Lukisan Abstrak: Kepekaan Batin Manusia Tetap Lebih Penting di Era AI - Mabur.co

Lukisan Abstrak: Kepekaan Batin Manusia Tetap Lebih Penting di Era AI

Jakarta – Dunia seni lukis abstrak memiliki latar panjang. Banyak seniman yang tetap memilih di jalur ini.

Salah satunya adalah Dedih Nur Fajar yang memiliki latar profesi film dan fotografi. Dalam dunia film dan fotografi, dia terbiasa dengan bentuk dan obyek visual.

Lukisan abstrak yang dipamerkan. Sumber: Istimewa

Ini menjadi latar dia saat memilih lukisan abstrak.

“Saya menyebutnya imaji yang samar. Ini jadi keseimbangan bagi saya. Guratan lukisan tak mau dibentuk,” ujar Dedih.

Dia mengolah emosi dan menuangkannya dalam karya akrilik yang dia oplos media tertentu sehingga karya abstrak didominasi warna hitam dengan sapuan, guratan ekspresif.

Keempat lukisan yang berukuran 50 x 50 cm dan dihasilkan pada 2025 itu berjudul Katarsis Visual Takut Katarsis Visual Marah, Katarsis Visual Sedih dan Katarsis Visual Kecewa, memiliki kontur yang tebal.

Bedanya, Dedih membuat karya justru di saat dia berada dalam emosi yang sebaliknya.

“Katarsis Visual Sedih misalnya, saya buat justru dalam keadaan bahagia,” tambahnya.

Baginya, abstrak yang sangat psikologis justru merupakan reaksi, respons bahkan antitesis dari kondisi konvensional yang mapan termasuk di era digital ini.

“Kalau kita hidup hedon dan nyaman mungkin kita jauh untuk menghadirkan karya abstrak. Perlawanan dapat muncul dalam kehidupan dan fase kita sekarang yang kompleks ini,” ujar Dedih, Senin (6/4/2026).

Perupa lainnya, Guntur jongmerdeka menghadirkan dua karya dengan medium campuran dan keunikan bingkainya. Memasuki imaji semesta diresponsnya dengan kehadiran warna.

“Spektrum Semesta menggunakan sistem heksagon abstrak saling bertaut untuk melambangkan jaringan energi kompleks ciptaan Allah. Garis silver metalik di dasar kanvas jadi penyeimbang visual, simbol batas realitas dan imajinasi sejalan dengan ajaran Alquran tentang keseimbangan, keteraturan, dan harmoni semesta,” tambahnya.

Pelukis dan pengajar Institut Kesenian Jakarta, Dick Syahril, yang didaulat ikut membuka acara di pameran ini melihat bahwa abstrak tetap akan dinamis mencari bentuk dan perannya bahkan di masa digital saat ini.

“Hingga saat ini di tengah perkembangan pasar seni rupa, kebutuhan masyarakat global tetap dibutuhkan. Namun seni rupa abstrak tak hanya itu. Terus merespons kondisi zaman di masa digital,” paparnya.

Respons Global

Pameran Rupa Abstrak yang bertajuk Segala Garis Ruang Imajiner yang Terbuka Tegak Lurus dengan Rasa digelar di RasaHarsa Coffee Shop & Eatery Jl. Sunan Sedayu No.15 Rawamangun Jakarta ini dikuratori oleh Saut Mangihut Marpaung.

Pameran abstrak yang digelar sejak Minggu (5/4/2026) hingga 19 April 2026 ini sekaligus mempertemukan gagasan tentang seni yang tak lagi sekadar bentuk dan tak kasat mata.

Rasa para seniman adalah kepekaan batin yang terakumulasi dari pengalaman hidup, memori visual, luka, kegembiraan hingga perenungan eksistensial.

Dalam katalog kurasinya, Saut melihat bahwa para perupa menemukan pijakannya di awal abad ke-20 lewat Wassily Kandinsky, Piet Mondrian dan Kazimir Malevich.

Mengubah representasi obyek nyata menjadi bentuk paling esensial. Kandinsky memaknai warna dan garis sebagai resonansi spiritual, Mondrian mereduksi bentuk menjadi struktur geometris yang universal sementara Malevich menghadirkan supremasi rasa lewat bentuk paling sederhana membebaskan seni dari beban representatif.

Bagaimana pameran abstrak ini di tengah kondisi global dan digital saat ini?

Bagi Saut, ke depannya, abstrak akan bergerak melampaui batas konvensional. Ia akan memasuki ruang digital melalui kecerdasan buatan (AI), realitas virtual, dan metaverse, menjadi lebih interaktif dan imersif.

Namun semuanya tetap berakar pada yang tak tergantikan: rasa manusia. Kepekaan batin tetap akan menjaga seni tetap hidup dan bermakna.

Selain Dedih dan Guntur jongmerdeka, 23 pelukis turut berpameran yaitu Agam Akbar Pahala, Alexander Halpito, Anggi Heru, Danny Yuwanda, de Laurent, Ela Meilasari, Elvi Desiyanti, Fella Amelia, Irlandi Kartika, Johan Hutapea.

Ada juga Kak Johan Sayang Kalian, Nadila Restu Iswara, Oscar Stones. Philips Sambalao, Rizki Taufik Rahman, Rudz, Shamady Nura, Toya, Walid Syarthowi, Yogi Wistyo dan Zikril Gimbal.

Pameran diiniasi oleh Mozari – Motorakzart Society, sebuah komunitas para seniman lukis. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *