Mabur.co – Dunia seni tradisi Yogyakarta kembali berduka, Sumisih Yuningsih, atau yang biasa disapa Yu Beruk (76) meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026). Ia meninggal akibat infeksi paru-paru.
Yu Beruk dikenal sebagai seniman serba bisa, yang kerap malang-melintang di berbagai acara seni pertunjukan.
Ia telah menjalani karier di dunia seni budaya sejak usia remaja, ketika bermain dalam pertunjukan ketoprak tobong.
Sebagai seniman, Yu Beruk memiliki gaya bicara “ngegas” dan karakter jenaka, yang kerap ia bawakan di program Obrolan Angkring di TVRI.
Selain berperan sebagai aktris panggung, Yu Beruk atau “Mbokdhe Beruk” juga ikut merambah ke beberapa bidang lain, seperti monolog, iklan layanan masyarakat, hingga layar lebar. Serta tak ketinggalan, ia juga memiliki kemampuan di bidang tata rias pengantin (Make Up Artist – MUA).
Hingga akhir hayatnya, Yu Beruk tetap mendedikasikan seluruh hidupnya pada dunia seni tradisi.
Sebagai seorang seniman legendaris, tentunya jasa-jasa Yu Beruk patut menjadi teladan yang baik bagi para penerusnya, termasuk hingga saat ini.
Segala perjuangannya sejak puluhan tahun lalu, telah menjadi fondasi yang sangat baik, untuk bisa diwariskan kepada anak-cucunya.
Berikut adalah beberapa poin yang bisa diteruskan dari perjalanan Yu Beruk di bidang seni budaya, sebagaimana dikutip dari laman Kompas.
1. Menjaga Karakter Humor yang Cerdas
Yu Beruk dikenal dengan gaya lawakannya yang spontan dan khas, namun tetap memiliki penjiwaan karakter yang kuat. Sebagai generasi muda, karakter tersebut jelas bisa menjadi contoh yang baik, agar penampilan di atas panggung tidak hanya menghibur, tapi juga mampu menyelipkan kritik sosial atau pesan moral secara halus, tanpa merendahkan atau menyinggung pihak-pihak yang dikritik.
Seperti yang belakangan ini kerap dialami oleh Pandji Pragiwaksono dan komika-komika lainnya.
2. Digitalisasi dan Adaptasi Konten
Meskipun sudah jadul (jaman dulu), seni tradisi tetap mampu mengikuti arus perkembangan zaman, salah satunya dengan melakukan transformasi format pementasan di atas panggung.
Dengan memanfaatkan platform-platform konten seperti YouTube dan Instagram, seni pementasan atau teater tetap bisa diperkenalkan secara luas kepada masyarakat, termasuk generasi muda.
3. Regenerasi dan Edukasi
Tantangan terbesar yang dihadapi seni tradisi atau pementasan saat ini adalah minimnya minat anak-anak muda untuk melestarikannya, karena dianggap usang, old school, dan seterusnya. Namun pada dasarnya, melakukan regenerasi kepada anak-anak muda tetap bisa dilakukan, asalkan melalui pendekatan yang berbeda dan lebih kekinian.
Misalnya dengan melibatkan aktor muda bersama para senior dalam setiap pementasan, sebagai bentuk transfer ilmu. Bisa juga diadakan pelatihan-pelatihan di tingkat desa atau sekolah, untuk setidaknya memperkenalkan seni ketoprak atau teater secara umum.
4. Inovasi Pementasan
Pementasan seni tradisional juga bisa dilakukan dengan sentuhan modern, tanpa menghilangkan esensi utamanya. Hal ini bisa dilakukan dengan penggunaan teknologi panggung, atau kolaborasi antar genre seni, untuk dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
***
Meskipun telah berpulang, segala jasa dan kontribusi Yu Beruk akan tetap selalu abadi, bagi perkembangan dunia seni tradisi di Indonesia. (*)



