Jadi Peringatan Serius, Kasus Bunuh Diri di DIY Masih Tinggi - Mabur.co

Jadi Peringatan Serius, Kasus Bunuh Diri di DIY Masih Tinggi

Mabur.co– Kasus bunuh diri yang terus bermunculan di Yogyakarta  menjadi peringatan serius bagi berbagai pihak tentang pentingnya penguatan layanan kesehatan mental. 

Data Dinas Kesehatan DIY menunjukkan sepanjang tahun 2025 terdapat 67 kasus bunuh diri di DIY.

Kasus serupa juga masih terjadi pada 2026, dengan dua peristiwa gantung diri yang dilaporkan pada awal tahun ini.

Terakhir salah seorang mahasiswa gantung diri di kos pada awal Maret 2026 lalu.

Angka tersebut menunjukkan persoalan kesehatan mental di wilayah ini masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Pada saat seseorang melakukan bunuh diri, biasanya mereka sudah merasa hidupnya selesai. Ada rasa sakit yang sangat dalam secara psikis yang tidak bisa mereka tanggung.

Direktur Indonesian Hypnosis Centre, Avifi Arka menjelaskan, seseorang tidak mampu menanggung rasa sakit secara psikis, sering kali mereka mengonversinya menjadi sakit fisik dengan melukai diri sendiri.

Jika kondisi ini terus berlanjut dan tidak mendapatkan bantuan, maka risiko bunuh diri bisa meningkat.

Kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak awal jika seseorang mendapatkan akses bantuan psikologis yang memadai. Bantuan itu bisa melalui konselor, psikolog, psikiater, maupun hipnoterapis.

Selain pendekatan psikologi dan psikiatri yang selama ini dikenal masyarakat, hipnoterapi dinilai dapat menjadi salah satu alternatif intervensi untuk membantu menekan angka kematian akibat masalah psikologis tersebut.

“Bunuh diri umumnya berawal dari luka batin dan tekanan psikologis yang sangat dalam sehingga seseorang merasa tidak mampu lagi menanggung beban emosionalnya,” ucapnya saat ditemui di  Fakultas Psikologi UGM, Selasa (7/4/2026).

Sementara itu, salah satu mahasiswi S2 UGM, Yunia Putri Mulyana, mengatakan, kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa Yogyakarta dalam beberapa waktu terakhir cukup marak.

Tidak saja terjadi di kamar kos, tapi juga di area publik. Kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa itu sudah jadi alarm serius, bukan cuma masalah pribadi lagi.

Banyak faktor yang bisa jadi pemicu, mulai dari tekanan kuliah, percintaan (termasuk patah hati), sampai rasa kesepian apalagi kalau tinggal di kos jauh dari keluarga.

“Yang perlu disadari, patah hati atau masalah hidup itu memang berat, tapi bukan berarti satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri hidup,” ucapnya.

Yunia mengatakan, kadang yang dibutuhkan itu sebenarnya cuma tempat cerita dan didengar. 

Sebagai mahasiswa, kita bisa mulai dari hal kecil, di antaranya, lebih peduli sama teman (jangan cuek kalau lihat ada yang berubah).

“Nggak nge-judge orang yang lagi struggling, berani cerita kalau lagi capek atau stres dan  cari bantuan profesional kalau memang perlu. Kampus juga harus lebih aktif, misalnya ngasih layanan konseling yang gampang diakses dan edukasi kesehatan mental oleh ahlinya. Intinya, jangan anggap bunuh diri sebagai solusi, dan jangan juga merasa harus kuat sendirian,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *