Konferensi Asia Afrika 1955: Saat Suara Indonesia Memenuhi Cakrawala

Oleh: Wahjudi Djaja*

Generasi pertama elite politik kita sungguh bisa diandalkan. Mereka tidak saja kenyang dengan asam garam penjajahan tetapi kebanyakan berasal dari kaum bangsawan baru. Lahir dari sistem pendidikan Barat tetapi menjadi konseptor dan protagonis bangkitnya nasionalisme Indonesia.

Silakan baca Preambule Konstitusi 1945. Nilai-nilai keutamaan yang diangkat dan dibawa tidak saja membumi dan autentik tetapi juga universal dan humanis. Mereka mendesain negara bangsa dalam kerangka ketimuran tanpa meninggalkan asas hubungan antarbangsa. Nilai-nilai itu bukan saja telah mempribadi dalam dirinya tetapi juga mengalir dalam tulisan dan gerakan. Kuat visi, berdaya jelajah dan paham bagaimana merajut kebersamaan di antara bangsa-bangsa di dunia, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sepuluh tahun Indonesia merdeka dilalui dengan dinamika revolusi kemerdekaan dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan. Diselingi pemberontakan, pengkhianatan dan agresi penjajahan, tak sedikit pun menghilangkan komitmen antipenjajahan. Dasarnya jelas: kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Bagaimana para pendiri bangsa bisa merangkai kalimat sedemikian indah dan sarat makna hingga menginspirasi bukan saja bangsa-bangsa di dunia tetapi jug badan dunia? Itulah perantauan intelektual yang dilakukan kaum intelektual kita. Mereka menapaki jenjang pendidikan bahkan di negara yang mempraktikkkan kolonialisme dan imperialisme tetapi mampu menyaring ilmu pengetahuan dan memformulasikan dalam konteks perjuangan bangsa.

Penulis di Gedung Merdeka

Bukan hal aneh jika beragam ide dan gerakan mereka inisiasi bersama para pemimpin pergerakan dari berbagai negara. Gedung Merdeka Bandung menjadi saksi bagaimana delegasi 29 negara di Asia dan Afrika dalam Konferensi Asia-Afrika pada 1955 dibakar semangat dan kesadarannya oleh Bung Karno:

Orang sering mengatakan kepada kita, bahwa “kolonialisme sudah mati”. Janganlah kita mau tertipu atau terninabobokan olehnya! Saya berkata kepada Tuan-tuan, kolonialisme belumlah mati. Bagaimana kita dapat mengatakan ia telah mati selama daerah-daerah yang luas di Asia dan Afrika belum lagi merdeka!
Dan, saya minta kepada Tuan-tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita berbagai-bagai wilayah Asia dan Afrika, mengenalnya. kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat.

Bukan Bung Karno kalau tidak mampu mengidentifikasi permasalahan lalu melemparkan gagasan cemerlang sebagai solusi. Tak jauh dari Gedung Merdeka, ada situs penjara Banceuy dimana dia pernah ditahan karena aktivitas politiknya. Bukannya menyerah tetapi di dalam penjara Sukamiskin dia justru menyusun tesis tentang neokolonialisme dan neoimperialisme. Dia bacakan di depan landraad pada 1929 dengan penuh percaya diri seolah memberi kuliah kepada para mahasiswa.

Patung Bung Karno di sisa penjara Banceuy Foto Wahjudi Djaja

Konferensi Asia Afrika pun berlangsung 18-24 April 1955. Menteri Luar Negeri Mr. Soenario berhasil menjadi dirigen yang mampu mendinamisasi konferensi. Bersama delegasi Burma, India, Pakistan, Srilanka, Indonesia membawa mersusuar saat dunia dihadapkan pada Perang Dingin. Lahirlah Dasasila Bandung. Sebuah endapan pemikiran yang tidak saja menginspirasi tetapi juga menggerakkan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika serta Latin Amerika untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain di dunia. Nama Sukarno harum di berbagai sudut Afrika menjadi nama jalan.

Dasasila Bandung antara lain memuat:
1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
10..Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

Peran dan kepeloporan Indonesia pada masanya diakui dan dirasakan dunia. Para diplomat kita bak singa podium yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Bung Karno pun kemudian mempelopori berdirinya Gerakan Non Blok yang mengambil inspirasi dari KAA. Negara adikuasa dibuat pusing akibat ulah Indonesia. Negara dunia ketiga yang mampu memainkan peran kesejarahan dengan amat mengesankan.

Pada 2022 saya menyusuri kompleks Gedung Asia Afrika seperti diajak menemukan misteri sejarah kemanusiaan. Hanya dipahami sebagai tempat konferensi yang dimotori Bung Karno, tak banyak diketahui siapa dan apa peran Ali Sastroamidjojo (Ketua Umum KAA), Mr. Soenario (Sekretaris), atau Roeslan Abdul Ghani (Juru Bicara). Mereka didukung oleh tim yang berdedikasi dan berdaya jelajah.

Biarlah itu rapi tersimpan di almari arsip. Ada satu tokoh yang juga sering dilupa. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Dialah arsitek gedung KAA yang oleh Sukarno, mahasiswanya, diberi nama Gedung Merdeka. Tangan dingin dosen arsitek Technische Hoogeschool te Bandoeng kelahiran Banyubiru Ambarawa ini, masih bisa ditemukan di Bandung seperti Bioskop Majestic, Landmark Building, Gedung Jaarbeurs, Penjara Sukamiskin, Gereja Bethel, Katedral St. Petrus, Masjid Cipaganti atau Teropong Bintang Bosscha.

Gedung Landraad Bandung

Bagaimana dengan karya Sukarno? Mahasiswa favorit Schoemaker ini meninggalkan beberapa jejak seperti rumah di Jalan Kasim, rumah dinas Wali Kota Bandung di Jalan Dalem Kaum, Hotel Lengkong, sebuah rumah di Jalan Palasari, serta paviliun utara Hotel Grand Preanger di Jalan Asia Afrika. Yang terakhir ini kolaborasi Sukarno dengan dosen yang amat dia hormati itu.

Melihat karya mahasiswa kebanggaannya, pernah suatu saat Schoemaker berulang memintanya untuk bekerja di pemerintah. Lalu, bagaimana jawaban Sukarno?

Profesor, aku menolak untuk bekerja sama, supaya tetap bebas dalam berpikir dan bertindak…dan aku ingin membangun sebuah rumah besar, yaitu sebuah negara dari usahanya sendiri“.

Hanya karena menghormati dosennya, Sukarno beberapa saat kerja DPU-nya Belanda, kemudian terbang dengan imajinya tentang sebuah negeri bernama Indonesia.

Begitulah sejarah. Dia hanya peristiwa di masa lampau jika kita hanya bisa mengambil abunya. Namun jika kita mengambil apinya–seperti pesan Bung Karno–kita akan menjelma menjadi bangsa yang besar dan berkepribadian. Sayangnya, kini kita dapati elite politik yang tidak saja gagal belajar sejarah tetapi justru memadamkan apinya. Laku hidup dan dedikasinya telah terkontaminasi oleh kepentingan keluarga dan kelompoknya. Jangan salahkan sejarah jika bangsa ini kemudian terjebak dalam penjajahan neokolim.
(Dari berbagai sumber)

*Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *