Jika Anda melihat gamelan tentu akan berpikir tentang tangga nada. Pemahaman ini mengacu akan irama.
Sesederhana apa pun alat musik yang Anda kenal, pasti yang membuat penasaran adalah tangga nada. Karena aspek musikal yang Anda dengar berasal dari tangga nada yang diciptakan.
Dilansir dari Instagram dinaskebudayaankotajogja, dijelaskan bahwa soal tangga nada atau titi laras dalam gamelan pun mempunyai sistem atau aturan tersendiri.
Disebutkan misalnya, titi laras dalam gamelan adalah sistem laras atau tangga nada yang menjadi dasar susunan bunyi dalam musik gamelan Jawa dan Bali.
Sederhananya, titi laras mengatur tinggi dan rendahnya nada yang membentuk melodi gamelan.
Lebih jauh dijelaskan bahwa kata titi berarti nada atau notasi. Sedangkan kata laras adalah sistem penyeteman atau tangga nada.
Jadi, secara singkat dapat dipahami bahwa titi laras adalah penataan nada dalam satu sistem laras tertentu.
Dijelaskan pula bahwa dalam gamelan Jawa, terdapat dua laras utama. Yang pertama adalah laras slendro.
Laras ini memiliki lima nada pokok: satu, dua, tiga, lima, dan enam. Jarak nadanya terasa seimbang, menghadirkan suasana tenang, mengalir, luwes, dan syahdu.
Beberapa gending slendro antara lain Ladrang Wilujeng dan Ketawang Puspawarna.
Sedangkan yang kedua adalah laras pelog. Laras pelog memiliki tujuh nada, namun biasanya hanya lima yang digunakan. Karakter suaranya lebih terbuka, ramah, alami, dan membumi.
Contohnya dapat kita dengar pada Ladrang Pangkur dan Gugur Gunung.
Itulah titi laras gamelan, sebuah sistem nada yang menjaga harmoni, rasa, dan jiwa dalam musik tradisi Nusantara.
Oleh sebab itu, jika mendengar irama gamelan Jawa, orang Jawa akan selalu berkata, “Nglaras tenan.” ***



