Mabur.co – Puluhan karya seni rupa dari 20 seniman lokal dan internasional memenuhi kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, 4 hingga 28 Oktober mendatang.
Karya-karya tersebut menjadi bagian dari Jakarta Biennale 2026, pameran seni rupa kontemporer internasional yang mencoba mempertemukan seni dengan berbagai persoalan kehidupan di kota metropolitan.
Problematika Urban
Mengusung tema kuratorial “Kebal”, Jakarta Biennale tahun ini mencoba melihat bagaimana masyarakat urban harus berjuang keras menghadapi berbagai tekanan dan perubahan kehidupan kota seperti Jakarta.
Perwakilan Majelis Jakarta, Bagus Purwoadi, mengatakan tema “Kebal” dipilih untuk merepresentasikan identitas masyarakat urban, terutama para kelas pekerja.
“20 seniman yang karyanya dipamerkan merupakan hasil keputusan dari hasil diskusi,” ujar Bagus, dilansir BeritaJakarta.id, Senin (5/10/2026).
Digelar sebagai hasil kolaborasi Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UP PKJ TIM), Majelis Jakarta, serta Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jakarta Biennale 2026 tidak hanya menghadirkan karya seni di dalam ruang pamer.
Tahun ini penyelenggara juga menghadirkan sejumlah program lain yang turut melibatkan publik. Salah satunya adalah program “Ruang Tamu”, platform yang dikelola sejumlah kolektif seni dan tersebar 13 titik di Jakarta.
Program tersebut dirancang untuk membawa aktivitas seni lebih dekat dengan masyarakat sekaligus membuka ruang pertemuan antara seniman, komunitas, dan warga di berbagai pelosok Jakarta.
Menurut Bagus, keberadaan berbagai ruang tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan Jakarta Biennale sehingga tidak berhenti di kompleks TIM saja.
“Selain Ruang Tamu, Jakarta Biennale juga merancang beberapa program publik berupa diskusi, lokakarya, performance art, pertunjukan musik, pameran serta beberapa aktivasi lainnya, di antaranya bincang seniman, lokakarya zine, dan sebagainya,” paparnya.
Alat Komunikasi dengan Masyarakat
Sementara itu, Ketua Komite Seni Rupa DKJ, Daniella Fitria Praptono, mengatakan karya-karya yang dipamerkan dalam rangkaian Jakarta Biennale ini diharapkan dapat menjadi alat komunikasi dengan masyarakat.
Karena itu, program Ruang Tamu ditempatkan di berbagai titik kota Jakarta agar seni tidak hanya dinikmati oleh pengunjung galeri atau ruang pamer.
“Intinya adalah resilient dan harapan seni,” tutur Daniella.
Pendekatan tersebut membuat Jakarta Biennale 2026 tidak hanya berbicara tentang karya seni, tetapi juga tentang bagaimana seni dapat berhubungan dengan kehidupan masyarakat kota.
Kepala UP PKJ TIM, Harry Sanjaya, mengatakan Jakarta Biennale 2026 dirancang sebagai kegiatan yang kolaboratif dan responsif terhadap isu-isu aktual.
Menurutnya, penyelenggaraan biennale di TIM akan dapat membuka ruang dialog antara seniman, komunitas dan masyarakat secara luas.
“Jakarta Biennale mengingatkan bahwa TIM bukan sekadar tempat memamerkan karya, tetapi ruang bertemunya seniman, komunitas, gagasan, dan masyarakat,” ucap Harry.
Ia berharap TIM terus menjadi ruang terbuka bagi perkembangan seni sekaligus tempat bertemunya berbagai gagasan yang tumbuh di Jakarta.
“Kami ingin TIM terus menjadi rumah yang terbuka bagi perkembangan seni dan berbagai gagasan yang tumbuh di Jakarta,” tandasnya.
