Mengenal Ritual Ngaben di Bali, Bakar Jenazah Antar Roh Berpindah Alam

4 Min Read
People in white traditional clothing perform a ceremonial fire ritual around a decorated float outdoors. Flames rise from the burning setup as onlookers watch.
Prosesi ngaben saat jenazah dibakar. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Bali tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga dengan kekayaan budaya dan tradisi yang masih dijaga hingga saat ini.

Salah satu tradisi yang paling sakral dan menarik perhatian adalah upacara Ngaben. Upacara ini merupakan ritual kremasi bagi umat Hindu Bali yang bertujuan untuk mengantarkan roh ke alam selanjutnya.

Tidak hanya sekadar pembakaran jenazah, prosesi ini memiliki makna spiritual yang mendalam serta berbagai tahapan yang harus dilakukan sesuai adat.

Mengutip buku Celebrating Life Customs Around The World karya Victoria R Williams, Jumat (23/10/2026), dijelaskan dalam ajaran Hindu Bali, kehidupan dianggap sebagai siklus yang tidak terputus, dan kematian bukanlah akhir, melainkan perpindahan ke kehidupan berikutnya.

Membebaskan Roh dari Tubuh Fisik

Ngaben bertujuan untuk membebaskan roh dari tubuh fisik agar dapat melanjutkan perjalanan menuju moksha, yaitu kebebasan dari siklus reinkarnasi.

Selain itu, ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan terakhir dari keluarga kepada leluhur mereka. Melalui prosesi ini, keluarga yang ditinggalkan juga mendapatkan ketenangan batin karena telah melaksanakan kewajiban dalam menghormati arwah leluhur.

Upacara Ngaben memiliki makna spiritual dan filosofis yang mendalam. Pelaksanaannya perlu dipahami berdasarkan sastra dan tattwa Hindu, termasuk ajaran Siwa Siddhanta.

Ngaben merupakan wujud bhakti pratisentana kepada leluhur sekaligus proses penyucian atma agar terbebas dari maya, karma, dan mala melalui rangkaian upacara yang dikenal sebagai Gunapabhiseka.

Ngaben tidak semata-mata dipahami sebagai ritual kematian, tetapi merupakan bagian dari perjalanan atma dalam perspektif sekala dan niskala.

Dalam rangkaian upacara tersebut, perjalanan atma berlanjut melalui tahapan Ngaben, Nyekah, hingga Munggah Dewa Hyang di kemulan atau paibon.

Menurut ajaran Hindu bagi masyarakat Bali, upacara adat ngaben adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa kembali ke Sang Pencipta.

Api yang membakar dipercaya sebagai pelebur raga manusia di dunia untuk dapat bergabung dengan alam semesta.

Masyarakat Bali percaya, ngaben dapat menyucikan roh anggota keluarga yang sudah meninggal dunia menuju ke tempat peristirahatan terakhir.

Dalam ajaran Hindu, jasad manusia terdiri dari badan kasar (fisik) dan badan halus (atma atau roh). Badan kasar manusia dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta.

Terdiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Dari lima unsur ini akan menyatu membentuk fisik yang digerakkan oleh roh.

Jika manusia meninggal maka yang mati adalah jasad kasarnya saja tidak dengan rohnya. Sehingga, untuk menyucikan atma atau roh tersebut dilakukan upacara ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya.

Upacara ngaben menjadi ritual penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api. Api yang membakar jenazah ini dipercaya sebagai jelmaan dari Dewa Brahma. Sehingga api akan membakar semua kotoran yang melekat pada jasad dan roh jenazah.

Tiga Tujuan Utama Ngaben

Bagi masyarakat Hindu Bali upacara ngaben sendiri memiliki 3 tujuan utama. Tujuan yang pertama adalah melepaskan atma (roh) dari belenggu keduniawian. Sehingga roh dapat bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).

Tujuan kedua adalah mengembalikan 5 unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalanan Atma ke Sunia Loka.

Tujuan terakhir adalah sebagai simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas dan merelakan kepergian orang yang meninggal. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar