Magelang Ethno Carnival, Naga Tiga Kepala Pukau Pengunjung

4 Min Read
Massive dark dragon-like parade float with multiple snarling heads and spiked armor, towering over onlookers on a street parade.
Karya Karang Taruna Dusun Mungkid dan Rambeanak berhasil tampil memukau di pergelaran Magelang Ethno Carniva di kawasan Alun-Alun Kota Magelang berkat tangan terampil sang maestro asal Mungkid. (Foto: Istimewa)

Mabur.co- Ragam kostum etnik berhias bunga mewarnai Magelang Ethno Carnival yang digelar di kawasan Alun-Alun Kota Magelang Minggu (1/11). Perpaduan busana bernuansa budaya Nusantara dengan aneka ornamen flora menjadi daya tarik. Sebanyak 40 kontingen dari berbagai daerah dan instansi ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ditambah tiga kelompok drumband, total ada 43 kelompok yang memeriahkan karnaval. Rombongan bergerak dari kawasan CPM sekitar pukul 08.00 dan menempuh rute hingga berakhir di Tugu Adipura.

Karya Karang Taruna Dusun Mungkid dan Rambeanak berhasil tampil memukau di pergelaran Magelang Ethno Carniva di  kawasan Alun-Alun Kota Magelang   berkat tangan terampil sang maestro asal Mungkid.

Dilansir akun Instagram budalrek, seorang maestro bernama Fitria Adi yang menciptakan karya naga bernama Sanamastaka. Untuk proses pembuatan terbilang cukup lama, terlebih saat awal mula membuat ogoh-ogoh. Untuk satu ogoh-ogoh bisa memakan hingga 8 bulan. “Arti Sanamastaka, artinya san artinya tiga, mastaka artinya kepala, animus dari bahas romawi artinya jiwa. Garis besarnya naga berkepala tiga yang bernyawa,”ujarnya, Senin (2/11/2026).

Fitria Adi menjelaskan,untuk berat naga  kosong tanpa operator manusia yakni  900kg kalau lengkap dengan   operator beratnya1,3 ton. “Sistem penggerakkan kita menggunakan tenaga manual yakni operator manusia bukan mesin yang mana setiap satu kepala naga,  satu operator manusia. Sedangkan untuk bahan kita menggunakan eva foam dan kerangka full besi,”katanya

Fitria Adi menuturkan, saya mulai berkarya sejak tahun 2015, hingga saat ini karya saya sudah melalang buana hingga Batang, Purworejo, Grobogan, Kendal, Purwodadi, Brebes, Wonosobo, Dieng, Semarang dan yang terjauh adalah  Senayan Jakarta. “Saya membuatnya ini tidak sendirian saya bersama komunitas saya yang bernama  komunitas PEMUJA (Pemuda Mungkid Jaya) yang di dalamnya terdapat divisi seni rupa bernama  San 3 art dan salah satu komunitas seni bernama Hurin_art yang merupakan divisi seni rupa IKRAR (Ikatan Remaja Karanganyar),”ucapnya.

Fitri Adi mengatakan, alasannya saya membuat ini  karena pada awalnya kurangnya sumber daya manusia yang terampil pada bidang ini dan belum menemukan ritme mekanisme pembuatan ogoh-ogoh karena bisa dibilang di wilayah Mungkid belum banyak sumber daya manusia yang terampil di bidang ogoh-ogoh.  Namun saat komunitas ini mulai terbiasa dalam pembuatan dan sudah menemukan ritme atau mekanisme pembuatan, dalam project keduanya hanya memakan waktu 3 bulan dan 50 kostum selama 1 bulan saja,”katanya.

Fitri Adi mengatakan, total dari pembuatan ogoh-ogoh  sekitar 18 juta dan kostum sekitar 14 juta. Dana yang digunakan murni dari sukarela warga. Tidak ada sponsor atau sumbangan lain yang menunjang produksi karya seni ini. “Kami  murni dari sukarela warga, tidak ada dana dari sponsor maupun dari instansi,”tuturnya.

Fitri Adi mengatakann Komunitas PEMUJA juga  membuat katalog untuk penyewaan kostum atau ogoh-ogoh  yang nantinya uang hasil dari penyewaan akan kembali lagi ke pembuat, dan sisanya masuk kas. Mereka juga selalu menyisihkan uang untuk fasilitas yang mereka gunakan di desa sebagai bentuk apresiasi. “Kalau dari hasil penyewaan kami prioritaskan pada individu lebih dulu, individu harus mendapat apresiasi lalu sisanya masuk kas. Gapapa kas sedikit yang penting bisa menghidupi anggota,”ucapnya.

Fitri Adi menjelaskan, sebelum tampil di Magelang Ethno Carnival karya karya dari komunitas ini banyak terekspos di media sosial terutama platform TikTok, hingga pada pencapaian puncaknya pada tahun ini adalah mendapat tawaran oleh Rusmadi yang merupakan seorang sutradara dalam acara show pagelaran  Sabang Marauke di Senayan, Jakarta. Saat pertama kali saya  dihubungi oleh Rusmadi Fitria, saya tidak langsung percaya.“Kami tidak langsung percaya ketika dihubungi pihak panitia, karena seperti yang kita tahu orang yang tampil di sana adalah orang orang pilihan saja,”ungkapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar