Kesenian Jadi Tameng Sekolah dari Ancaman Paham Radikalisme - Mabur.co

Kesenian Jadi Tameng Sekolah dari Ancaman Paham Radikalisme

Mabur.co – Bertempat di sebuah pendopo Joglo yang ada di kompleks sekolah, sejumlah siswa-siswi SMA Negeri 1 Temon, Kulon Progo, Yogyakarta terlihat asyik bermain karawitan.

Mengenakan busana tradisional Jawa sederhana, mereka terlihat begitu terampil memainkan berbagai alat gamelan mulai dari saron, demung, kenong, hingga kempul dan gong.

Setiap beberapa hari sekali, setiap pulang sekolah mereka akan rutin berkumpul di tempat ini untuk berlatih bersama. Suasana menyenangkan yang penuh rasa kebersamaan begitu terlihat di setiap kegiatan mereka.

Tak hanya sekadar bermain gamelan dan nguri-nguri budaya Jawa, para siswa ini juga kerap menggelar berbagai kegiatan di tempat ini.

Mulai dari bercerita, menari, diskusi, membedah buku, hingga membuat tulisan puisi, macapat, dan sebagainya.

Lewat kelompok bernama Swara Aksa Stesa, para siswa tak sekadar mengisi waktu senggang mereka untuk melakukan kegiatan positif di bidang literasi dan budaya.

Namun juga sekaligus sebagai tempat belajar banyak hal. Mulai dari rasa kebersamaan, kekompakan, kehalusan budi pekerti, hingga nilai-nilai luhur dan kearifan lokal lainnya.

Salah seorang guru SMA Negeri 1 Temon, Heni Pastiwi, menyebut lewat kegiatan ekstrakurikuler semacam itulah sekolah mengajak siswa untuk bisa mengenali jati dirinya.

Sehingga mereka tidak akan mudah terjerumus dalam berbagai pengaruh negatif di tengah arus pengembangan teknologi informasi yang begitu cepat seperti saat ini.

“Di era dunia digital seperti saat ini, tantangan anak-anak usia remaja memang tidak mudah. Informasi datang begitu cepat, tetapi tidak semuanya membawa dampak positif,” ujar Heny.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membangun karakter siswa sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dan ancaman zaman termasuk di internet. 

Mulai dari kejahatan online, paparan konten pornografi, penyebaran hoaks hingga ideologi yang dapat memecah belah, termasuk paham radikalisme yang kerap menyasar kalangan muda.

Penerapan pendidikan karakter melalui kegiatan seni dan budaya di lingkungan sekolah dinilai menjadi salah satu upaya yang cukup efektif untuk membentengi siswa dari pengaruh negatif.

Termasuk juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Nilai-nilai tersebut diyakini mampu menjadi benteng bagi para pelajar agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem yang berkembang di era digital seperti saat ini.

Heny menjelaskan, melalui kegiatan seperti karawitan, sastra, hingga diskusi budaya, para siswa dapat belajar untuk lebih terbuka, saling bertukar wawasan dan bekerjasama hingga menghargai satu sama lain.

“Di situ mereka bisa belajar banyak hal. Termasuk untuk saling menghargai, bekerjasama, hingga menjaga toleransi,” jelasnya.

Sementara itu sejumlah siswa yang tergabung dalam kelompok ini sendiri juga mengaku merasakan manfaat dari kegiatan kesenian dan budaya tersebut. 

Selain bisa mengasah keterampilan di bidang seni, lewat kegiatan semacam itu mereka juga merasa memiliki ruang untuk mengekspresikan diri secara positif bersama teman-temannya.

“Senang karena bisa punya banyak teman yang berbeda-beda. Jadi di sini kita bisa sama-sama  belajar untuk saling menghargai satu sama lain dan tetap menjunjung tinggi kerukunan,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *