Shalawat Emprak, Tarian Sufi Jawa yang Memadukan Tembang dan Puji-pujian kepada Nabi

5 Min Read
Group of elderly dancers in matching batik outfits and head wraps performing a seated traditional dance on a teal stage with colorful scarfs (orange, yellow).
Sholawat Emprak (foto : lesbumi NU)

Mabur.co – Tak banyak yang tahu, masyarakat Jawa ternyata punya kesenian tradisional unik yang mirip dengan tarian sufi khas Turki. Kesenian itu bernama Shalawat Emprak. 

Berbeda dengan tarian sufi yang identik dengan gerakan berdiri dan berputar, Shalawat Emprak justru menampilkan gerakan penari dalam posisi duduk bersimpuh atau ngelemprak.

Pertunjukan Shalawat Emprak biasanya diawali dengan gerakan perlahan sejumlah penari dengan diiringi lantunan shalawat dan tembang berbahasa Jawa. 

Sambil duduk ngelemprak, para penari akan menggerakkan tubuh dan tangan mereka sambil mengikuti irama lantunan musik yang ada. 

Perpaduan Shalawat, tembang serta gerakan khas itu menjadikan Shalawat Emprak bukan sekadar hiburan, tetapi juga media dakwah dan ekspresi spiritual masyarakat Jawa.

Menurut penelitian yang dilakukan Atin Suhartini dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kesenian Sholawat Emprak disebut tak bisa dilepaskan dari tradisi keislaman di sejumlah Keraton Islam Jawa sekitar abad 16-17.

Keraton yang pada masa itu menjadi pusat pengembangan budaya Jawa sekaligus ajaran Islam yang dibawa Wali Songo memunculkan berbagai kesenian rakyat yang membawa nilai-nilai keislaman, salah satunya Sholawat Emprak.

Shalawat Emprak diperkirakan telah dikenal sejak masa Sultan Agung. Kesenian ini disebut kerap dilantunkan dalam rangkaian acara Sekaten. Jejak keberadaannya juga ditemukan dalam Serat Centhini yang menggambarkan Emprak sebagai salah satu kesenian populer pada latar kehidupan abad ke-17.

Namun, perjalanan kesenian ini tidak selalu mulus. Shalawat Emprak juga sempat menghilang setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Karena kesenian ini sering dituduh memiliki kaitan dengan PKI.

Dalam sejumlah penelitian, disebutkan bahwa Emprak semakin meredup pada 1980-an. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bentuk pertunjukan yang menyerupai wayang orang dengan memerankan tokoh malaikat dan nabi. 

Hal itu kemudian memunculkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat sehingga menbuat Emprak semakin ditinggalkan. 

Shalawat Emprak baru mulai dihidupkan kembali sekitar tahun 2011. Salah satunya oleh Kyai Jadul Maula, pemimpin Pesantren Budaya Kaliopak, Yogyakarta. 

Tujuh Rawen dan Tembang Pengiring

Pertunjukan Shalawat Emprak memiliki susunan yang khas. Pementasan biasanya digelar di pendopo rumah warga, balai desa, atau balai kelurahan. 

Kitab Maulid Al-Barzanji digunakan sebagai panduan, bersama kisah-kisah kenabian lain yang bersumber dari kitab berbahasa Arab.

Isi pertunjukan Sholawat Emprak terbagi dalam tujuh bagian yang disebut rawen. Setiap rawen memiliki tema tersendiri, mulai dari doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, kisah para sahabat, proses kelahiran Nabi, hingga perjalanan Nur Muhammad.

Pembacaan setiap bagian biasanya akan diselingi tembang yang dilantunkan secara berurutan. Diawali tembang Yo Sayyid, dan Asung Salam, disusul pembacaan mantra-mantra yang berisi doa kepada Allah. Lalu ditutup dengan tembang Alon-Alon yang memiliki pesan agar manusia berhati-hati dalam berperilaku.

Sementara itu iringan musik Sholawat Emprak biasanya menggunakan instrumen tradisional Jawa, seperti kendang, kenting, kempul, dan gong. Selain itu, digunakan pula enam buah rebana. Pada kesempatan tertentu, kentongan juga turut ditambahkan sebagai instrumen pengiring.

Empat penari laki-laki biasanya akan mengiringi lantunan tembang tersebut dengan gerakan tubuh dan tangan yang sederhana. Mereka menari dalam posisi duduk ngelemprak dengan tempo lambat.

Setelah seluruh rangkaian selesai, pertunjukan ditutup dengan doa yang dipimpin Kyai, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama menggunakan sajian tradisional berupa nasi gurih atau uduk, ayam ingkung, dan pisang raja.

Perpaduan Budaya Jawa dan Nilai Islam

Atin Suhartini menjelaskan, Shalawat Emprak merupakan bentuk kebudayaan Islam lokal Jawa. Identitas Islam tampak dari syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi bagian utama pertunjukan, sementara unsur Jawa hadir melalui bahasa, tembang, instrumen musik, dan gerak tari.

Penelitian tersebut juga menemukan adanya kemiripan unsur antara Shalawat Emprak dan praktik sufistik yang dilakukan Jalaluddin Rumi bersama para pengikutnya. Dimana keduanya memadukan teks syair, musik, dan gerakan tari yang diselaraskan.

Dalam perspektif tasawuf, unsur-unsur tersebut dapat menjadi bagian dari proses zikir dan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui metode sama’. Namun begitu Shalawat Emprak tidak secara langsung dinisbatkan sebagai bagian dari tarekat tertentu.

Meski saat ini hanya sesekali ditampilkan di momen dan lingkungan tertentu, Sholawat Emprak tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Jawa khususnya wilayah Yogyakarta yang harus terus dilestarikan 

Kesenian ini tetap merupakan seni pertunjukan budaya Islam lokal Jawa yang memiliki beragam tujuan, mulai dari dakwah hingga hiburan. Dengan perpaduan tersebut, Shalawat Emprak menjadi salah satu contoh bagaimana nilai-nilai Islam tumbuh dan diekspresikan melalui tradisi seni masyarakat Jawa.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar