Menteri Kebudayaan Dorong Pelestarian Aksara Nusantara melalui Ekosistem Digital Global

3 Min Read
Five people on a stage clapping at the ICANN 87 Annual General Meeting welcome reception, with a bright screen displaying event text behind them and one person holding a plaque in the center.
Gala Dinner Pertemuan Umum Tahunan ke-87 Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) yang berlangsung di Nusa Dua, Badung, Bali. Foto: Kemenkebud

Mabur.co – Tradisi lisan dan sistem tulisan tradisional merupakan kekayaan Nusantara yang harus dilestarikan melalui ruang digital global.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia dalam acara Gala Dinner Pertemuan Umum Tahunan ke-87 Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN87) yang berlangsung di Nusa Dua, Badung, Bali (19/10/2026).

Penyelenggaraan ICANN87 ini merupakan momentum bersejarah sebagai pertemuan publik ICANN pertama yang diadakan di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional Indonesia dan Hari Internasional Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Peluncuran Nama Domain

Menteri Kebudayaan juga secara resmi menyambut peluncuran Nama Domain Internasional atau Internationalized Domain Names (IDN) berbasis aksara Nusantara, yakni aksara Bali, Jawa, dan Pegon.

“Kemajuan teknologi harus merangkul pemajuan kebudayaan. Seiring dengan peresmian peluncuran Nama Domain Internasional untuk aksara Nusantara, kita mengambil langkah penting menuju terwujudnya visi agar warisan budaya tetap menjadi bagian yang hidup dari masa depan digital kita,” tegas Menteri Kebudayaan.

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan mega cultural diversity yang dihuni sekitar 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, serta belasan sistem tulisan tradisional (Aksara Nusantara).

Aksara-aksara seperti Bali, Jawa, Sunda, Batak, Lontara, hingga Pegon bukan sekadar karakter visual, melainkan identitas, tempat penyimpanan ilmu pengetahuan, dan penghubung peradaban antargenerasi.

Menbud Fadli turut menjelaskan bahwa digitalisasi bahasa merupakan langkah konkret untuk melestarikan salah satu unsur budaya yang hampir punah.

7000 Bahasa Dunia

UNESCO mencatat dari 7000 bahasa dunia, baru sekitar 1000 bahasa yang terwakili secara daring.

Menghadapi tantangan era digital tersebut, Kementerian Kebudayaan mendorong integrasi penuh aksara tradisional ke dalam infrastruktur internet global agar keberadaannya tidak menyusut.

“Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Kebudayaan harus tetap hidup, relevan, dan secara aktif digunakan oleh masyarakat, termasuk di dunia digital.

Pengakuan teknis terhadap aksara kita melalui Nama Domain Internasional adalah bukti nyata bahwa teknologi bisa menjadi instrumen ampuh melestarikan warisan budaya,” lanjut Menteri Kebudayaan.

Menteri Kebudayaan juga memberikan apresiasi tinggi kepada Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) atas riset dan kerja kerasnya membawa aksara Bali, Jawa, dan Pegon ke ekosistem internet global, serta upaya berkelanjutan untuk aksara Sunda, Batak, dan Bugis.

Meminimalisir Kepunahan Bahasa dan Aksara

Selain itu, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menggarisbawahi empat pilar langkah strategis yang dapat dilakukan untuk meminimalisir kepunahan bahasa dan aksara.

Guna memastikan hal tersebut berdampak nyata pada kehidupan masyarakat, Menbud Fadli menyebutkan sejumlah langkah konkret yang dapat diambil, yakni melalui dokumentasi dan penelitian budaya, pendidikan dan partisipasi publik, aksesibilitas dan interoperabilitas teknologi, serta sinergi lintas sektor.

Menbud menuturkan, “Pengakuan teknis terhadap aksara kita merupakan tonggak penting. Namun, ambisi kita yang lebih besar adalah memastikan bahwa tradisi penulisan ini dapat dipelajari, diakses, dan digunakan secara aktif oleh masyarakat. Hal ini memerlukan kerja sama berkelanjutan dalam beberapa bidang, seperti perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan para pemangku pengetahuan tradisional.” ***

TAGGED:
Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar