasi yang menyertai unggahan video tersebut.

Kain merah sendiri menjadi simbol api yang melahap hutan, amarah, dan keserakahan manusia. Sementara itu, tali putih melambangkan asap yang menyelimuti langit, mencemari udara, dan mengancam kehidupan.
Melalui “Ara Jubata”, Zwageri Generation ingin menyampaikan pesan bahwa hutan bukan sekadar sumber daya yang dapat dihabiskan, melainkan ruang hidup yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“Hutan bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan kehidupan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Jangan tunggu pohon terakhir tumbang,” bunyi pesan dalam karya tersebut.
Sebelum memposting tarian “Ara Jubata”, Zwageri Generation juga menyuarakan persoalan kebakaran hutan melalui pertunjukan Tari Ma’alap Senggayung juga di kawasan terdampak kebakaran dan masih menyisakan kabut asap.
Dalam aksi itu, para penari mengenakan masker pelindung dan sepatu bot tahan api untuk menggambarkan dampak kebakaran terhadap manusia dan alam.
Tari Ma’alap Senggayung sendiri merupakan warisan adat Dayak Pesaguan yang menjadi bagian dari upacara adat Buah Galau.
Postingan itupun viral dan ditonton hingga 1,6 juta kali, mendapat 200 ribu tanda suka dan dibagikan hingga 31 ribu kali.
Melihat kondisi kebakaran hutan dan lahan yang masih saja terus terjadi di Kalimantan, bukan tidak mungkin karya-karya kreatif lainnya akan kembali dilahirkan komunitas Zwageri Generation ini.
Yakni untuk menyuarakan dampak kebakaran hutan dan menyampaikan pesan pelestarian alam.
