439 Tahun JP Coen, Luka Banda Menganga

Oleh: Wahjudi Djaja

Lahir pada 8 Januari 1587 di Hoorn Belanda, Jan Pieterszoon Coen menjadi gubernur jenderal VOC paling brutal dalam lembaran sejarah Indonesia. Kakinya menginjak-injak kehormatan warga Banda, tangannya berlumuran darah karena memenggal kepala orang kaya Banda. Tiap sudut Kepulauan Banda adalah saksi bisu bagaimana genosida terjadi di Nusantara.

Istana Mini Jadi Saksi

Bila ada pulau yang berabad lamanya jadi incaran dan target bangsa-bangsa di dunia salah satunya adalah Banda. Kepulauan kecil di Maluku Tengah itu dikenal sebagai penghasil pala yang menjadi komoditas utama dunia sejak era pelayaran dunia. Kehadiran Portugis, Inggris, Belanda, Amerika adalah contoh bagaimana memikatnya Banda.

Dalam catatan Des Alwi, putera Banda anak angkat Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, JP Coen merapat di Banda pada 27 Februari 1621. Puluhan kapal dengan ratusan tentara sewaan VOC termasuk para samurai, menjadikan benteng Nassau, dibangun Verhoeven pada 1609 di atas peninggalan Portugis, sebagai markas penaklukan Banda. Upaya perlawanan tidak saja dilakukan penguasa lokal dan warga Banda tetapi juga oleh Orang Kaya Banda.

Dalam perkembangannya, kolonialisme Belanda di Banda berpusat di Istana Mini. Berlatar belakang gunung api Banda yang perkasa, istana ini menjadi saksi kolonialisme Belanda di Nusantara. Didirikan 1622, istana ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan dan pemerintahan VOC. Perlu dicatat, meskipun hanya kongsi dagang tetapi VOC diberi hak octrooi untuk menjalankan perdagangan dan pemerintahan dengan dukungan kekuatan militer.

Keindahan dan kesuburan tanah Banda memang tak ada duanya. Berdiri di depan Istana Mini ini, terbentang lautan, pegunungan dan pulau-pulau kecil. Dari istana ini, monopoli dan keserakahan serta kekejaman dipertontonkan. Bercirikan pilar-pilar kukuh dan pintu jendela yang besar, pengaruh arsitektur Eropa gaya neoklasik era Yunani Kuna, letak istana tak jauh dari benteng Belgica dan Nassau.

Welvaren, Pala, dan Luka

Salah satu nama pulau dalam gugusan Kepulauan Banda adalah Pulau Ay. Jika kita berbicara pala, pulau inilah yang masih menyisakan jejaknya. Tidak hanya perkebunan pala tetapi juga bekas bangunan, makam, gereja, pemukiman dan dapur produksi pala.

Dalam catatan sejarah, perkebunan pala setelah dijarah dan diambil alih VOC, kepemilikannya dipegang para pengusaha.

Penulis di depan Welvaren Pulau Ay Foto Dokumentasi Pribadi

Penulis sempat singgah di Pulau Ay dan menemukan jejak kejayaan pala, Welvaren yang didirikan VOC. Welvaren (bahasa Belanda artinya kemakmuran atau kesejahteraan), adalah satu dari 31 perkebunan VOC yang didirikan 1616 dan diawali oleh keluarga Van den Broeke.

Paulus van den Broeke sesungguhnya adalah seorang admiral Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Dia menginjakkan kaki di Banda Neira pada 1621 dan menjadi perkenier (pemilik kebun) yang pertama. Ekspansinya dalam menguasai perkebunan pala menggila.

Bahkan Broeke yang menguasai Pulau Ay mampu memproduksi pala berton-ton. Terbayang berapa keuntungannya saat pala tengah menjadi komoditas utama dunia. Dukungan penuh VOC, menjadikan Broeke sebagai penguasa perkebunan pala. Kejayaan memonopoli pala di Pulau Ay baru menurun setelah VOC bangkrut pada 1799.

Sejarah Banda adalah sejarah kegemilangan penguasa lokal sekaligus kehancurannya dalam mengendalikan komoditas pala dunia. VOC telah mematrikan luka menganga yang sakitnya dirasakan dari zaman ke zaman. Jamak terjadi di negara jajahan, penguasa pesta pora mengumpulkan kekayaan sedangkan rakyat tertindas. Warga Banda tidak saja dijadikan budak, tetapi juga disiksa bahkan dibunuh dan dibantai.

Lebih dari satu abad pala Banda dimonopoli VOC. Lautan Banda menyimpan bangkai kapal-kapal VOC yang karam penuh muatan pala. Banda juga menyimpan kisah pedih yang tak akan pernah bisa dihapuskan.

Sekitar 44 Orang Kaya Banda dibantai karena dianggap melawan kekuasaan VOC pada 8 Mei 1621. Sebuah sumur di dekat Benteng Nassau menjadi saksi kekejaman tentara VOC. Pembantaian ini dikenal sebagai Tragedi Parigi Rante. Selain itu, sekitar 6.000 orang Banda juga terbunuh menjadi korban. Dari Banda, VOC kemudian pindah ke Batavia memperluas kekuasaan.

Sejarah memang hanya soal kisah. Tetapi kisah sejarah Banda penuh kepedihan. Sudah 80 tahun bangsa ini merdeka, mengapa kisah pilu Banda masih sering kita dengar? Entahlah. Sulit amat mengajak bangsa ini belajar (dari) sejarah. ***

Penulis adalah Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *