Mabur.co- Goa Selarong di Kembang Putihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, memiliki kaitan erat dengan sejarah Pangeran Diponegoro. Goa Selarong berada di perbukitan dan harus melalui ratusan anak tangga untuk mencapai puncak. Sesampainya di puncak, terdapat dua goa yang masing-masing bernama Goa Kakung dan Goa Putri. Tampak pula gapura berwarna putih kombinasi kuning yang berada di mulut kedua goa yang berjejeran itu. Kondisi kedua goa itu sendiri tampak gelap namun bersih.
Selain itu, suasana di Goa Selarong sendiri masih sangat asri karena banyak pepohonan di sekelilingnya. Bahkan, terdapat air terjun di samping Goa Kakung. Adapun lokasi goa tersebut berjarak 12 kilometer dari rumah Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Sulistyo, warga sekitar menjelaskan, Goa Selarong merupakan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro dan pengikutnya dalam perang Jawa dari serangan Belanda saat melakukan gerilya pada 1825-1830.
“Goa Selarong memiliki dua goa utama, yaitu, Goa Putri di sebelah timur dan Goa Kakung di sebelah barat. Konon Goa Kakung digunakan sebagai tempat peristirahatan Pangeran Diponegoro. Sedangkan Goa Putri digunakan sebagai tempat peristirahatan istri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Ratnaningsih,” tuturnya, saat ditemui di lokasi, Senin 5 Januari 2026.

Sulistyo menjelaskan, Goa Selarong memiliki legenda yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata oleh tentara Belanda. Bahkan tentara Belanda pernah akan menangkap Pangeran Diponegoro di tempat ini namun urung. Tentara Belanda hanya melihat goa dan bebatuan saja. Padahal di dalamnya ada Pangeran Diponegoro dan pengikutnya.
Dulu setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon masyarakat sekitar kerap mendengar suara gamelan gending Jawa.
“Goa ini juga menjadi tempat bermeditasi Pangeran Diponegoro dan tempat menempa ilmu kesaktian dari Kyai Secang dan Kyai Usrek,” tuturnya.
Sulistyo menuturkan, di dalam Goa Selarong memiliki mitos, yakni, pengunjung dilarang keras melakukan ritual pesugihan atau meminta nomor togel dan harus berkata sopan.
“Tempat ini dipercaya warga sekitar, bagi pengunjung yang tidak mengikuti mitos ini akan mendatangkan malapetaka,” tuturnya.

Salah seorang pengunjung, Purnomo, asal dari Magelang mengatakan, tertarik datang karena butuh suasana hening. Ingin bermeditasi untuk mendekatkan kepada Sang Kuasa sesuai dengan tradisi Jawa.
“Tempat ini cukup sepi cocok untuk bermeditasi,” katanya.



