Mabur.co – Geger besar kembali terjadi di Bangsal Sewoko, salah satu bangunan yang memiliki nilai dan posisi sangat penting serta sakral di Keraton Surakarta, Minggu (18/1/2026) kemarin.
Kericuhan terjadi saat Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hendak menyerahkan SK Menteri terkait penunjukan KGPH Tedjowulan sebagai pengelola Keraton Solo.
GKR Timoer Rumbai yang berada di kubu Pakubuwono XIV Purboyo melakukan interupsi dan menolak SK tersebut. Sehingga memicu kemarahan di kubu Pakubuwono XIV Hangabehi.
Geger besar di kompleks inti lingkungan dalam Keraton Surakarta semacam ini, mengingatkan kita akan peristiwa sejarah masa lalu, yang juga pernah terjadi di tempat ini.
Tepat 41 tahun silam, di bulan yang sama, geger besar juga pernah terjadi di Bangsal Sewoko. Tepat pada malam Jumat Wage tanggal 31 Januari 1985, Bangsal Sewoko yang disakralkan ini hancur lebur setelah terjadi kerbakaran hebat di kompleks Keraton Surakarta.
Bangsal Sewoko yang merupakan bangunan inti keraton yang biasa digunakan untuk upacara penting, sekaligus singgasana raja saat menerima tamu agung atau pejabat penting ini, ludes terbakar habis menjadi tumpukan abu.

Koran Tempo yang terbit 16 Februari 1985 silam bahkan mencatat tumpukan abu yang berasal dari atap sirap, plafon, hingga tiang-tiang kayu jati Bangsal Sewoko ini sempat dikumpulkan dan tidak boleh dibuang karena dianggap sakral.
Saat pembersihan, dari tumpukan abu tersebut bahkan ditemukan sekitar 40 kg emas, yang semula dipasang di tiang dan blandar bangunan Bangsal Sewoko ini yakni sebagai penolak bala.
Selain Bangsal Sewoko, sejumlah bangunan inti lain yang ada di Keraton Surakarta ini juga diketahui ludes. Di antaranya adalah Ndalem Ageng Prabasuyasa, Paringgitan, Sasana Parasdya, Bangsal Paningrat, Bangsal Malige, Sasana Handrawina, hingga Ndalem Paku Buwanan.
Akibat kebakaran ini sebanyak 80 persen bangunan Keraton Surakarta tercatat mengalami kehancuran atau kerusakan parah sehingga menjadi pukulan berat bagi seluruh keluarga keraton yang pada masa itu dipimpin Pakubuwono XII.
Setelah tragedi itu, Presiden Soeharto kala itu bahkan memimpin langsung membentuk tim khusus untuk melakukan proses pemugaran.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kebakaran yang terjadi di Keraton Surakarta di tahun 1985 ini bukan hanya sekadar musibah biasa. Lebih dari itu, hancurnya bangunan keraton ini menjadi pertanda atau simbol hilangnya Wahyu Kedaton atau restu Ilahi di Kasunanan Surakarta.
Terlebih di Bangsal Sewoko itulah Dampar Kencana atau tempat Singgasana Raja yang begitu disakralkan ikut hangus terbakar hingga hancur menjadi abu. ***



