Banyak kenangan membuncah bagi sastrawan R Toto Sugiharto ketika harus membicarakan tentang budayawan YB Mangunwijaya atau dikenal pula dengan sapaan Romo Mangun.
Memang, pada 10 Februari, merupakan momen yang tepat untuk menghadirkan refleksi mengenai Romo Mangun mengingat 27 tahun silam dirinya telah meninggalkan dunia fana ini.
Bagi sastrawan R Toto Sugiharto, cara berpikir Romo Mangun mampu memberikan wawasan baru. Misalnya, bagaimana menyelami atau mengeksplorasi sesuatu yang di mata orang banyak sebagai biasa saja menjadi bermakna.

“Seperti tercermin dalam bukunya Ragawidya: Religiositas Hal-hal Sehari-hari yang terbit pada 1986. Melalui buku itu Romo Mangun membuka wawasan baru tentang cara memandang dan memaknai peristiwa dalam hidup sehari-hari.
Hal-hal yang kita anggap sesuatu yang profan ternyata sarat dengan nilai-nilai religius. Makan, mengantuk, bekerja, atau apa pun aktivitas manusia. Siapa saja individu. Spiritualitas ternyata sangat lekat dengan kehidupan duniawi, individual maupun sosial,” tutur R Toto Sugiharto kepada mabur.co, Selasa (10/2/2026).
Bagi Toto pula, itu sangat autentik, unik. Sesuatu yang tidak terbayangkan oleh pembaca. Romo Mangun berhasil mengungkapkannya.
“Karya terbaik Romo Mangun adalah roman Burung-burung Manyar. Prosa yang menumbuhkan semangat nasionalisme kritis melalui representasi tokoh Setadewa alias Teto.
Romo Mangun menggunakan perspektif keluarga militer, anak kolong yang dibesarkan di tangsi. Juga mengambi latar sosial politik era revolusi hingga merdeka,” papar Toto.
Menurut Toto pula, prosa lainnya yaitu trilogi Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri juga merupakan karya yang bagus. Sosok-sosok perempuan di tangan Romo Mangun menjadi pemberani, sosok yang mandiri.
Kenangan paling berkesan bagi Toto terkait Romo Mangun adalah saat dirinya bersama beberapa kawan penulis Yogya mengalih-mediakan Roro Mendut dari novel ke skenario untuk serial berdurasi 30 menit pada 1994.
Saat itu Toto sedang memenuhi kontrak kerja dengan PT Gatra Cipta Dwipantara yang mempunyai visi mengalih-mediakan karya-karya sastra Indonesia. ***



