Mabur.co – Dampak kemarau panjang serta bencana kekeringan di wilayah DIY membuat kondisi Embung Giwangan di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, semakin memprihatinkan.
Tampungan air sekaligus ruang publik di tengah Kota Yogyakarta ini terus mengalami penyusutan air. Penyusutan bahkan semakin meluas hingga membuat sekitar 70 persen area embung mengering.
Dari pantauan di lapangan, nampak sebagian besar embung telah mengering sehingga terlihat bagian dasarnya. Nampak hanya embung di bagian sisi selatan saja yang masih terlihat menyisakan genangan air.
Mengeringnya embung juga berdampak pada kehidupan ikan di dalamnya. Ratusan ikan ditemukan mati di area embung yang mengalami penyusutan air.
Bangkai Menyengat
Bangkai ikan tersebut juga menimbulkan bau menyengat sehingga mengganggu pengunjung maupun pengguna kawasan Embung Giwangan.
Salah seorang pengguna Embung Giwangan, Paras, mengeluhkan bau menyengat dari bangkai ikan yang mati.
Ia berharap pengelola segera melakukan perawatan, terutama membersihkan area embung saat air surut seperti kondisi saat ini.
Menurutnya, kondisi embung yang mengering seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pembersihan dan penataan agar kawasan tersebut tetap nyaman digunakan masyarakat.
“Sejak beberapa hari terakhir air embung menyusut drastis. Sampai banyak ikan mati dan menimbulkan bau tidak enak. Ya cukup mengganggu. Semoga saja segera dibersihkan pihak pengelola,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).
Penyusutan air di Embung Giwangan sendiri sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa waktu terakhir. Sekitar bulan September, area embung di sisi utara diketahui telah mengering seluruhnya.
Sungai Penyuplai Air Berhenti
Hal itu terjadi karena aliran air dari sungai kecil di sisi utara yang selama ini menjadi sumber penyuplai air embung ini juga telah berhenti.
Saat itu, genangan air di sisi selatan masih bertahan meski volumenya terus berkurang. Kini, penyusutan semakin meluas sehingga hampir seluruh area embung tampak mengering.
Mengeringnya Embung Giwangan ini menjadi potret parahnya dampak kekeringan di DIY saat ini, yang mengakibatkan cadangan air di wilayah perkotaan menurun drastis.
Menyikapi hal ini Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri sebelumnya juga telah memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan hingga akhir November 2026.
Sementara itu, BMKG menyebut, awal musim hujan di wilayah DIY sendiri diprediksi baru akan terjadi pada akhir November 2026 mendatang.
Mundurnya awal musim hujan ini membuat DIY menjadi daerah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia, yang mencapai lebih dari 160 hari. ***
