Stupa Utama Candi Borobudur Dipugar, Polemik Pemasangan Chattra Kembali Mencuat

4 Min Read
Stone temple wall with multiple niches and a central arched opening, covered in scaffolding for renovation on the upper levels.
Pemugaran pada bagian stupa utama Candi Borobudur. (Foto: Radar Magelang)

Mabur.co – Otoritas pengelola Candi Borobudur membatasi akses wisatawan maupun pengunjung agar tidak naik ke lantai atas Candi Buddha terbesar di Indonesia itu hingga akhir Oktober 2026 mendatang.

Pembatasan dilakukan menyusul masih berlangsungnya proses pemugaran pada bagian stupa utama candi megah peninggalan abad 9 tersebut.

Dilansir Metrotvnews.com, Kamis (8/10/2026), pengunjung saat ini hanya diperbolehkan naik hingga lantai 8 dan 9 candi, sementara lantai 10 ditutup total agar tidak mengganggu proses pemugaran.

Adanya pemugaran pada bagian stupa utama Candi Borobudur ini pun viral di media sosial. Bukan karena dampak pemugaran yang berakibat pada pembatasan akses pengunjung. 

Melainkan karena munculnya kembali dugaan rencana pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan yang akan memasang chattra atau payung pada stupa utama Candi Borobudur.

Salah satu akun instagram @youngbuddhistasociation bahkan membenarkan adanya pemasangan chattra dalam proses pemugaran yang dilakukan saat ini tersebut. 

Meski pemerintah sendiri menyatakan bahwa proses pemugaran dilakukan untuk memperbaiki struktur batu pada stupa utama yang mengalami kerusakan, adanya dugaan pemasangan chattra ini pun langsung memunculkan polemik di tengah masyarakat. 

Dilansir Antara, chattra merupakan elemen berbentuk payung yang umumnya ditempatkan di bagian atas stupa. Bagi umat Buddha, chattra menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan, yang berkaitan dengan penghormatan dan perlindungan. 

Karena itu, tak sedikit organisasi keagamaan maupun umat Buddha di Indonesia mendorong agar chattra tersebut dapat dipasang kembali di bagian puncak stupa utama Candi Borobudur.

Bertentangan dengan Kajian Arkeologis

Meski begitu bagi sebagian kalangan lain, pemasangan chattra ini dinilai bertentangan dengan kajian arkeologis serta melanggar ketentuan cagar budaya. 

Beberapa tahun lalu, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), sebagaimana dikutip CNN bahkan secara tegas menolak rencana pemasangan chattra oleh pemerintah tersebut.

IAAI menilai rencana pemasanan chattra di bagian stupa induk Borobudur tidak memehuni aspek akademis dan prosedur yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah, namun hanya menerka-nerka.

Pemasangan Chattra Bukan Hal yang Baru

Polemik terkait pemasangan chattra pada stupa utama Candi Borobudur sendiri bukan hal yang baru. Dalam sejarahnya, pemasangan atau rekonstruksi chattra tercatat pernah dilakukan oleh Theodoor van Erp pada masa pemugaran awal abad ke-20.

Namun chattra tersebut kemudian dilepas kembali karena masih terdapat ketidakpastian mengenai bentuk dan susunan aslinya. Bahkan ada yang menyebut batu penyusun chattra yang direkonstruksi kala itu diragukan keasliannya.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan sendiri sepertinya memang tengah mendorong proses rekonstruksi atau pemasangan kembali chattra di stupa utama Borobudur. 

Hal itu terlihat dari sikap maupun pernyataan Mendikbud Fadli Zon beberapa waktu belakangan. Salah satunya menetapkan Candi Borobudur sebagai pusat ibadah dan wisata religi prioritas bagi umat Buddha di Indonesia dan dunia. 

Tidak Mengubah Struktur Candi

Tak hanya itu, dalam satu kesempatan Fadli Zon juga pernah mengungkapkan pandangannya terkait polemik pemasangan chattra ini.

Ia menyebut bahwa pemasangan chattra tidak akan mengubah struktur candi karena sifatnya dapat dilepas kembali. 

Terlepas dari semua itu, menarik untuk ditunggu seperti apa hasil pemugaran yang tengah dilakukan pemerintah pada bagian stupa utama Candi Borobudur saat ini. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar