Boyong Kedhaton dari Bukit Gamping

4 Min Read
Sketsa pembangunan Keraton Ngayogyakarta di antara Kali Code dan Kali Winongo (Foto: PNI)

Mabur.co – Yogyakarta tidak lahir di keraton. Ia lahir di pesanggrahan darurat di bukit kapur Gamping. Setelah Palihan Nagari Giyanti 13 Februari 1755, Mataram pecah.

Pakubuwono III tetap di Surakarta. Pangeran Mangkubumi, yang lalu bergelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah, mendapat separuh wilayah.

Sebulan kemudian, Kamis Pon 29 Jumadilawal 1680 Jawa / 13 Maret 1755 Masehi, ia memproklamasikan nama Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ibu kotanya, hutan Beringin, di antara Kali Code dan Kali Winongo, tempat ini dulu ada Dalem Garjitawati milik Pakubuwono II.

Hutan itu belum bisa ditempati maka Sultan memerintahkan membangun pesanggrahan sementara di Ambarketawang, Gamping, kaki Gunung Gamping, delapan bukit yang formasinya seperti benteng: Ambar Tawang, Gong, Gedhe, Buta, Petruk, Padasan, Tlaga, Kliling.

Ambar Ketawang: Tempat Tinggi yang Harum

Secara etimologi, ambar berarti harum, ketawang berarti tinggi, tempat tinggi yang harum.

“Selama proses pembangunan yang berlangsung hampir satu tahun, Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarganya tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang,” tulis Kompas.com.

Di Ambarketawang inilah pusat logistik keraton disusun. Batu gamping dari Gunung Gamping ditambang sebagai labur, perekat dinding keraton.

Di sinilah mitos itu muncul. Saat penambangan, Abdi Dalem Ki Wirosuto dan keluarganya tertimpa longsor. Untuk mengenang pengorbanannya, Sultan menggelar upacara yang kemudian dikenal sebagai Saparan Bekakak di Gamping hingga sekarang, pengorbanan anak gadis simbolis yang diganti dengan bekakak ayam.

Mangkubumi Boyong Kedhaton

Tepat setahun mesanggrah. Kamis Pahing 13 Sura 1682 Jawa / 7 Oktober 1756 Masehi, Pangeran Mangkubumi boyong kedhaton dari Ambarketawang menuju Pesanggrahan Garjitowati di Pacethokan Keraton yang baru jadi separuh.

Perpindahan itu ditandai candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal, dua ekor naga yang ekornya saling melilit. Kini masih bisa dilihat di ukiran di atas Regol Kemagangan.

Maknanya, Sari Rasa Tunggal, kesatuan kegotong-royongan dan kewibawaan raja.

“Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan dari Pesanggrahan Ambarketawang masuk ke dalam Keraton Ngayogyakarta,” tulis Jogya.com dalam ulasan Sejarah Hari Ulang Tahun Jogja.

“Sultan Hamengku Buwana I dan keluarga mesanggrah di Ambarketawang sejak 9 Oktober 1755 menunggu selesainya pembangunan keraton. Beliau beserta keluarga dan pengikutnya memasuki keraton secara resmi pada Hari Kamis Pahing, 7 Oktober 1756. Tanggal tersebut yang dijadikan dasar penetapan 7 Oktober sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta,” tulis portal BorobudurSunrise.net.

Keraton Belum Sempurna

Saat itu keraton belum sempurna. Sultan menempati Gedhong Sedhahan dulu untuk memerintah.

“Tapi sejak hari itu, sumbu filosofis Merapi – Tugu – Kraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan mulai berfungsi. Maka 7 Oktober bukan sekadar pindah rumah raja. Ia adalah hari ketika hutan Beringin berubah menjadi negara, dan bukit gamping berubah menjadi petilasan titik nol Jogja.

Sebab itu ke depan kita harus membuat satu ivent nguri-uri kebudayaan di kawasan minimal antara Gamping hingga Kali Progo. Setidaknya untuk mengingatkan bahwa Ngayogyakarta Hadiningrat dimulai dari kawasan ini,” pungkas Dr. Nur Iswantara, M.Si, budayawan dan akademikus ISI Yogyakarta. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar