5 Fakta tentang Sutan Takdir Alisjahbana yang Jarang Diketahui 

Mabur.co – Siapa tak kenal Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ia merupakan tokoh sastrawan, intelektual, pengajar sekaligus pemikir besar Indonesia. 

Lahir sebagai orang Minang pada 11 Februari 1908 silam, STA merupakan tokoh pelopor sastra modern dan tokoh Angkatan Pujangga Baru paling masyhur di Indonesia. 

Namanya selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah sejak SD hingga ke tingkat perguruan tinggi khususnya jurusan sastra dan bahasa. 

Meski namanya begitu terkenal, namun mungkin ada sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui publik. Berikut lima fakta tentang Sutan Takdir Alisjahbana yang tidak banyak dibahas.

1. Keturunan Raja dan Berkerabat dengan Sutan Sjahrir

STA lahir dari keluarga terpandang di Minangkabau. 

Ibunya, Puti Samiah adalah keturunan salah seorang raja Kesultanan Indrapura yang mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari garis ibunya, STA ternyata berkerabat dengan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia.

Dalam biografinya STA tercatat menikah dengan tiga orang istri serta dikaruniai sembilan orang anak. Anak sulungnya bernama Iskandar Alisjahbana pernah menjabat sebagai Rektor ITB, sekaligus juga mertua dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada masa pemerintahan SBY, yakni Armida Alisjahbana.

2. Mengawali Karir dari Seorang Jurnalis Sekaligus Editor

Siapa sangka sebelum menjadi sosok yang dikenal seperti sekarang, STA pernah menjadi jurnalis. Setelah lulus sekolah MULO melanjutkan ke sekolah guru HKS Bandung. STA mengawali karier sebagai seorang jurnalis dan editor majalah sastra. 

Setelah bergabung dengan majalah Panji Pustaka pada 1933 atau di usia sekitar 25 tahun, ia juga mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe.

Selain melakukan kegiatan peliputan ia juga sekaligus menjadi editor di majalah yang menjadi platform bagi para sastrawan muda Indonesia untuk mengekspresikan gagasan-gagasan baru tentang kebudayaan dan sastra Indonesia tersebut.

3. Aktif Menjadi Guru dan Dosen 

Sebelum tumbuh menjadi sastrawan, pemikir, dan akademisi yang berpengaruh besar dalam perkembangan sastra serta kebudayaan Indonesia modern, STA tercatat juga aktif terlibat dalam dunia pendidikan. 

STA tercatat pernah menjadi guru di sejumlah sekolah pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Misalnya HKS Palembang. Selain itu ia juga pernah menjadi dosen di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Nasional (UN) hingga Universitas Andalas Padang dan Universitas Malaya Kuala Lumpur. 

Ia juga banyak terlibat dalam berbagai konferensi internasional yang membahas kebudayaan dan bahasa.

4. Permah Berkonflik dengan Sanusi Pane

Sebagai seorang intelektual yang dikenal sebagai tokoh yang mendorong modernisasi Indonesia, STA memilih pandangan akan pentingnya membuka diri terhadap pengaruh global dan tidak anti Barat.

Hal ini pun memicu perdebatan intelektual besar yang dikenal sebagai Polemik Kebudayaan pada 1930-an. Salah satu tokoh yang pernah berkonflik pemikiran dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) adalah Sanusi Pane.

Sanusi Pane berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia seharusnya tetap berakar pada nilai-nilai Timur, seperti spiritualitas, harmoni, dan tradisi, tanpa meniru Barat secara penuh.

Sementara STA berpandangan bahwa Indonesia harus mengarah ke modernitas Barat, dengan menekankan rasionalitas, ilmu pengetahuan, individualisme, dan kemajuan teknologi.

Meski terlibat perdebatan intelektual, perbedaan pandangan ini bukan konflik pribadi, melainkan perdebatan gagasan yang sehat dan berpengaruh besar terhadap arah pemikiran kebudayaan Indonesia hingga kini.

5. Memiliki Cita-cita Besar terhadap Bahasa Melayu

Sebagai seorang Minang yang sangat lekat dengan budaya Melayu, STA pernah bercita-cita menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. 

Menurutnya, bahasa Melayu merupakan bahasa ibu yang digunakan banyak masyarakat di sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga sebagian Filipina. 

Jumlah penutur bahasa Melayu pun terbilang cukup besar dibanding bahasa lain di dunia. Namun sayang, sampai akhir hayatnya, STA belum berhasil mewujudkan cita-cita terbesarnya tersebut. 

Hingga saat ini, bahasa Melayu gagal digunakan menjadi bahasa pengantar kawasan. Meski bahasa Melayu telah ditetapkan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *