Mengapa Chattra Tidak Pernah Ada dalam Tradisi Buddha Indonesia? (2-Tamat)

Redaksi mabur.co memuat bagian 2 (tamat) ulasan mengenai chattra dalam candi yang ditulis seorang arkeolog dan pengamat budaya, M. Basyir Zubair. Berikut ini adalah bagian terakhir dari ulasan tersebut.

BAGIAN KEEMPAT: MENGAPA ARGUMEN “CHATTRA ADA DI LUAR NEGERI” TIDAK VALID

Argumen yang sering muncul adalah: “Chattra ada di stupa India, Myanmar, dan Sri Lanka. Jadi seharusnya Borobudur juga punya chattra.”

Argumen ini adalah kesalahan generalisasi yang serius.

1. Chattra di India, Myanmar, dan Sri Lanka Memiliki Bukti Arkeologis yang Kuat

Chattra memang ada di India, Sri Lanka, dan Myanmar, tetapi keberadaannya di sana didukung oleh:

Bukti arkeologis langsung: Fragmen chattra ditemukan di penggalian

Kontinuitas tradisi: Chattra terus dibuat dan dipelihara hingga hari ini

Relief dan prasasti: Gambar chattra muncul dalam relief dan disebutkan dalam teks

Di Indonesia, tidak ada satu pun dari ketiga bukti ini.

2. Tradisi Buddha Tidak Monolitik

Buddhism bukanlah satu tradisi yang seragam di seluruh Asia. Ia berkembang dengan cara yang sangat berbeda di berbagai wilayah, tergantung pada jalur transmisi, konteks budaya lokal, dan periode sejarah.

Stupa di Tibet terlihat sangat berbeda dari stupa di Thailand. Stupa di Cina berkembang menjadi pagoda, bentuk yang sama sekali berbeda dari stupa India klasik.

Stupa di Jawa berkembang menjadi candi dengan teras bertingkat, sebuah adaptasi unik yang tidak ada di tempat lain.

Memaksakan chattra ke Borobudur adalah seperti memaksakan pagoda Cina ke Tibet, atau stupa India ke Thailand. Ini mengabaikan keunikan lokal yang menjadi bagian dari kekayaan tradisi Buddha itu sendiri.

3. UNESCO Mengakui Keunikan, Bukan Keseragaman

UNESCO tidak menjadikan Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia karena ia mirip dengan stupa India. UNESCO menjadikan Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia justru karena ia berbeda,  karena ia adalah “masterpiece of human creative genius” yang menunjukkan “important interchange of human values.”

Memasang chattra berarti menghilangkan keunikan itu. Berarti menyeragamkan tradisi Buddha Indonesia agar mirip dengan India.

Berarti mengabaikan 800 tahun sejarah arsitektur Buddha di Nusantara yang berkembang tanpa chattra.

BAGIAN KELIMA: IMPLIKASI UNTUK KEBIJAKAN KONSERVASI DI INDONESIA

Perdebatan tentang chattra Borobudur memiliki implikasi yang jauh lebih luas dari sekadar satu keputusan teknis tentang satu candi. Ini adalah soal bagaimana Indonesia memahami dan menghormati warisan budayanya sendiri.

1. Prinsip Keaslian dalam Konservasi

Prinsip dasar dalam konservasi warisan budaya adalah keaslian (authenticity). Menurut Nara Document on Authenticity (1994), yang menjadi standar internasional dalam konservasi, keaslian harus diukur dari berbagai dimensi:

Material: Bahan asli yang digunakan

Desain: Bentuk dan struktur asli

Teknik: Cara pembuatan asli

Konteks: Latar budaya dan sejarah asli

Chattra gagal di semua dimensi ini:

Material: Hanya 42% autentik (menurut kajian BRIN)

Desain: Tidak ada bukti desain asli dari Borobudur

Teknik: Rekonstruksi modern, bukan teknik Sailendra

Konteks: Bertentangan dengan tradisi Buddha Indonesia

2. Risiko Preseden untuk Situs Lain

Jika Borobudur bisa diubah berdasarkan spekulasi tanpa bukti arkeologis yang kuat, maka situs-situs budaya lain di Indonesia juga berada dalam posisi yang sama.

Apakah Prambanan akan dipasangi elemen “yang mungkin pernah ada” berdasarkan analogi dengan candi Hindu di India? Apakah Muaro Jambi akan direkonstruksi agar mirip dengan Nalanda di India?

Apakah kita akan mulai “melengkapi” semua candi di Indonesia berdasarkan dugaan dan analogi, bukan berdasarkan bukti arkeologis?

Borobudur bukan hanya soal Borobudur. Ini adalah soal standar yang kita tetapkan untuk seluruh warisan budaya Indonesia.

3. Tanggung Jawab terhadap Warisan Dunia

Borobudur adalah Situs Warisan Dunia. Ini berarti Indonesia memiliki tanggung jawab bukan hanya kepada bangsa Indonesia, tetapi kepada umat manusia.

UNESCO menetapkan bahwa perubahan besar pada situs warisan dunia harus:

Berdasarkan bukti ilmiah yang kuat

Melalui konsultasi dengan para ahli

Dilaporkan kepada UNESCO sebelum dilaksanakan

Menghormati nilai universal yang menjadi alasan penetapan situs tersebut

Memasang chattra tanpa bukti arkeologis yang kuat adalah pelanggaran terhadap tanggung jawab ini.

KESIMPULAN: MENGHORMATI KEUNIKAN TRADISI BUDDHA INDONESIA

Perdebatan tentang chattra Borobudur sering kali terjebak dalam pertanyaan prosedural dan teknis.

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih fundamental adalah: apakah kita menghormati tradisi Buddha Indonesia sebagaimana adanya, atau apakah kita ingin memaksanya agar sesuai dengan model dari tempat lain?

Bukti arkeologis dan sejarah sangat jelas:

Chattra tidak pernah menjadi bagian dari tradisi Buddha Indonesia

Pola ini konsisten di seluruh Nusantara, dari abad ke-5 hingga ke-13

Semua ahli arkeologi sepakat bahwa tidak ada bukti chattra di Borobudur

Keunikan Borobudur tanpa chattra, adalah bagian dari nilai warisan duniannya

Memasang chattra bukan “mengembalikan Borobudur ke bentuk aslinya.”

Memasang chattra adalah mengubah Borobudur agar sesuai dengan bayangan tentang bagaimana seharusnya stupa Buddha terlihat, bayangan yang diambil dari India, bukan dari Indonesia.

Borobudur telah berdiri selama lebih dari seribu tahun sebagai bukti keunikan dan kejeniusan tradisi Buddha Indonesia.

Lebih dari 90% dari sejarahnya adalah sejarah tanpa chattra. Keunikan inilah yang membuat UNESCO mengakuinya sebagai warisan dunia.

Menghormati Borobudur berarti menghormati keunikannya, bukan memaksanya menjadi sesuatu yang bukan dirinya. ***

SUMBER DAN REFERENSI

Sumber Akademis dan Penelitian:

1. Badruzzaman, B., et al. (2025). “Reconstructing UNESCO Heritage: A Multidimensional Policy for Theodoor Van Erp’s Chattra on Borobudur’s Main Stupa.” Research Square (preprint). DOI: 10.21203/rs.3.rs-7965261/v1

2. Bambang Budi Utomo. (2004). “Arsitektur Bangunan Suci Masa Hindu-Buddha di Jawa Barat.” Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta. ISBN 979-8041-35-6

Sumber Resmi UNESCO:

3. UNESCO World Heritage Centre. “Borobudur Temple Compounds.” whc.unesco.org/en/list/266/

4. UNESCO World Heritage Centre. “Reactive Monitoring Process.” whc.unesco.org/en/reactive-monitoring/

5. UNESCO World Heritage Centre. “Muarajambi Temple Compound — Tentative List.” whc.unesco.org/en/tentativelists/6827/

6. ICOMOS. “The Nara Document on Authenticity” (1994). icomos.org/charters/nara-e.pdf

Pernyataan Ahli dan Berita Terverifikasi:

7. Harry Sofian, peneliti BRIN. Wawancara dengan Tempo, September 2024. en.tempo.co/read/1916386/

8. Aditya Revianur dan Niken Wirasanti, Dosen Arkeologi UGM. Wawancara dengan CNN Indonesia, 12 September 2024. cnnindonesia.com/teknologi/20240912185607-199-1143956/

9. Agus Aris Munandar, Profesor Arkeologi UI. Wawancara dengan The Jakarta Post, 19 Januari 2018. thejakartapost.com/travel/2018/01/19/

10. Marsis Sutopo, Ketua IAAI. Pernyataan dikutip The Star, 17 September 2024. thestar.com.my/aseanplus/

Sumber Ensiklopedi dan Referensi Akademis:

11. Britannica. “Stupa.” britannica.com/topic/stupa.

12. The Temple Trail. “Buddhist Stupas of Southeast Asia 101.” thetempletrail.com/

13. National Geographic. “Demystifying Muarajambi.” nationalgeographic.com/travel/article/paid-content-demystifying-muarajambi (November 2024)

14. Seasia.co. “Muaro Jambi Temple: The Largest Buddhist Temple Complex in Southeast Asia.” seasia.co (Februari 2025)

15. Study Buddhism. “Muara Jambi: Where Atisha Studied in Indonesia.” studybuddhism.com

Peraturan Perundang-Undangan:

16. UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

Yogya, 4 Februari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *