Saudaraku, kehidupan sosial-politik kita mengalami erosi mendasar. Ruang publik yang dulu lapang bagi gagasan dan perdebatan kini mengkerut, terhimpit urusan personal.
Seperti nubuat Richard Sennett dalam The Fall of Public Man, kita menyaksikan keruntuhan manusia publik—akibat pergeseran dari kehidupan publik yang terbuka menuju dunia yang kian terkurung dalam isu privat.
Di sinilah tumbuh apa yang ia sebut: tirani keintiman. Batas antara publik dan privat memudar; ruang publik tak lagi ditopang jarak sosial yang sehat, melainkan dorongan untuk serba dekat dan personal.
Politik kehilangan wataknya sebagai panggung kepublikan dan berubah menjadi cermin kepribadian: yang dinilai bukan lagi pikiran, melainkan pribadi; bukan program, melainkan persona; bukan nalar, melainkan kesan.
Media sosial mempercepat perubahan ini, mengubah ruang publik menjadi panggung emosi, di mana kejujuran kerap disalahpahami sebagai membuka seluruh kehidupan pribadi. Kemarahan, simpati, serta kedekatan pribadi lebih menonjol daripada argumen yang jernih.
Opini publik kini dibentuk oleh apa yang terasa benar, bukan alasan yang kuat. Kebenaran jadi pribadi, sulit dipertemukan, mudah diperdebatkan tanpa ujung. Perdebatan kehilangan makna dialog, karena masing-masing hanya mengulang keyakinannya sendiri.
Kita makin sulit berhadapan dengan orang berbeda—yang tak dikenal atau tak sepemikiran. Padahal, kehidupan publik menuntut kemampuan berinteraksi tanpa harus terlalu dekat; jarak sosial bukan ancaman, melainkan prasyarat kebebasan bersama.
Kini kita cenderung berkumpul dengan yang serupa—pandangan, identitas, keyakinan. Kota padat secara fisik, tetapi renggang secara sosial; yang berbeda terasa jauh, yang asing mudah dicurigai. Demokrasi kehilangan napasnya ketika perasaan terhadap pribadi mengalahkan penilaian gagasan, dan “manusia publik” pun pudar.
Tanpa etika, batas, dan jarak yang disepakati, ruang publik menjadi pelampiasan diri, bukan tempat perjumpaan warga. Landasan kebajikan hidup bersama pun ambruk, meninggalkan demokrasi rapuh dan rentan digoyahkan sentimen sesaat.



