Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, mengunjungi Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto di Dusun Kemusuk, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kunjungan itu dilakukan sebagai bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat peran museum sebagai sarana pembelajaran sejarah sekaligus ruang pelestarian memori kolektif bangsa.
Keberadaan Museum Memorial Soeharto sendiri dinilai sangat strategis yakni sebagai ruang edukasi publik yang mampu menghadirkan sejarah tentang sosok Presiden kedia RI secara lebih dekat dan kontekstual kepada masyarakat.
“Museum ini harus menjadi inspirasi, pusat belajar, edukasi tentang sejarah perjalanan dan perjuangan pak Harto yang luar biasa. Yang berjasa bagi bangsa dan negara. Apalagi saat ini beliau sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” ujar Menbud Fadli Zon.

Didampingi pengurus Museum Memorial Soeharto, Gatot Nugroho, Fadli Zon nampak berkeliling melihat berbagai koleksi museum yang dibangun di bekas rumah masa kecil Pak Harto tersebut. Termasuk melihat sumur tua di dalam kompleks museum yang pernah digunakan Pak Harto semasa kecil.
“Museum ini penting karena berada di Kemusuk, tempat beliau dilahirkan, sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung jejak kehidupan yang membentuk perjalanan seorang tokoh bangsa,” ujarnya dikutip Antara, Sabtu (6/6/2026).
Museum Memorial HM Soeharto sendiri diresmikan pada 8 Juni 2013 dan berulang tahun ke 13 pada Senin besok.
Selain menyimpan beragam koleksi, dokumentasi, hingga arsip visual, museum ini juga menyimpan benda pribadi, hingga diorama yang menggambarkan perjalanan hidup Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.

Dengan mengunjungi museum ini pengunjung dapat menelusuri kisah masa kecil Soeharto di Kemusuk, hingga perjalanan kariernya baik sebagai pejuang kemerdekaan, petinggi TNI, presiden, hingga akhir hayatnya.
Termasuk peran Soeharto sebagai Kepala Wehrkreise III pada masa Agresi Militer Belanda II hingga dokumentasi terkait Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Fadli, peristiwa tersebut memiliki arti strategis karena menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis dan terus melakukan perlawanan meskipun ibu kota diduduki serta sejumlah pemimpin nasional ditangkap oleh Belanda.
“Serangan Umum 1 Maret menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih ada. Bersama perjuangan gerilya dan keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, peristiwa ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak menyerah,” katanya.

Selain mengangkat kisah perjuangan kemerdekaan, museum juga memuat berbagai catatan sejarah nasional lainnya, termasuk dinamika politik pada masa penumpasan G30S/PKI serta sejumlah fase penting perjalanan bangsa pada era berikutnya.
Bagi Fadli Zon, keberadaan museum tokoh bangsa tidak hanya berfungsi menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar yang mampu membantu generasi muda memahami perjalanan sejarah Indonesia melalui sosok-sosok yang memiliki kontribusi besar bagi negara.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan terus mendorong revitalisasi dan penguatan museum-museum yang berkaitan dengan tokoh nasional agar semakin relevan, menarik, dan mampu menjangkau masyarakat luas.

