Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima audiensi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) untuk membahas penguatan kerja sama dalam pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan manuskrip Nusantara sebagai bagian penting dari pemajuan kebudayaan.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (5/3/2026) dijelaskan, pertemuan ini menegaskan komitmen bersama dalam menjaga manuskrip Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan warisan budaya bangsa.
Manassa merupakan organisasi profesi pernaskahan yang didirikan pada 5 Juli 1996 oleh almarhumah Prof. Ikah Halil, guru besar filologi Universitas Indonesia.

Organisasi ini menghimpun akademisi, peneliti, pemilik, dan pemerhati manuskrip Nusantara dengan visi menelusuri, meneliti, memelihara, melestarikan, dan memanfaatkan manuskrip Nusantara sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Dalam pertemuan tersebut, Manassa menyampaikan sejumlah usulan program strategis yang dapat dikolaborasikan dengan Kementerian Kebudayaan.
Salah satunya adalah pengembangan sertifikasi kompetensi pernaskahan untuk menjawab kebutuhan daerah akan tenaga filolog dan tenaga teknis yang memiliki standar kompetensi dalam penanganan manuskrip.
Sertifikasi ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pemajuan kebudayaan, termasuk dalam kegiatan Tim Ahli Cagar Budaya di daerah.
Menteri Kebudayaan menyampaikan dukungan terhadap berbagai program yang berkontribusi pada pelestarian manuskrip Nusantara. Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai skema program, termasuk Dana Indonesiana yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas pernaskahan di berbagai daerah.
Selanjutnya Menbud juga menekankan pentingnya pembangunan basis data manuskrip yang kuat sebagai dasar bagi pelindungan dan pemanfaatan manuskrip Nusantara.
Menurutnya, ketersediaan data digital akan mempermudah pengembangan pemanfaatan manuskrip bagi kepentingan literasi dan pengembangan pengetahuan kebudayaan.
Menteri Fadli memperkirakan terdapat sekitar 150 ribu manuskrip di Indonesia yang sebagian besar masih memerlukan inventarisasi dan pelestarian.
Banyak manuskrip yang menurutnya masih tersimpan di masyarakat dengan kondisi yang relatif baik karena dirawat secara tradisional, namun terdapat ancaman kerusakan akibat hama, manuskrip juga menghadapi risiko bencana alam.
“Diperlukan upaya penyelamatan manuskrip yang lebih sistematis dan berkelanjutan melalui kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat,” ungkap Menbud. ***



