Yudi Latif - Mabur.co - Page 2

Yudi Latif

Cendekiawan Muslim, Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

By Yudi Latif

Man in a white suit with a red tie sits at a marble table, five women in lace dresses stand behind him in a warmly lit, luxurious room.

Kepada Wanita

Saudaraku, lelaki boleh mendirikan dinding rumah, menyusun atap, dan menegakkan tiang yang kokoh —tetapi wanitalah yang meniupkan napas kehidupan ke dalamnya. Dari tangannya, ruang...
Man in an orange jacket stands with hands pressed together in front of a large painting featuring blue-robed, faceless figures holding candles (pink-hooded figure center).

Dekadensi Korupsi

Saudaraku, tsunami korupsi menerjang negeri—dari pusat hingga pinggiran kuasa—menyisakan satu tanya yang menggedor: dari mana semua kejahatan ini bermula? Bukan dari kekurangan harta, melainkan...

Kerentanan Ideologis

Saudaraku, Indonesia memasuki ketegangan global dengan kaki teringkus dan posisi ideologis yang goyah. Terbukti, ketahanan ideologis pemimpin politik itu tak dapat diukur dari kerasnya...

Politik Cerdas

Saudaraku, Indonesia telah membakar gunungan uang untuk politik pembodohan. Saatnya beralih menuju politik kecerdasan dengan menjalin hubungan sehat antara politik dan pendidikan. Relasi mutualistis...

Etos Kerja

Saudaraku, “Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir,...

Negara Cerdas

Saudaraku, para pemikir kenegaraan lintas zaman dan lintas mazhab cenderung menyepakati hubungan integral antara negara dan pengetahuan. Negara sendiri didefinisikan sebagai organisasi rasional dari...

Keluar dari Kemelut

Saudaraku, hendak ke mana demokrasi kita menuju? Pertanyaan reflektif seperti itu sulit terlintas dan terpikirkan elit politik dan ilmuwan pengamat hari ini karena mengidap...

Tirani Keintiman

Saudaraku, kehidupan sosial-politik kita mengalami erosi mendasar. Ruang publik yang dulu lapang bagi gagasan dan perdebatan kini mengkerut, terhimpit urusan personal. Seperti nubuat Richard...